
Mereka berdua sudah berpindah tempat. Keduanya memilih mengobrol di sebuah kantin di belakang gedung rumah sakit. Sebelum makanan datang, keduanya hanya saling pandang dan melempar senyum. Untuk sesaat mungkin Moli masih bingung, bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
Lima menit kemudian, pesanan mereka pun datang.
“Kamu makan dulu... pasti kamu belum sarapan kan?” Santi menyodorkan sepiring gado-gado yang komplit dengan lontong dan kerupuk.
“Iya, tante... makasih.” Moli meraih piring yang di sodorkan Santi.
Setelah tiga suap masuk kedalam perutnya, Moli meraih gelas berisi teh hangat. Meneguknya perlahan, kemudian mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
“Tante...” panggil Moli. Sendok dan garpu yang sebelumnya di pegang, ia letakkan sebentar di atas piring.
Pandangan Santi saat ini sudah mengarah tepat ke wajah Moli. Masih terlihat di dalam mulutnya ada makanan yang belum berhasil Santi telan. Masih proses mengunyah.
“Ada apa, sayang?” saur Santi begitu makanan sudah merosot ke dalam perutnya.
“Sebelumnya Moli minta maaf...” Moli menunduk sebentar, menghela napas lalu menghadap ke arah Santi lagi. “Tapi Moli sangat penasaran, tante. Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”
Santi menelan salivanya. Memang ini yang akan terjadi jika Moli berhasil menemuinya. Santi tahu betul bagaimana hubungan mereka dulu. Mereka adalah pasangan muda-mudi yang terlihat romantis dan selalu berpacaran dengan sewajarnya. Mungkin saja, sampai saat ini Moli masih mencintai Yoga. Itu pikir Santi.
“Sebelumnya, tante mau tanya dulu sama kamu?” wajah Santi begitu serius hingga Mona sedikit tegang.
“Tanya apa, tante?”
“Apa kamu sudah menikah?”
Spontan bibir Moli langsung terbuka lebar. Mulutnya ternganga dengan mata membulat sempurna.
“Aku belum nikah...” Moli tertawa kecil. “Aku bahkan belum kepikiran sampai ke jenjang itu.”
“Benarkah?”
“Iya.” Moli mengangguk. “Tunggu! Kenapa tante menanyakan hal itu?” Moli bertanya balik.
“Karena hal itulah yang membuat Yoga seperti ini.” Jawab Santi dengan raut wajah pias dan lesu.
Moli tidak paham. Tentu saja, jawaban itu hanya setengah. “Maksud tante, apa? Aku nggak ngerti...”
Inilah waktunya Meri untuk menceritakan semuanya pada Moli. Biar bagaimanapun, entah itu Yoga maupun Moli, keduanya sama-sama berhak tahu dengan apa yang terjadi satu tahun silam.
Moli sudah memandang serius raut wajah Santi. Terus mengamati gerak bibirnya yang sepertinya hendak mulai berbicara.
__ADS_1
“Yoga mengalami kecelakaan...”
“Apa!” Pekik Moli sambil menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. “Yoga kecelakaan?”
“Iya... Yoga mengalami kecelakaan setelah di tinggal kamu beberapa bulan. Awalnya tante pikir semuanya baik-baik saja... karena setelah kecelakaan, keadaan Yoga langsung membaik. Bahkan Yoga hanya di rawat dua hari di rumah sakit. Kata dokter benturan di kepalanya tidak terlalu berat...”
Moli masih menatap wajah Santi. Bukan hanya sekedar penasaran, tapi sebenarnya Moli begitu syok ketika mendengar Yoga mengalami kecelakaan.
Bibir Santi mulai bergerak lagi. “Awalnya memang baik-baik aja, sampai suatu ketika... tiba-tiba Yoga berteriak sangat kencang. Yoga berteriak setelah melihat foto Yudha, yaitu papa Diki...”
“Papa Diki?” Moli mengerutkan dahi.
“Ya. Setelah berteriak kencang, tiba-tiba Yoga langsung pingsan... sementara foto yang di pegangnya terjatuh ke lantai hingga piguranya pecah.”
“Memangnya kenapa? Kenapa Yoga berteriak? Dan hubungannya dengan papa Diki apa?” Moli terlihat bingung.
“Ceritanya panjang... nanti kamu akan tahu. Tante hanya akan ceritakan tentang kalian berdua.”
“Baiklah, tante. Jelaskan pada ku, supaya aku segera tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.”
“... dan setelah lima hari dari kejadian teriakan itu, Yoga kembali beraktivitas seperti biasanya... bahkan Yoga udah mulai sekolah lagi... tapi, hari ke enam teriakan kencang itu kembali terdengar. Bukan karena papanya Diki lagi... melainkan karena kamu.”
“Aku?” Moli menepuk dadanya sendiri. “Kenapa aku?”
