
Yeee!!! akhirnya up lagi 😁😁😁. maaf lama🙏🙏🙏
Ini sudah menjelang malam, lebih tepatnya pukul enam sore. Suasana rumah mewah ini masih terlihat seperti biasanya, yaitu sepi seperti tak ada penghuni. Sekali terlihat penghuninya, rumah ini justru akan terlihat seperti sebuah tempat persidangan yang penuh dengan perdebatan.
Mareta yang baru selesai mandi, di lanjutkan dengan berganti pakaian. Setelah itu usai, Mareta memilih keluar kamar meninggalkan suaminya yang sedang menatap layar laptop.
Di luar tampak sepi. Memang begitu kan? Tadi juga sudah di jelaskan. Haduh!
Mareta menyapu ke sekitar ruang tamu, lalu berjalan hingga masuk ke ruang makan. Disana hanya ada simbok. Memangnya ada siapa lagi?
Simbok terlihat sedang menyiapkan makan malam. Mareta pun akhirnya duduk di kursi, meraih buah apel di dalam keranjang oval.
“Moli belum turun, Mbok?” tanya Mareta usai menggigit buah apel.
“Belum, Nya. Mungkin masih tidur.”
“Inikan belum malam, masa udah tidur sih?” Mareta menggigit buah apelnya lagi. “Coba tolong panggilkan Moli, mbok!”
“Baik, Nya.” Simbok mengangguk dan langsung naik ke atas, ke lantai dua menuju kamar Moli.
Makanan sudah siap di meja sebelum simbok naik ke lantai dua. Terlihat saat ini Mareta sedang menata piring untuk makan malam. Gibran pun sudah datang. Raut wajahnya tak jauh berbeda setelah tadi terjadi perdebatan di dalam kamar. Masih pias dan sedikit ada ekspresi marah wajahnya.
Mareta yang melihat suaminya mendekat, hanya diam, acuh tanpa menyapa. Begitu juga dengan Gibran, ia langsung duduk di kursi lain di depan Mareta yang terbatasi meja makan.
Simbok turun. Sontak Mareta langsung menoleh. “Mana Moli, mbok?”
Simbok terlihat gelisah, jemarinya sudah saling remas. “Anu Nya... non Moli...” ucapannya terhenti.
“Anu apa?”
“Palingan juga udah ngorok.” Seloroh Gibran tiba-tiba.
“Non Moli... nggak ada di kamar, Nya.” Jelas Simbok sambil setengah mencondongkan tubuhnya.
“Nggak di kamar?” Mareta berkerut dahi. “Mungkin di kamar mandi...”
“Nggak ada, Nya. Simbok udah nyari keseluruh ruangan kamar.”
Mareta langsung melirik ke arah suaminya yang ternyata sudah asik menyantap makan malam. Sepertinya Gibran sama sekali tak peduli. Sementara simbok yang melihat suasana mulai menegang, memilih pergi ke ruang belakang.
“Papa! Kenapa papa diam aja? Moli nggak ada, Pa!” teriak Mareta yang sudah berdiri.
Gibran mendesah berat, kemudian meletakkan sendok dan garpu dengan keras di atas meja. Gibran ikut berdiri. Sorot matanya begitu membara seakan ingin membakar seseorang yang sekarang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Itulah anak kamu.” Gibran menuding tepat di depan wajah Mareta. “Kalau di bilangin orangtua malah kabur... kita tunggu aja, nanti juga pulang.” Jawab Gibran enteng.
“Tapi, Pa...”
“Sudahlah! Aku mau makan.” Gibran duduk kembali menikmati makan malamnya.
Santi masih berdiri, Ia sedikit heran dengan suaminya, kenapa bisa sesantai itu? Terlihat tadi Gibran begitu marah ketika pagi harinya Moli pergi tanpa berpamitan, tapi ini malah Gibran biasa aja dan sangat cuek. Ada apa sebenarnya?
Sementara di rumah Yoga, terdengar ada keributan. Seseorang dengan postur tubuh tinggi berkulit coklat, tiba-tiba datang masuk ke rumah mereka tanpa permisi.
“Dimana kalian sembunyikan Non Moli?!” tanya Pria itu dengan nada membentak. Santi dan Yoga yang sedang makan malam pun terlihat terkejut. Kursi sudah bergeser, dan keduanya sontak bangkit dari duduknya.
“Maaf... kalian siapa ya?” tanya Yoga penasaran.
“Katakan saja dimana nona Moli!”
