Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
38. Dibohongi


__ADS_3

Suasana rumah semakin terlihat kacau. Gibran sudah tak lagi bisa menahan gejolak amarah di dadanya. Gibran tak menyangka, selama ini ia tertipu dengan kegagahan tampang Anton yang menurutnya begitu sempurna. Harusnya Gibran sadar, kesempurnaan hanya milik tuhan. Setidaknya dengan kesadaran itu, Gibran bisa lebih jeli lagi dalam mengenal Anton.


Bukan salahnya juga. Anton adalah anak dari sahabatnya, terlalu jahat jika Gibran sampai berpikiran bahwa Anton bisa berbuat demikian. Tunggu! Apa selama ini sikapnya dengan Moli itu tidak jahat? Jangan pikirkan Anton. Coba pikirkan bagaimana terlukanya hati Moli ketika papanya selalu membela Anton. Bahkan beberapa kali Mona mendapat lukisan tangan Gibran di pipinya.


Sudahlah! Ini sudah berakhir.


Seperginya Diki dan Lia, keluarga ini hanya bisa saling tatap dalam diam. Gibran, jangan tanya bagaimana raut wajahnya saat ini. Wajah beliau terlihat membeku keras, tapi wajahnya terasa panas. Terkadang ia melirik sendu ke arah Moli yang sedang duduk dalam rangkulan Mareta.


Kalau Mareta, ia sendiri hanya bisa mencibir suaminya dengan tatapan sengit dan kecewa. Kalau sudah begini, harus apa?


Setelah menyampaikan perihal penting pada keluarga ini, Diki dan Lia memang langsung pergi. Bukan langsung pergi sih, tapi, mereka berdua menyempatkan diri untuk minta maaf pada Moli. Setelah lega, karena Moli sudah tak mempermasalahkan semuanya, barulah mereka bangkit dan pergi.


“Lihat! Apa yang sudah papa lakuin sama Moli? Demi Anton, papa selalu menyakiti Moli. Lalu, apa semua ini? Ini kah yang di inginkan papa?” Mareta mulai memaki. Jemarinya tak lepas mengusap punggung Moli yang terasa masih bergetar.


Moli memang tidak menangis. Sebenarnya tidak bisa menangis. Mungkin saja, saat ini hatinya sedang bersorak hore karena telah batal menikah dengan Anton. Tidak salah, Moli memang patut bersyukur karena semua ini belum terlanjur.


Gibran tak berani menjawab. Walaupun menyesal, keberanian untuk meminta maaf pada Moli, tentulah menjadi hal berat. Rasa gengsi dan malu bercampur menjadi satu hingga akhirnya Gibran memilih untuk menyuruh bawahannya menelpon keluarga Anton untuk membatalkan acara pernikahan ini.


Moli sudah bisa mengusap dada lega. Tubuhnya sudah tak menegang, sayu matanya pun sudah terlihat mencerah lagi, walaupun mata sembabnya masih terlihat jelas, tapi, ukiran senyum di ujung bibirnya merubah segalanya.


Moli menatap Mareta lekat-lekat lalu mendaratkan kepalanya di atas pundak Mareta.


“Ia sayang, semuanya baik-baik aja.” Mareta mengusap ujung kepala Moli. Kini keduanya bisa merasakan kelegaan bersama.


“Kalau kamu mencintai bocah itu, papa nggak masalah. Tapi, buktikan dulu bagaimana dia akan membahagiakan kamu kelak. Mungkin saat itu papa baru bisa memberi restu.”


Deg! Empat bola mata secara bersamaan beralih memandang ke arah Gibran. Moli berkedip beberapa kali, menepuk pelan pipinya mencoba menyadarkan diri, apakah ini sebuah mimpi atau bukan.


Rasanya sakit. Tentu ini bukanlah sebuah mimpi.


Gibran yang hendak berdiri langsung dikejutkan dengan Moli yang tiba-tiba saja menghambur memeluknya dari belakang.


“Makasih, Pa.” Dengan erat kedua tangannya sudah melingkar di pinggang lebar milik Gibran. Pipi kirinya menempel erat di punggung bidang itu.


Rasanya hangat. Gibran sendiri bingung, kenapa ini sangat terasa nyaman. Apa lagi begitu pandangannya turun mengamati jemari Mona yang menaut di depan perutnya, rasa bersalah langsung muncul begitu saja.

__ADS_1


Tapi bukan Gibran jika ia langsung berbalik dan membalas pelukan Moli. Gibran orang yang keras. Moli tahu itu pastinya.


“Jangan senang dulu,” ucap Gibran. “Buktikan sama papa terlebih dulu, kalau bocah itu memang pentas untuk kamu.”


Moli mengangguk, senyumnya mengembang lebih lebar. “Makasih, Pa.”


Gibran berlalu. Kini hanya tinggal Moli dan Mareta yang saling tatap. Awalnya Moli diam, memainkan jemarinya kemudian berlari dan memeluk mamanya.


“Mama....” Moli melenguh dalam dekapan Mareta. “Moli seneng, Ma.”


“Iya sayang, mama tahu. Mama juga ikut seneng.” Mengusap lagi ujung kepala Mona.


Setelah mengecup kening mama, Moli melebarkan senyum, berkedip memohon sesuatu pada mamanya


“Iya, kamu boleh nemuin dia.”


Moli ingin menjerit girang, tapi, semua itu ia lakukan di dalam hati, di depan mamanya, Moli hanya jingkrak-jingkrak kemudian memeluk mamanya sekali lagi sebelum akhirnya pergi berlenggak penuh semangat.


