Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Enambelas


__ADS_3

Setelah Diki mengilang dari hadapannya, Moli tersungkur dengan teriakan kencang keluar dari mulutnya. Badannya gemetar, tangisannya semakin membanjiri wajah cantiknya yang kini sembab lembab seperti tanah yang longsor.


“Kak Moli...”


Yoga jongkok dan memeluk erat tubuh Moli yang masih tersungkur di tanah. “Maafin Yoga ya...”


Sepertinya banyak hal yang belum Doni ketahui tentang Yoga akhir akhir ini. Yoga hutang penjelasan pada Doni yang sedari tadi sebenarnya masih kebingungan dengan apa yang barusan terjadi.


“Yuk gue anterin pulang...”


Yoga memegang pundak Moli membantunya untuk berdiri. Hatinya serasa teriris ketika melihat gadis yang di cintainya sedang terluka. Ia tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi padanya. Tangan itu masih melingkar di pinggang Yoga, dan kini air matanya pun sudah mulai terhenti.


“Ya udah gue balik duluan... lo hati hati...” kata Doni sebelum pergi terlebih dahulu.


“Gue langsung anterin pulang atau mau kemana dulu?” Yoga menatap Moli yang masih memeluknya.


“Pulang aja...”


Sesampainya di rumah Diki seperti seorang yang sedang kesurupan. Ia mengamuk di kamarnya, hingga beberapa barang miliknya terlempar jatuh berserakan di atas lantai. Matanya membulat dengan tangan mengepal menonjok tembok hingga membiru. “Awas aja lo Ga... nggak akan gue biarin lo deket Moli lagi.”


Ia terus mengomel di dalam kamarnya. Amarahnya begitu memuncak. Ia tak terima jika kekasihnya harus mengenal orang yang bernama Yoga. Seorang Adik tirinya yang sampai sekarang belum dia anggapnya saudara.


“Diki... kamu di dalam nak...”


Suara dari balik pintu menghentikan amukannya. “Mama masuk ya...”


Santi ternganga melihat kamar Diki yang begitu berantakan. Ia menggelengkan kepala kemudian melewati barang berserakan itu mendekati Diki yang berdiri menghadap ke luar jendela.


“Kamu kenapa sayang? Ada masalah...”


Mendengar suara lirih santi justru mengingatkan nya pada Yoga. Tanpa berbalik Diki dengan lantangnya memarahi mamanya.


“Mama nggak usah ikut campur! Mending urusin anak Mama yang kurang ajar itu!”


Tatapan benci tergambar dari wajahnya ketika melihat Santi. Sebelumnya Diki tak pernah seperti ini. Jika Diki marah dengan Yoga, Ia tak pernah menyangkut pautkan dengan Santi. Tapi ini lain dengan hari hari sebelumnya.


Suasana ruangan itu jadi terlihat mencekam. Santi dengan perlahan menghampiri Diki yang masih duduk di atas kasur dengan kaki menjuntai ke bawah. Hembusan angin dari luar menerobos membuat ruangan itu terlihat menegangkan. “Kamu lagi ada masalah? Cerita sama mama sini...”


Diki meremas sepreinya hingga karetnya terlepas dari sudut kasur. Wajahnya memerah, seperti dua tahun yang lalu ketika Cintanya di tolak oleh Lia. Amarahnya meninggi ketika Lia lebih memilih lelaki brengsek yang ujung ujungnya ninggalin dia. Semua peristiwa ini mengingatkan nya akan masa lalunya yang sudah lama Ia lupakan.


“Tolong mama keluar aja... aku nggak mau mama ikut campur...”


Diki menatap wajah prihatin Santi yang berdiri dengan satu tangan memegang pundak Diki. Ia tak mau amarahnya terlampiaskan pada Mamanya yang tidak tahu apa apa. Rasa terlalu sayang membuatnya tak tega untuk mengikut sertakan Santi dalam masalah ini.

__ADS_1


“Oke Mama keluar...” kecupan lembut mendarat di dahi Diki.


Diki terdiam tanpa berpaling. Sebenarnya salah! Kenapa santi harus kena amarahnya tadi? Beliau tak tahu apa apa. Oh kejam! Diki berguling menelungkupkan dirinya bersembunyi pada selimut tebal berwarna coklat.


“Kak Moli nggak papa kan? Maafin Yoga tadi...”


Yoga memarkirkan motornya di halaman rumah mewah itu. Melepas helm kemudian memapah pundak Moli yang masih lemas untuk berjalan.


Moli tersenyum dengan ketulusan Yoga. “Gue bisa sendiri Ga... gue bukan nenek nenek...”


Mereka terkekeh berusaha melepas apa yang terjadi sebelumnya. Masalah sepele sebenarnya, namun makin melebar ketika emosi Diki meluap hanya karena kesalah pahamannya.


Ketika cemburu menimpa terkadang hal konyol bisa terjadi tanpa lihat kondisi.


“Masuk dulu ya Ga...” Moli menarik tangan Yoga. Mereka langsung menuju lantai dua di mana kamar Moli berada.


Tak ada percakapan selama beberapa menit. Yoga sibuk sendiri dengan ponselnya membuka pesan chat dari Doni yang terus menanyakan hal hal yang sebetulnya malas untuk di jelaskan. Moli sendiri sedang menyisir rambutnya yang sedikit awut awutan karena pertempuran tadi di depan meja rias. Mata nya terkadang melirik bayangan Yoga dari balik cermin, yang sedang meringis mengusap luka di hidung dan bibirnya yang terasa perih.