Santi menghentikan ucapannya. Air mata yang sedari tadi ia tahan sudah meluap membasahi kedua pipinya. Santi benar-benar menangis. Mengingat kejadian itu sungguh membuat hati Santi kembali teriris. Semua itu adalah kejadian paling berat yang mereka berdua alami selain pernah merasa kehilangan karena sosok pria pelindung mereka, yaitu suami pertama Santi atau ayah Yoga.
Moli jadi merasa bersalah ketika melihat Santi terus terisak. Tak ada yang bisa di lakukan Moli kecuali berpindah posisi duduk di sampingnya, lalu memegang erat jemari Santi.
“Aku minta maaf, tante... bukan maksud aku...”
“Bukan salah kamu...” sela Santi. “Kamu juga berhak tahu.” Santi memandang sendu wajah Moli.
“Kita lanjutkan nanti... aku antar tante ke ka kamar Yoga lagi.” Moli meraih kedua pundak Santi. Mengajaknya berdiri dan pergi dari tempat itu. Selain karena banyak nya pengunjung, Moli juga tak tega melihat Santi yang masih terus menangis.
“Maafin aku tante... aku nggak bermaksud.” Moli masih berjalan sambil merangkul pundak Santi.
“Bukan salah kamu...”
Sebelum masuk ke ruangan Yoga lagi, Santi berdiri sebentar di depan pintu. Mengusap bersih air matanya supaya tak terlihat oleh seorang gadis yang sedang menemani Yoga di dalam sana. Setelah menghela napas, Santi pun masuk bersama dengan Moli.
Mendengar pintu terbuka, yang ada di dalam sana sontak menoleh ke arah mereka berdua. Sarah yang masih belum tahu siapa yang tengah menggandeng lengan Santi, hanya melihatnya sekilas lalu beralih memandang ke arah lain.
__ADS_1
“Yoga sudah sadar, tante...” ucap lirih bibir mungil Sarah.
Mendengar itu, Santi dan Moli sontak mendekat.
“Yoga, kamu udah bangun, sayang...” Santi membungkuk sambil mengusap lembut ujung kepala Yoga.
Yoga tersenyum. “Iya, Ma... mama dari mana aja? Aku udah bangun dari tadi lho...”
“Mama...” Santi tak melanjutkan kalimatnya, ia hanya menoleh ke arah Moli yang berdiri di sampingnya dengan wajah gugup dan gelisah.
Yoga langsung mengikuti arah kemana Santi memandang. Diam sejenak hingga bola mata mereka saling bertemu. Kalau boleh, ingin rasanya Moli memeluk erat tubuh Yoga yang masih terbaring lemah itu. Tapi, apa reaksi Yoga nanti?
“Ka...kak Moli...”
Deg!
Moli langsung tergugah begitu mendengar panggilan lirih dari mulut Yoga. Itu seperti panggilan Yoga yang dulu. Panggilan si bocah manja yang selalu menggodanya.
Santi menggeser tubuh Moli supaya lebih dekat lagi dengan Yoga.
“Duduk, Sayang...” pinta Santi. Moli pun duduk di tepi ranjang menghadap ke arah Yoga.
“Ini beneran kak Moli?” ucap Yoga lagi. “Ma... ini beneran kak Moli kan?” Yoga menoleh pada Santi.
“Iya, sayang...”
Moli sudah tak tahu lagi harus berbuat apa, ini Yoga memang sudah mengingatnya atau belum, Moli masih belum tahu. Hanya saja, begitu mendengar Yoga memanggil namanya, mata Moli seketika berubah menjadi badai. Air matanya turun begitu derasnya, bahkan Moli sudah terisak. Terisak dengan posisi duduknya yang tegap tanpa bergerak, hanya bola matanya yang masih tetap memandangi wajah Yoga.
Moli tak tahu harus bersikap seperti apa. Apa harus berteriak, memeluk, atau bahkan memukul Yoga. Moli hanya bisa menangis tanpa bisa bergerak.
“Ma!” Yoga meraih tangan Santi. “Ini kak Moli kan, Ma?” Yoga sendiri masih kebingungan. Tangannya ingin sekali meraih tubuh milik wanita cantik ini, tetapi Yoga takut bahwa semua ini hanyalah ilusi.
“Ini gue, Ga...” masih terisak. “Ini gue, Moli. Gue Moli, Ga...”
Sudah tak bisa di tahan lagi, akhirnya Moli menghambur memeluk tubuh lemas milik Yoga.
Sebuah pelukan hangat yang dirindukan keduanya. Pelukan itu masih berlanjut cukup lama, bahkan Moli sudah mendaratkan kepalanya di dada milik Yoga.
Di belakang mereka, mungkin ada satu gadis yang akan tersakiti. Sudah menyadari hal itu, Santi langsung meraih tangan Sarah dan menggenggamnya erat. Ini sebuah kekuatan yang di berikan Santi untuknya.
***
__ADS_1
Up 3 eps. 🙏🙏
jangan lupa tinggalkan vote,like dan komentar kalian. 😆😆 maksa banget! 😂😂