
“Elo masih bisa nunjukin jalan kan?” Moli menoleh sekilas lalu lurus lagi menghadap ke arah jalanan.
“Bisa. Lurus aja, nanti ada perempatan, belok kiri. Rumah gue di situ.”
“Oke.”
Moli semakin yakin, bahwa memang ada sesuatu yang terjadi dengan Yoga. Buktinya Ia bisa mengingat semua orang yang Moli kenal, tapi Yoga justru tak mengenali Moli. Itu kan sangat aneh, apalagi ketika tiba-tiba kepalanya terasa pusing, hal itu memperkuat dugaan Moli bahwa Yoga bermasalah dengan ingatannya.
“Yang mana?” Moli menepikan mobil ketika sudah masuk beberapa meter ke sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk lewat 1 mobil saja.
“Yang itu...” Yoga menunjuk ke rumah sederhana di deretan sebelah kiri. “Rumah dengan cat biru.”
“Oke.” Moli melajukan mobilnya lagi hingga sekarang berhenti tepat di halaman rumah Yoga.
Yoga sudah turun, lalu disusul Moli yang juga ikut turun. Moli menutup pintu perlahan, setelah itu, bola matanya langsung memutar memandangi ke sekeliling.
Rumah ini sangat sederhana, bentuk bangunannya jauh dari model bentuk rumah jaman sekarang, halaman rumah pun sepertinya hanya seluas dua meteran saja.
Moli masih ternganga sambil terus mengikuti langkah Yoga. Moli terlihat bingung, kedua alisnya juga sudah berkerut tadi. Rasanya tak percaya. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Rumah ini jauh dari rumah yang di tinggali Yoga saat bersama Diki. Sangat jauh.
“Ayo masuk dulu.” Yoga membuka pintu, berdiri di pinggir ambang pintu sambil mempersilahkan Moli untuk singgah.
“I...iya...” Moli mengangguk ragu dan akhirnya kedua kakinya berjalan bergantian hingga sampai di dalam.
Moli kembali mengamati rumah ini. Dan seketika matanya kembali menyapu seluruh sudut ruangan. Ia semakin bingung, benarkah ini rumah Yoga? Dan dengan siapa dia tinggal disini? Apa dengan Diki juga? Moli bertanya-tanya dalam hati.
“Duduk dulu.”
“Iya.”
“Kamu sudah pulang, Ga?”
Suara lembut itu mengurungkan niat Moli untuk duduk.
Moli berdiri tegak lagi lalu memutar badan mencari dimana arah suara itu berasal.
“Iya, ma. Ini baru pulang.” Jawab Yoga sambil menaruh tasnya di meja.
Kedua bola mata Moli dan Santi saat ini terlihat beradu pandang, nampak majalah yang di pegang oleh Santi seketika terlepas dari genggamannya. Santi terlihat kebingungan, dan tanpa di sadari kedua tangannya kini telah menutup mulutnya yang terbuka.
Tangan itu saat ini perlahan mulai merosot beralih menapak menyentuh dadanya yang berdegup hebat. Majalah yang tergeletak di lantai sudah tak Santi pedulikan. Saat ini Santi hanya menatap semakin jeli pada wajah cantik wanita yang berdiri tak jauh darinya. Santi mengenalnya, tentu saja.
__ADS_1
“Tante...” Lirih dan ragu. Moli mendekat lalu menjabat tangan Santi.
“I...iya...” Ucap Santi terbata-bata.
Yoga yang masih terlihat berdiri disana hanya bisa mengerutkan dahi. Sepertinya dua wanita itu berhasil membuatnya sedikit merasa bingung.
“Apa kabar, tante sehat?”
“Se...sehat, kamu gimana? Sehat?”
“Sehat, tante.”
“Kalian saling kenal?” Yoga menatap mereka bergantian sambil menjulurkan jari telunjuk.
Tak ada jawaban dari mereka. Keduanya hanya tersenyum yang menunjukkan bahwa keduanya salah tingkah. Ah, bukan salah tingkah mungkin, tapi perasaan khawatir di masing-masing hati mereka.
“Aku tinggal dulu, kalian ngobrol aja. Sepertinya kalian terlihat akrab.”
Deg!
Santi sudah nampak bingung. Bertemu dengan Moli kembali adalah kebahagiaan yang luar biasa, akan tetapi, itu juga mungkin akan menjadi sebuah bencana.
Untuk menghilangkan kecanggungan, Santi akhirnya mempersilahkan Moli untuk duduk di sofa. Sementara Yoga, sudah pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
“Kamu Moli kan?” Tanya Santi dengan tubuh mencondong.
Moli mengangguk. “Iya tante, ini aku, Moli.” Jawabnya dengan mantap.
