Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
27. Malas bertemu Anton


__ADS_3

Kemungkinan sudah sekitar satu jam sejak Gibran kembali dari kamar Moli. Akan tetapi, Moli belum juga muncul menemui Anton.


“Apa Moli masih di kamar?” tanya Mareta sambil membawa dua cangkir berisi teh hangat. Ini sudah dua jam jika di hitung dari sejak Anton datang kemari, tapi kenapa baru sekarang Mareta membuatkan minuman? Entahlah.


“Coba, mama panggil Moli! Ini udah satu jam tapi Moli belum juga muncul.”


Mareta terlihat mencibir, sekedar melangkahkan kaki saja malas. Tapi, karena tak tega melihat Anton, Mareta pun menuruti perintah suaminya.


Belum sempat sampai di pertengahan tangga, Moli sudah terlihat. Mareta langsung melempar senyum, setidaknya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus kesedihan Moli. Moli pun turun berjalan beriringan dengan Mamanya.


“Maaf lama.” Singkat dan langsung duduk tanpa memberi sapaan kepada Anton.


Anton tersenyum getir. Bagaimana raut wajah Moli saat ini, Anton tahu, itu pasti karena tidak suka dengan kehadiran dirinya. Karena sudah membawa kata cinta, Anton akan mencoba bersabar. Begitulah pikir Anton.


“Nggak papa... udah di temenin om Gibran juga.”


“Kalau udah di temenin kenapa harus manggil gue segala?”


“Moli!” hardik Gibran seketika itu juga. Sungguh itu terdengar kalimat yang membuat Gibran merasa malu.


“Kok jadi bentak aku sih! Aku kan jawab apa adanya, pa...” Moli melengos. Mareta yang duduk di samping Moli sebenarnya ingin bertepuk tangan. Baru kali ini melihat adu mulut yang sangat menarik.


“Udah nggak papa kok, Om...” Anton menengahi.


“Tuh! Anton aja nggak keberatan... kenapa papa musti sewot.”


Geram-geram yang di rasakan Gibran saat ini. Kalau saja tidak ada Anton, kemungkinan Moli sudah di cap merah oleh telapak tangan Gibran di bagian pipinya.


“Anton mau mengajak kamu pergi jalan hari ini,” ucap Gibran usai menghela napas.


“Hari ini aku kan kerja, pa... dan Anton juga kerja kan? Atau emang nggak punya kerjaan?” ujung bibir Moli sudah terangkat tanda mencibir.


“Moli, cukup! Jaga bicara kamu!” hardik Gibran.


“Pa... aku bicara baik-baik kok.” Menoleh ke arah Gibran. “Tidak ada yang salah kan?”


Jantung Gibran rasanya sudah mulai terasa panas, napasnya pun rasanya sesak. Bukan karena riwayat penyakit, melainkan karena sudah sangat geram dengan sikap Moli.


“Sudah cepatlah! Kasihan nak Anton udah nunggu lama.”


“Salah sendiri...” gumam Moli.


“Apa, Mol?” Gibran mendelik tajam.


“Nggak papa...” kedua pundaknya terangkat. “Memangnya aku ngomong apa, Pa?”


Moli beranjak. “Tunggu bentar! Gue ambil tas sama ponsel gue dulu.”


Anton membalas dengan anggukan. Sambil menunggu Moli mengambil tasnya, Anton meraih cangkir berisi teh yang sudah mulai dingin. Menyeruput pelan, membasahi tenggorokannya yang terasa mengering karena kebanyakan menelan salivanya sendiri. Itu karena sedikit tegang mengamati cara bicara Moli yang berhasil membuat hati was-was.


“Yuk!” ucap Moli sambil terus melenggang pergi tanpa berpamitan terlebih dulu.


“Aku permisi dulu, Om... tante.” Anton bergantian mencium punggung telapak tangan mereka.

__ADS_1


Moli sudah berada di dalam mobil Anton. Duduk di jok depan dengan dua benda kecil yang sudah menyumbat di telinganya. Mau mengajak jalan silahkan, tapi jangan mengajak bicara. Dan benar saja, ketika Anton sudah ikut masuk, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya sesekali Anton melirik Mona yang terlihat bergumam menirukan suara nyanyian dari dalam ponselnya.


