
Di dalam kelas Diki terlihat diam. Ia sudah terlihat tak mengganggu Moli lagi. Diki mencoba bersikap biasa seolah olah tak terjadi apa apa kemarin. Sementara Moli dan kedua sahabatnya juga memilih acuh dan tak peduli pada Diki. Mia yang sempat melirik kursi di belakang Diki yang masih terlihat kosong. Masa skors sudah berakhir namun Lia belum juga muncul di dalam kelas hingga pelajaran pun sudah di mulai.
“Mol, si Lia kemana? Nggak masuk Dia.” bisik Mia.
“Mana gue tahu, coba lo tanya sama Diki kalau penasaran.”
“Ck! Bangke lo! Masa iya gue tanya sama Diki. kurang kerjaan banget.”
“Nah tuh tahu, ya udah diem.”
“Dasar menyebalkan!”
Lagian buat apa menanyakan Lia. Sukur deh kalau Dia nggak sekolah, setidaknya bisa bikin suasanya sekolah jadi cerah kembali. Biarpun hubungannya dengan Diki sudah berakhir tapi dengan kepergian Lia mungkin juga bisa menjadi salah satu semangatnya untuk masuk sekolah. Iya kan? Moli tersenyum.
“Si Lia kemana ya, kok dia nggak masuk?” tanya Fani sepulang sekolah. Mereka bertiga masih nongkrong di belakang gedung sekolah, duduk di atas rumput di bawah pohon beringin besar. Mia yang tadi sudah sempat menanyakan hal itu melengos tertuju pada ponsel miliknya.
“Kok nggak ada yang jawab sih?”
“Kalau pengen tahu, coba tanya sama Diki , gitu kata Moli.” Sembur Mia menunjuk Moli menggunakan bibirnya.
“Ya kali gue nanya gituan sama Diki, gila kali gue. kurang kerjaan banget.”
“Eh tapi gue penasaran juga, kenapa si Lia nggak masuk.” Tiba tiba Moli tertegak menatap ke arah depan.
Kedua sahabatnya hanya melerok memicingkan mata pada Moli. Suka bikin il-feel deh si Moli. Dikira dari tadi kita bahas apaan? Dengan santainya Dia nyerocos dengan pertanyaan itu. Sudah nggak waras kali Dia. Ck!
“Penasaran juga kan lo? Dasar!” Mia mencubit paha Moli.
“Serius deh, Lia kenapa nggak masuk?”
“Coba tanya Diki, kan gitu kata elo.”
“Miaaa!!” teriak Moli dengan kaki di hentakkan ke tanah.
“Lah kan elo ya bilang gitu, gimana sih!”
Moli cemberut dan memalingkan wajahnya menghadap segerombolan siswa kelas Xii berjalan mendekati arahnya. Di antara mereka ada Daren yang sedang tertawa lepas.
“Hi cewek.” ucap salah satu pria di antara mereka. Kemudian langsung berlalu. Hanya Daren yang masih berhenti di hadapan Moli.
“Senang kan musuh lo udah pergi, sepatutnya Elo berterima kasih sama gue.” Kata Daren yang kemudian nyengir dan langsung pergi.
Moli, Mia dan Fani saling pandang. Berusaha mencari maksud dari kata Daren. Hingga akhirnya mereka menemukan kebenaran yang selama ini mereka cari.
“Daren.”
“Iya... pasti Daren orang nya.”
“Jadi dugaan kita selama ini benar! Gue yakin Daren orang nya.”
“Betul!”
“Wah, hebat si Daren sih. berani juga Dia, kalau Diki sampai tahu, bisa adu tonjok mereka.”
Dan pada akhirnya mereka menemukan jawaban atas siapa yang sudah berani menyebarkan video itu. Tentu saja itu perbuatan Daren yang mendendam atas penolakan Lia padanya dan memilih menyakiti Moli demi mendapatkan Diki. Sebuas apapun Daren tapi untuk soal wanita Dia paling benci dengan wanita pembohong dan munafik. Jadi sebab itulah dia berhenti berusaha mengejar cinta Lia.
__ADS_1
“Semua ini lebih menguntungkan ke elo sih Mol, Elo jadi tahu kebusukan mereka berdua dan pada akhirnya elo lepas dari Diki.”