“Sini gue obatin...” Moli menarik kursi busa kotak yang sebelumnya ia pakai untuk duduk di depan cermin ke hadapan Yoga. “Sakit??”


Moli mengusap lembut dengan telapak tangannya. Kedua mata itu saling bertemu, saling memandang berusaha mengutarakan isi hati masing masing. Yoga memegang pipi kanan Moli yang masih terdiam dengan tangan yang tak henti mengusap luka di hidungnya.


“Kak Moli...”


Lengannya di tarik hingga terduduk kembali oleh Yoga ketika hendak mengambil peralatan P3K lemari sudut kamarnya. “Kak Moli baik baik aja kan?”


Rasa khawatirnya pada gadis itu memang berlebih. Mungkin karena sudah terlanjur sayang atau mungkin karena gadis itu adalah cinta dan ciuman pertamanya.


“Gue baik baik aja kok... oh ya lo itu kenal sama Diki?”


Deg! Yoga menelan ludah. Pertanyaan yang di khawatirkan akhirnya di dengar juga. Yoga menunduk dengan kedua tangan menyatu sedikit tegang.


“Kok diem sih...”


Yoga mengambil nafas, bibirnya mulai ancang ancang menyiapkan penjelasan atas pertanyaan itu. “Gue jelasin tapi harus janji nggak bakal marah...”


“Janji?” Moli sedikit membuka mulutnya.


“Kenapa harus marah?”


“Ya pokoknya janji nggak bakal marah...”


“Iya iya... janji!”

__ADS_1


Moli mengangkat jari kelingkingnya tepat di depan wajah Yoga. Yoga tersenyum dengan desahan lirih karena kelegaan dari ucapan Moli.


“Sebenarnya Diki itu kakak tiri gue...”


Mata cantik itu membulat dengan mulut terbuka lebar. Mereka berdua saudaraan? Kok bisa? Moli masih belum percaya dengan perkataan Yoga. “Serius? Nggak bohong Lo...”


Yoga menggeleng, menandakan ucapannya memang benar adanya. Sebelumnya Dia kira tak akan perlu menjelaskan semua ini padanya, akan tetapi semakin kesini Moli juga perlu tahu antara hubungan Yoga dan Diki.


Raut wajah Moli mulai berubah, wajahnya kini terlihat datar. Tapi Ia sudah janji pada Yoga untuk tak marah padanya jika Yoga sudah menjelaskan ada apa di antara Yoga dan Diki.


“Kok kamu nggak pernah cerita?” tanya Moli yang langsung berdiri dan berpindah duduk di atas ranjang dengan bersendehan bantal.


Yoga berbalik. “Karena gue pikir nggak perlu di jelaskan... nggak penting.” Yoga tertunduk hingga membuat Moli di rundung berbagai pertanyaan yang perlu Ia lontarkan padanya tentang apa semua ini.


Moli merangkak dan duduk di samping Yoga di pinggir ranjang. Ia menatap bocah itu yang masih tertunduk dalam diam. Sepertinya ada beberapa hal yang Ia pendam selama ini. Apa itu? Moli nggak tahu.


“Gue juga perlu tahu Ga... lo kan tahu Diki itu pacar gue...” Moli mengusap punggung tangan Yoga yang mengepal. “Terus sejak kapan lo tahu hubungan antara gue dan Diki?”


“Waktu Diki jemput kak Moli ke rumah...”


Moli mendesah, lalu memutar pundak Yoga menghadap dirinya. Yoga masih tertunduk ketakutan seperti seorang bocah yang berbuat salah pada Ibunya. Ia belum berani menatap Mata Moli yang melihatnya tertunduk itu. Badan boleh tinggi, Tapi umur tidaklah bisa menipu. Yoga masih belum dewasa. Terkadang ada saatnya Ia merajuk ketakutan karena perbuatannya yang mengecewakan orang terdekatnya.


“Udah nggak usah nunduk gitu... gue nggak marah kok...” Moli memegang kedua pipi


Yoga mengangkat wajahnya menghadap dirinya. Mereka lebih terlihat seperti seorang ibu dan anaknya yang sedang saling menghibur.


Sebenarnya Yoga juga tahu, Moli tak akan marah pada dirinya. Hanya saja Ia benci saat harus menjelaskan hubungan antara dirinya dan Diki. Terkadang Yoga juga cemburu melihat Mamanya yang begitu perhatian pada Diki. Itu sebabnya Ia lebih memilih diam ketika mengetahui Moli ternyata adalah kekasih Diki.


Itu semua terasa menyakitkan baginya. Haruskah orang yang di sayang dimiliki orang yang Ia benci? Papa tirinya memang baik, tapi Ia tak pernah mendapatkan perhatian layaknya Diki mendapat perhatian Mamanya. Is Not Fair!


“Gue tahu kok kak Moli nggak bakal marah...”


“Terus... kenapa mukanya datar gitu?”


“Nggak papa... Cuma pengen di peluk aja...”


Yoga nyengir dan langsung menghambur memeluk Moli hingga terjengkang di atas kasur. Mungkin ini satu cara supaya Yoga tak perlu menjelaskan lebih banyak lagi tentang dirinya.


“Wooo.... dasar genit!” Moli mengacak rambut Yoga yang masih menindih dirinya, kemudian mendorongnya terbaring di samping Moli. Tak ada rasa sungkan atau hal aneh dalam pikirannya. Moli hanya suka dengan tingkah manja Yoga pada dirinya. Mereka saling berhadapan dalam posisi miring. Matanya beradu dengan senyum tersungging dari bibir masing masing.


“Kak Moli mandi gih... bau asem!”


“Dasar! Resek.”

__ADS_1


****


__ADS_2