Mereka sampai di tempat tujuan. Begitu masuk ke dalam kafe, Moli langsung pamit pergi ke toilet. Bukan karena kebelet atau apa, hanya sekedar merasa gerah dan ingin menjauh.


“Hidup gue gini amat... menyedihkan!” celoteh Moli sambil memandang wajahnya sendiri dari pantulan cermin, lalu memasukkan headset ke dalam tasnya.


“Bagaimanapun caranya... pokoknya gue nggak mau nikah sama Anton! Gue juga punya hak buat milih pasangan gue sendiri.”


Moli menghela napas, jemari kanannya memutar kran air, punggungnya membungkuk lalu menengadahkah kedua tangannya di kucuran air yang mengalir. Setelah penuh, Moli meraupkan perlahan hingga seluruh wajahnya basah.


Setelah mengelap dengan sapu tangannya, Moli berdiri tegak, mengatur napasnya lalu keluar menemui Anton kembali.


Berjarak sekitar sepuluh meter dari posisi Anton duduk, Moli seketika menghentikan langkah kakinya. Kedua bola matanya menangkap sosok seseorang yang sangat tidak asing. Dia terlihat sedang duduk berbincang dengan Anton. Mendadak saja, tiba-tiba kaki Moli terasa berat untuk di gerakkan. Bagaimana dua orang yang telah membuat perasaannya berantakkan bisa duduk bersamaan disana? Kalau bisa, Moli rasanya ingin berteriak sekencang mungkin untuk menyalahkan keadaan saat ini.


“Dimana calonnya? Gue penasaran...” ucap Dika dengan nada menggoda. “Pasti cantik.”


“Iya dong... kalau nggak cantik, gue mana mau.”


“Ck! Jadi tuh orang mau sama gue karena cantik doang. Bangke!” gerutu Moli ketika langkahnya sudah mulai mendekat.


“Itu dia....” Anton menunjuk seseorang yang sedang berjalan mendekat. Sontak Dika langsung menoleh dan seketika itu juga Anton di buat terkejut.


“Moli?” ucap Anton begitu matanya bertatapan dengan Moli. Sudah mengetahui sejak tadi, Moli hanya melempar senyum palsu dan tanpa menjawab, Moli langsung duduk di kursi kosong di samping Anton.


“Kalian saling kenal?” tanya Anton penasaran.


“I...iya.” Karena melihat reaksi Moli yang sepertinya tak suka bertemu dengan dirinya, Dika pun hanya bisa menjawab singkat dan terbata-bata.


“Jadi kamu kenal sama Diki, Mol?”


Anton sebenarnya merasa heran, kenapa Moli begitu cuek dengan Diki. harusnya kalau mereka berteman, keduanya saat ini pasti sudah saling sapa atau berbicara. Akan tetapi ini tidak. Moli terlihat cuek sementara Diki terlihat gugup seperti menahan sesuatu. Ada apa di antara mereka berdua? Anton mulai penasaran.


Saat ini ketiganya langsung membisu, sunyi, hanya terdengar suara celotehan dari meja sebelah. Kalau Moli memang rasanya malas untuk berbicara, untuk kedua pria yang ada di hadapannya itu, mungkin sudah bingung dan tak menemukan topik apa yang harus di bicarakan. Pusatnya ada pada Moli, tapi justru Moli sangat acuh dan terbilang masa bodo.


“Aku pesan minuman dulu.” Anton memecah keheningan. Setelah menatap mereka berdua bergantian, Anton berdiri menuju ke belakang untuk memesan minuman.


“Sebenarnya ada apa di antara mereka berdua?” gumam Anton begitu sudah menjauh beberapa langkah.


“Hai Mol!” ucap Diki. “Aku seneng kita bisa ketemu lagi...”


“Gue nggak”


Diki langsung tersenyum getir. Ia tahu sampai detik ini, sepertinya Moli masih memendam amarah pada dirinya. Apa yang terjadi di masa lalu memanglah sangat keterlaluan. Diki sudah menyadari akan hal itu.


“Oh iya Mol... kamu apa kabar?”


“Baik.”


Tak jauh dari mereka, sambil menunggu minumannya siap, Anton masih berdiri di sana mengamati dua orang yang sudah terlihat mulai berbincang. Matanya sangat jeli menatap, tapi sayangnya, Anton sama sekali tak bisa mendengar obrolan mereka.