“Katakan dulu, kalian siapa? Kami tidak mau memberitahukan ke sembarang orang.” Imbuh Santi.
“Banyak cincong! Katakan dimana nona Moli!” ucap pria itu lagi, masih dengan nada membentak.
Seseorang di dalam kamar sudah terbangun, menggeliat lalu bola matanya perlahan membuka. Moli celingukan, tangan kanannya menekan keningnya yang terasa sakit. Rasanya sangat pusing. Moli menyingkirkan selimut yang masih menutupi kedua kakinya. Perlahan mulai bergeser turun dari ranjang.
Moli sudah duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah. “Gue dimana?” ucap Moli. “... ini baju siapa?” Moli melirik ke bawah, mengamati piyama yang melekat rapat di tubuhnya.
“Yoga? tante Santi? Dan itu...” Moli menutup mulutnya. “Bawahan papa!” pekik Moli.
Menyadari Moli sudah bangun, Yoga langsung menghambur menghampirinya, bahkan Yoga sempat menyerempet tubuh tegap orang yang menghalangi jalannya.
“Kak Moli... udah bangun??” Yoga meraih kedua pundak Moli. Menatapnya penuh rasa syukur.
“Jadi... gue ada di rumah elo?” Moli memegang kepalanya lagi. “Kok bisa?”
“Nanti gue jelasin... yang penting kak Moli udah sadar, itu yang terbaik.”
“Non Moli,” panggil pria itu, melangkah menghampiri Moli.
“Ngapain elo kesini!” Bentak Moli. Tangannya menggenggam erat lengan Yoga. Itu tandanya Moli tak mau di dekati pria itu.
“Ini perintah Tuan Gibran. Saya di suruh menjemput non Moli.” Jelas pria itu.
“Nggak mau! Gue nggak mau pulang!” genggaman di lengan Yoga semakin erat. Melihat reaksi Moli yang ketakutan pun Yoga langsung mendekap pundak Moli.
“Biarin kak Moli disini dulu... besok saya yang antar ke rumah.” Pinta Yoga.
__ADS_1
“Iya tuan...” sambung Santi. “Biarkan Moli istirahat disini dulu... ini udah malam.”
“Tidak bisa! Non Moli harus pulang. Ini perintah!” Pria itu menarik lengan Moli dari dekapan Yoga.
“Ih! Gue nggak mau... lepasin!!” Moli berontak, bahkan tangan kirinya meraih ujung baju Yoga untuk pertahanan.
“Ayo non, kita pulang. Ini perintah papa E-non...” kali ini pria itu berhasil menyeret Moli.
“Hei!” teriak Yoga. “Jangan kasar!” Yoga menarik Moli kembali, memeluknya dengan erat.
“Gue nggak mau pulang... hiks!” Moli sudah menangis.
Melihat Moli menangis, Yoga kembali memohon pada pria itu. “Saya mohon, Tuan. Biarkan saya yang antar kak Moli besok.”
Pria itu diam sejenak, seperti sedang menimang sesuatu.
“Tunggu sebentar...” pria itu merogoh saku celananya. Terlihat ponsel hitam berhasil ia ambil dari dalam sana.
Moli masih menangis dalam dekapan Yoga. Sementara Santi yang merasa prihatin, hanya bisa mengusap lembut ujung kepala Moli.
“Gue nggak mau pulang...” celoteh Moli.
“Halo tuan...”
“Ya. Bagaimana? Dimana Moli?”
“Masih disini, tuan. Non Moli tidak mau pulang... dia tetap mau disini.”
Di seberang sana, terlihat si penerima telpon sudah sangat geram. “Kalau tidak mau... seret aja sekalian! Yang penting, Moli keluar dari rumah itu.”
Tut!
Telpon di matikan sepihak. Pria itu mendengus lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Saat ini, Bola matanya menatap tajam bergantian pada ke tiga orang yang berdiri tak jauh dari hadapannya.
“Ayo non, kita pulang!” Menyeret lengan Moli lagi.
“Nggak mau!” Moli mengibaskan tangannya, tapi gagal.
“Ayo non!” Pria itu berhasil menyeret Moli paksa.
Yoga hendak mendekat, meraih tubuh Moli lagi, tapi langsung urung begitu pria itu berucap, akan menyakiti Moli jika masih kekek ikut campur.
“Silahkan kalau mau bawa kak Moli, tapi tolong jangan kasar!" ucapan terakhir Yoga, sebelum Moli di bawa pergi pria itu.
__ADS_1
***