
Pagi ini, sekitar pukul sembilan, Gibran dan Mareta berkunjung ke kediaman Jordi. Sebelum berangkat kesana, Gibran selaku direktur di perusahaan sudah meminta sekertarisnya untuk mengatur jadwalnya hari ini termasuk tugas untuk mengawasi Moli.
Kemarin malam, tentu Gibran bisa melihat sekilas ekspresi wajah Moli saat baru pulang ke rumah. Wajahnya yang terlihat di tekuk membuat Gibran menjadi penasaran dan ingin tahu.
“Sebaiknya kita percepat tunangannya, setidaknya itu bisa membuat ikatan untuk Moli.”
“Betul juga, dengan bertunangan mungkin Moli tidak akan bisa menghindar lagi, dan setelah itu kita bisa fokuskan untuk membahas soal pernikahan.”
“Aku setuju. Karena masalah perjodohan ini, aku jadi tidak fokus bekerja.”
“Kamu pikir cuma kamu yang begitu? Pekerjaan ku juga jadi berantakan karena ulah anak perempuanmu yang suka membangkang itu.”
“Kenapa jadi mama? Kamu kan Papanya.”
Pembicaraan yang awalnya baik-baik saja, kini berubah sedikit menegangkan. Mareta yang merasa tak terima dengan ucapan suaminya itu, langsung melengos sambil mendengus, kemudian memilih beralih pandangan pada ponselnya. Sementara Gibran yang di duduk di belakang kemudi hanya ikut diam tanpa ekspresi.
Kesunyian itu berlangsung hingga mobil mereka sampai di depan sebuah rumah mewah dengan pintu gerbang yang menjulang tinggi sebelum masuk ke area halaman.
Keduanya turun, mata mereka bertemu sekilas, kemudian saling beralih pandangan lagi.
Sebelumnya Gibran tentu sudah berbicara terlebih dulu dengan Jordi, bahwa dirinya akan datang. Kalau tidak, tentu saat ini Jordi sudah berada di kantor. Jordi kan pengusaha sukses, tentu saja kesehariannya hanya berada di perusahaan, begitu juga dengan Gibran. Sama-sama seorang pebisnis.
“Akhirnya, kalian datang,” Sambut Jordi ketika Gibran dan Mareta sudah masuk ke ruang tamu.
Jordi selaku tuan rumah, langsung mengulurkan tangan, meminta mereka untuk segera duduk.
“Bagaimana, apa yang akan kita bicarakan?” tanya Jordi.
“Aku mau membahas tentang kelanjutan perjodohan anak kita.” Jawab Gibran.
“Oke, aku setuju. Aku juga sudah tidak sabar ingin segera melihat mereka menikah.”
“Sama. Sebaiknya kita percepat saja tunangannya.”
“Apa perlu tunangan dulu? Kenapa tak menikahkan mereka langsung?”
Gibran terdiam, Ia menoleh pada Istrinya untuk meminta pendapat. Mungkin yang di katakan Gibran ada benarnya, untuk apa bertunangan kalau menikah langsung lebih baik.
“Apa menurut kamu, langsung kita nikahkan aja mereka berdua?” tanya Gibran sambil sedikit duduk membungkuk.
“Iya dong, lebih cepat lebih baik. Pertunangan hanya memperlambat.”
“Betul juga. Baiklah, kalau begitu kita langsungkan saja pernikahannya. Tentukan tanggalnya dan persiapkan acaranya.”
__ADS_1
“Oke.”
***
15.45 WIB
Sepulang dari kantor, Moli kembali mencari informasi tentang Yoga. Dalam benaknya, bagaimanapun caranya, Moli harus tahu apa penyebab Yoga bisa melupakan dirinya.
Kalau di pikir-pikir, semua ini terlalu mustahil, mengingat bagaimana dulu hubungan keduanya sangatlah mesra. Selama menjalin hubungan dengan Yoga, Moli tentu merasa sangat bahagia, begitu juga sebaliknya. Hanya saja, tiba-tiba keberadaan Yoga menghilang sebelum lima hari keberangkatan Moli ke luar negeri.
Saat keberangkatannya ke luar negeri, Moli masih kelas 12 SMA semester akhir, bahkan Moli terpaksa mengerjakan soal ujian ketika sudah pindah ke luar negeri.
Tepatnya Moli pergi ketika hubungan dengan Yoga berjalan hampir satu tahun. Klau saja bukan karena keegoisan orangtua Moli, mungkin sampai saat ini hubungan keduanya masih baik-baik saja. Tapi, apalah daya, nyatanya harus begini. Yoga justru melupakan Moli tanpa alasan yang jelas.