“Bagaimana kalian bertemu?” Santi bertanya dengan suara lirih. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja Santi tak ingin Yoga mendengar pembicaraan ini.
Moli memejamkan mata sebentar, setelahnya terdengar desahan halus dari bibir tipisnya.
“Kita nggak sengaja ketemu, tante...” Moli menatap Santi. “Mobil yang aku naiki nggak sengaja nabrak Yoga tadi pagi, bahkan celananya sampai sobek.” Moli meringis di akhir kata.
Apa iya? Karena terlalu terkejut, aku sampai tak memperhatikan Yoga tadi.
“Apa Yoga mengenali kamu?”
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin Mona lontarkan telah terdengar di telinganya. Kenapa Santi bisa bertanya seperti itu? Sungguh tanda tanya besar. Moli semakin di buat penasaran.
“Tidak.” Jawab Moli lesu. Kalau mengingat debatnya dengan Yoga tadi, rasanya Moli ingin sekali berteriak kemudian menampar keras pipi Yoga, dan lalu setelahnya meminta sebuah penjelasan atas apa yang sebenarnya telah terjadi.
__ADS_1
Sudah Santi duga, Yoga tak mungkin mengenal Moli lagi. Selama kurang lebih 8 bulan usai kejadian yang membuatnya trauma dan stres, Yoga telah melupakan sosok wanita yang di cintainya. Ia melupakan segala hal tentang Moli, entah itu saat bahagia atau bersedih, Yoga sama sekali tak bisa mengingatnya. Memori tentang Moli sepertinya sudah terformat dari otak Yoga. Semuanya lenyap.
“Tante...” Moli pindah duduk di samping Santi. Sekarang dua tangannya sudah menggenggam telapak tangan Santi.
“Sebenarnya apa yang terjadi sama Yoga? Kenapa dia lupa sama aku?” Tatapan Moli sudah berubah sendu. Kebahagiaan karena telah bertemu Yoga sirna begitu saja dan berganti dengan kekecewaan karena ternyata Yoga telah melupakannya.
Santi tak bisa menjawab. Bibirnya terasa kelu dan begitu sulit untuk di gerakkan. Apalagi setelah memandang wajah Moli yang begitu sendu, Santi jadi semakin merasa tak enak hati.
“Tante...” Moli menyentuh punggung telapak tangan Santi yang bertumpuk di atas paha. Mengguncangnya pelan, berharap Santi segera memberi penjelasan.
Santi akhirnya mendongak, berkedip lalu tersenyum pada Moli. “Maaf sayang...” jemarinya mengusap lembut pipi Moli yang entah sejak kapan sudah basah. “Tante belum bisa menjelaskan apa yang terjadi, ini masih terlalu sulit untuk kami.”
Moli mengusap air matanya. “Sulit? Kenapa sulit?”
“Maaf sayang...” Santi memindah pandangan ke arah lain. Menarik nafas cepat dengan bola mata mengarah ke atas untuk menahan sesuatu yang hampir keluar dari balik matanya.
“Tante...”
“Kalian lagi ngapain? Serius banget kayaknya.” Yoga datang sebelum Moli melanjutkan kalimatnya.
“Eh, kakak, e... siapa namanya ya? Elo belum mau pulang?” seloroh Yoga saat sudah duduk di sofa.
“Yoga!” Santi mendelik tajam. Lupa boleh, tapi dengan berkata seperti itu namanya kan sangat tidak sopan.
“Apa sih ma! Dia kan orang asing, jadi nggak baik lama-lama disini.” Sambung Yoga lagi.
Bukankah Moli merasa sakit? Tentu iya. Ucapan Yoga kembali membuat hatinya terasa ngilu. Dimana Yoga yang manis, Yoga yang imut, Yoga yang selalu bermanja dan Yoga yang selalu senang berada si dekat Moli? Ini sungguh terlihat seperti bukan Yoga. Sifatnya berubah 180°.
“Baiklah, gue pulang.” Moli berdiri. Bola matanya sempat melirik sengit ke arah Yoga.
“Tante, Aku pulang.” Mencium punggung telapak tangan Santi.
“Hati-hati sayang, dan maaf untuk semuanya.”
“Maaf untuk apa?” Timbruk Yoga.
“Bukan urusan Elo! Dan ingat, elo akan menyesal mengacuhkan gue setelah elo tahu siapa gue.”
Moli sudah pergi dengan sebuah kekecewaan. Untuk saat ini Moli memang belum mengetahui apa-apa, tapi esok atau mungkin lusa, Moli pasti mendapat sebuah jawaban.
“Gue akan buat elo mengingat gue lagi!” Geram Moli sambil memukul kemudi. “Berharap bertemu tapi elo lupa sama gue, sialan! Nggak akan gue biarin berlanjut terus seperti ini.”
__ADS_1
***