Selama berlari, mata Moli tak lupa melambaikan tangan. Bukan melambai pada mamanya tapi, melambai pada beberapa dekorasi indah yang menempel di setiap dinding rumah utama. Apalagi ketika pandangannya melihat meja kotak di ujung sana, senyumnya semakin mengembang lalu memutar kepala dan berlalu lagi.


Tujuan utama Moli saat ini adalah ke rumah Fani. Moli tentu sangat merasa bersalah karena kemarin sempat membuat Fani menunggu sangat lama di depan rumahnya.


Sekitar setengah jam, Moli sudah sampai di halaman sebuah rumah yang lumayan mewah. Ini rumah Fani. Ya, kalau dia belum pindah. Moli lupa membawa ponsel, jadinya nggak bisa menelpon Fani terlebih dulu.


Untuk beberapa saat, Moli hanya mengamati rumah itu dengan saksama. Menyapu setiap area halaman dari balik pintu gerbang yang sedikit terbuka.


Moli mendorong pintu gerbang lebih lebar. Kaki kanannya sudah melangkah masuk. Rumah ini masih terlihat sepi. Jam berapa sekarang? Moli tak tahu. Saat ini tubuh jenjangnya sudah berdiri di depan pintu. Tangannya sudah terangkat siap mengetuk.


“Fani! Elo di rumah nggak?” teriak Moli lantang. Biarin aja, jika ini terlihat tidak sopan. Hatinya sedang senang. Its oke.


“Fan!” teriak Moli sekali lagi.


Masih belum ada jawaban. Moli bergeser. Membungkuk sedikit, menempelkan jidatnya pada kaca jendela. Matanya mengitari apapun yang ada di dalam. Sepi. Sepertinya tak ada orang. Moli mundur dengan mengerucutkan bibirnya.


“Moli?” seseorang menepuk pundaknya pelan. Dan yang di tepuk, sontak langsung terlonjak kaget.

__ADS_1


“Eh! Kodok!” begitu yang keluar dari mulut Moli, dan Moli sudah memutar badan sambil mendaratkan tangan di depan dada.


Fani tak bergeming, ia masih memandangi Moli dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Fani tahu, saat ini kemungkinan sudah sekitar jam 10 pagi. Okelah, kalau Moli memang baru bangun. Tapi keluar dengan jarak sejauh ini hanya dengan mengenakan baju tidur, itu nggak lucu kan?


Alhasil, Fani langsung terkekeh. Bibirnya yang nyengir tertutup telapak tangan. Tapi, gerakan pundaknya tak bisa di elakkan tentunya .


Moli mengerutkan dahi heran, matanya menyipit memandang ke arah Fani yang belum juga usai menatap dirinya.


“Kenapa sih!?” Moli menaikkan dagu. “Kok elo ketawa? Dan elo itu dari mana?”


Bukannya menjawab, Fani masih saja terkekeh. Satu tangannya sudah menjulur memasukkan kunci ke dalam lubang pintu. Moli hanya menaikkan ujung bibirnya lalu mengikuti langkah Fani masuk ke dalam rumah.


“Elo udah dari tadi?” Fani langsung melangkah menuju dapur, meletakkan beberapa kantung keresek berisi sayuran di samping washtafel.


Moli mengangguk. Tanpa di persilahkan, Moli sudah duduk di kursi ruang makan. Ia tak pernah sungkan. Dulu juga sering begitu. Ini rumah teman atau sahabatnya, selama wajar, ini masih di katakan sopan.


Begitu selesai membuka sayuran dan menaruhnya ke dalam baskom dengan air kran mengalir di atasnya, seketika itu Fani terperanjat. Dengan cepat Fani memutar kran hingga airnya berhenti mengalir. Fani memutar badan, mengabaikan sayuran begitu saja dalam rendaman.


Satu kursi sudah ditarik dan di duduki Fani. “Oh iya, gue sampai lupa....” Kedua tangannya sudah tertekuk bersila di atas meja. Pandangannya hanya satu, yaitu fokus menatap Moli.


“Bukannya hari ini, elo nikah ya? Kok elo bisa ada disini? Dan lihat! Elo masih pake piyama gitu.” Fani menyungging senyum ledekan.


“Dan jahatnya, elo sama sekali nggak ngundang gue.” Fani terlihat membuang muka.


Moli merapatkan dadanya pada tepian meja. “Heh, ****!” seloroh Moli sambil menepuk tangan Fani. Fani melotot dan langsung menarik mundur tangannya.


“Elo masih nggak ngerti juga, gimana perasaan gue? Buat apa gue ngundang elo? Pernikahan nggak di inginkan juga.”


Fani menatap Moli lagi. Fani bisa melihat, raut wajah Moli saat ini jauh dari kara marah ataupun jengkel. Kalau Moli tidak suka dengan pernikahan ini, lalu apa yang membuat wajah Moli sumringah?


“Elo nikahnya hari ini kan? Kemaren elo bilangnya gitu... sampai-sampai, elo lupa sama gue yang kelamaan nungguin elo di luar.”


“Ish!” Moli memukul tangan Fani lagi. “Kalau gue bisa nemuin elo, udah gue lakuin kali. Elo nggak tahu aja gimana ribetnya hari itu. Kalau gue udah nggak ada akhlak, mungkin udah gantung diri.”


Hari kemarin memang sulit, tapi semua udah berlalu. Moli saat ini bisa bernapas lega. Anton sudah menjauh. Itu sudah cukup.

__ADS_1


***


__ADS_2