Mungkin ini keberuntungan untuk Moli, saat mobil berhenti di lampu merah, di sebelahnya ternyata ada seseorang yang sedang di carinya. Yoga, ya siapa lagi kalau bukan dia.
Dengan cepat, Moli langsung membuka jendela kaca mobilnya. Moli bergeser lalu sedikit menunduk supaya bisa melihat Yoga dengan lebih jelas.
“Yoga!” Panggil Moli. Sontak Yoga langsung menoleh, kepalanya miring dan sedikit turun ke bawah.
“Elo? Emmm...” Yoga memutar bola mata sambil mengingat-ingat nama wanita yang ada di dalam mobil itu.
“Kak Moli?” Sambung Yoga usai mengingat nama wanita itu.
“Nggak mau.”
Sepedanya sudah melaju lagi karena lampu sudah berwarna hijau. Sementara di dalam mobil, Moli hanya berdecak sambil memukul bulatan kemudi lalu melajukan mobilnya mengejar Yoga yang mulai menjauh.
“Kenapa sih, gue ketemu sama kakak itu terus?” Keluh Yoga sambil terus mengayuh sepedanya.
Tid, tid, tid!!
Moli menekan tombol klakson beberapa kali. Sontak Yoga yang terkejut mulai hilang kendali dan langsung memilih menepikan sepedanya.
“Apa lagi sih!” dengusnya kesal. Yoga menginjak standar sepedanya lalu berdiri tegak sambil menarik kedua selempang ranselnya. Matanya menyorot tajam, menunggu seseorang keluar dari dalam mobil warna silver yang hampir saja membuatnya terjungkir.
“Mau lo apa sih!” Gertak Yoga dengan nada tinggi, dagunya saja terangkat seolah merasa tidak suka.
“Banyak!” jawab Moli singkat.
“Sini lo. Masuk, cepet!” pinta Moli sambil menarik lengan Yoga.
“Apaan sih! Main tarik-tarik.” Yoga mengibaskan lengannya lalu mundur, tapi gagal karena Moli kembali meraih lengan Yoga.
__ADS_1
“Gue cuma mau bicara sama elo.”
“Bicara apa? Kita itu nggak saling kenal, buat apa bicara?”
“Masuk aja dulu, kita ngobrol di dalam mobil gue.” Pintu mobil sebelah kiri sudah terbuka lebar. “Gue mohon...” matanya terlihat sendu.
“Ya, oke, gue masuk.” Yoga mengangkat kedua tangannya lalu dengan terpaksa akhirnya masuk kedalam mobil.
Dengan gerak cepat, Moli langsung memutar badan mengitari mobilnya hingga sampai di pintu sebelah kanan. Moli sudah masuk. Menoleh sekejap ke arah Yoga, kemudian menatap lurus ke depan sambil menarik napas lalu berhembus pelan.
“Oke kita mulai pembicaraan ini.”
“Ya udah, silahkan.” Yoga menjawab dengan nada acuh.
“Elo beberan nggak inget siapa gue?” Moli bertanya pelan sambil meletakkan telapak tangannya di depan dada.
“Maksudnya?”
“Ya elo beneran nggak tahu siapa gue?”
“Ya nggak lah. Baru juga ketemu beberapa hari yang lalu.” Jawab Yoga dengan melipat kedua tangan di depan dada. Pandangannya lurus ke depan.
“Elo yakin?” Moli sedikit bergeser mendekat ke arah Yoga.
“Tentu saja. Emang elo tahu siapa gue?”
Deg! Sebuah pertanyaan yang sepertinya membuka celah untuk Moli. Mungkin saja dengan memberi jawaban, Yoga akan kembali mengingatnya. mudah-mudahan saja.
“Jelas tahu dong...” Kali ini Mona menjawab sambil menjulingkan mata. Barang kali dengan begitu akan membuat Yoga penasaran.
“Oh ya? tahu tentang apa?”
Dan benar saja, ekspresi Yoga menandakan bahwa Ia sedang merasa penasaran dan ingin tahu.
“Gue tahu, kalau elo itu Yoga. Yoga Pramana.”
Bukannya terkejut, Yoga justru tertawa hingga suaranya memenuhi dalam mobil. Tawa Yoga masih terdengar hingga berakhir dengan kata ‘Aduh' sambil mengusap perutnya yang datar.
“Lihat ini.” Yoga menunjuk name tag di baju seragam osisnya, tepatnya di depan saku di sebelah dada kiri.
Yoga Pramana.
***
__ADS_1