“Aku udah lama nyariin kamu, Mol...” raut wajahnya berubah sendu. Jemarinya sudah saling terikat di atas meja.


“Ngapain nyariin gue? Kita nggak ada urusan!” jawab Moli sinis.

__ADS_1


Apa mencari mau merusak hubungannya lagi? Kalau bersama Anton, silahkan. Moli mendukung, toh Moli tidak suka dengan perjodohan ini. Tapi, apa tujuan Diki menemui Moli karena itu? Bukan.


“Maaf lama...” Belum selesai obrolan Diki, Anton sudah datang membawa tiga gelas minuman dingin.


“Santai aja.” Jawab Diki. Sementara Moli tetap acuh. “Aku pamit dulu ya... masih banyak kerjaan.” Dika sudah berdiri. Setelah mendapat anggukan dari Anton, Diki pun pergi.


Anton sudah duduk kembali, meletakkan ketiga gelas di atas meja. “Aku bawakan minuman, Diki malah pergi.”


“Bagus deh.”


Anton semakin di buat penasaran. Di lihat dari ekspresi Moli, sudah sangat jelas kalau Moli sangat tidak suka dengan Dika. Kenapa, Anton akan bertanya saat ini juga.


“Kalian udah kenal lama?”


“Ya.” Menjawab singkat sambil menyedot minumannya.


“Kelihatannya kamu nggak suka ya sama Diki? Kenapa? Apa ada masalah?”


“Bukan urusan elo.”


Anton nyengir. Sepertinya Moli memang susah di ajak bicara, tapi Anton tidak menyerah. Ia lanjutkan lagi rasa penasarannya supaya cepat terjawab.


“Maaf... aku cuma pengen tahu aja.”


“Yakin elo pengen tahu?” Moli menatap tajam ke arah Anton. Anton pun sedikit terhenyak karena mendapat tatap membunuh milik Moli.


“Ya. Tentu saja.” Anton duduk tertegak lagi. “Aku penasaran... apa mungkin kalian pernah menjalin hubungan?”


Moli mendesah cepat dengan bibir terbuka. Kedua ujung bibirnya tertarik seperti membuat lekukan senyum. “Memang... memang pernah ada hubungan.” Menyedot lagi minumannya.


“Jadi kalian pernah pacaran?”


“Iya. Dan elo tahu apa?” menatap Anton lagi sambil menepuk meja. “Diki itu nggak jauh beda sama elo...”


“Aku?” pekik Anton.


“Iya, elo. Kalian itu sama-sama perusak perasaan orang. Asal elo tahu ya... gue itu benci banget sama elo. Karena apa? Elo itu mapan, punya tampang, tapi kok mau-maunya dijodohin... kaya nggak punya harga diri aja.”


Degh!


Anton langsung bingung harus bereaksi bagaimana. Ucapan yang di lontarkan Moli memang betul adanya.


“Elo udah tahu kalau gue nggak suka sama elo, tapi elo masih kekeh deketin gue. Dan gue tahu... elo deketin gue juga karena dukungan dari papa kan?” Moli tertawa. “Gue juga udah pernah bilang, kalau gue itu udah punya calon sendiri. Harusnya elo sadar diri! Jangan jadiin diri elo sendiri jadi ladang bisnis buat mereka berdua.”


“Mereka berdua? Maksudnya?”


Moli berdecak. “Elo itu bodoh atau apa sih? Perjodohan ini itu hanya untuk bisnis bokap elo sama bokap gue. Masa iya, elo nggak tahu hal itu.


Dwaar!!


Anton sontak mendaratkan tangan kirinya di depan dada. Memang benar, perjodohan ini karena bisnis. Kenapa Anton mau?


“Elo itu sebagai pria harus tegas dong! Udah jelas-jelas wanita yang dijodohin sama elo itu nggak suka sama elo, tapi elo masih ngotot mengejarnya... emangnya elo udah nggak laku ya? Di luar sana masih banyak wanita cantik yang mau sama elo.”

__ADS_1


Anton masih diam mendengarkan kalimat panjang yang di lontarkan Moli. Benar saja, di luar sana tentu banyak wanita cantik yang jauh lebih baik dari Moli. Dan kemungkinan bisa membalas cinta Anton tanpa adanya sebuah paksaan. Harusnya Anton sadar betul akan hal itu.


***


__ADS_2