Benar juga apa yang di katakan Fani. Mungkin juga dari kejadian ini adalah jalan terbaik yang harus di lalui dalam masalah cintanya. Bukankah selama dengan Diki tak ada hal spesial yang di rasakan? Untuk sekedar satu alasan pun Moli tak tahu apa yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta pada Diki. Mungkin ini jawabannya? Memang tak pernah ada rasa cinta dari sebelum nya.
“Lo beneran udah nggak cinta sama Diki? Yakin udahan? Nggak mau di pikir pikir dulu Mol?”
“Yakin lah. apa lagi setelah gue tahu Diki suka mementingkan kehendaknya sendiri, gue jadi takut buat ngelanjutin, cukup sampai di sini aja.”
“Terus kalau sama Yoga gimana?” tanya Mia menyenggol lengan Moli. Moli tersenyum malu dengan pipi yang memerah.
“Yoga gimana maksud lo? Nggak ngerti gue.”
Mia menggelengkan kepala Moli dengan jari telunjuknya. “Halah! Pura pura bego’ deh lo.”
Moli memainkan bibir tipisnya. Kadang di gigit, mengerucut kemudian mendatar. Membicarakan tentang Yoga memang hal yang selalu di tunggu. Moli mengharapkan sebuah pendapat dari kedua sahabatnya itu. Ia ingin meyakinkan apakah perasaan ini nyata atau hanya sakit hati belaka hingga mengagumi sosok lelaki seperti Yoga. Moli tak ingin salah langkah dan menyakiti Yoga hanya karena rasa sakit nya pada Diki.
“Elo itu suka nggak sih sama Yoga? Gue penasaran deh.”
Moli tak langsung menjawab pertanyaan itu. Bukan hal sulit namun Ia masih belum yakin seratus persen. “Gue bingung, kalau sama Yoga rasa nya tuh gue seneng, Dia orangnya asik, Dia bisa menghibur gue kalau lagi sedih... intinya Dia selalu ada buat gue.”
“Terus masalahnya apa?”
“Gue Cuma takut perasaan gue ke Yoga Cuma sebagai lampiasan karena kecewa nya gue dengan Diki. “
“Tapi elo nyaman kan sama Yoga? Kalau iya, berarti itu emang perasaan sesungguhnya, bukan hanya sekedar sebuah lampiasan.”
Moli mendesah menunduk. Apakah betul seperti itu? Ucapan ke dua sahabatnya itu memang benar, bahwa rasa nyaman memang selalu ada ketika bersama Yoga. Intinya Dia bisa melakukan banyak hal untuk Moli. Lalu apakah Yoga juga punya perasaan yang sama?
Dua jam sudah mereka lalui untuk mengobrol di balik gedung sekolahan. Pintu gerbang di depan juga sudah hampir si tutup oleh pak satpam. Mereka bertiga akhirnya pulang ke rumah masing masing. Mia dan Fani pulang bersama hanya Moli yang memilih untuk menunggu pak ujang menjemputnya di warung angkringan yang tak jauh dari sekolahan. Moli duduk mengingat banyak hal yang tadi di obrolin bersama kedua sahabatnya. Ucapan mereka ternyata lebih meyakinkan hati nya bahwa rasa cinta itu memang ada. Sekarang hanya tinggal mencari tahu bagaimana perasaan Yoga, apakah sama atau tidak.
Yoga tak menggubris. Ia terus melangkah namun di tarik oleh Diki. “Gue mau bicara sama lo!”
Yoga mengibaskan lengan Diki yang menarik baju nya. “Apa sih? Nggak ada yang perlu kita omongin, gue nggak punya urusan sama lo!”
“Gue minta elo jauhin Moli!”
Yoga nyengir mendengar perkataan Diki itu.
“Urusan apa lo ngelarang gue? Sadar woi! Elo itu udah di putusin sama Moli.”
Jawaban Yoga membuat Diki mengepalkan kedua tangannya. Bisa saja Ia langsung menonjok Yoga, namun Ia coba tahan supaya tak ada keributan. “Gue bicara halus sama elo ya, jadi jangan pancing emosi gue, gue Cuma mau minta elo jauhin Moli.”
“Sebenarnya yang bikin emosi itu ya elo sendiri. Lo nggak ada hak buat ngelarang gue deket sama Moli, sadar dong! Elo deket sama Lia si Moli diem aja tuh, mikir! Sampai kapan elo bisa sadar dari perbuatan elo sendiri?”
Sial! Di sekak mat kan? Diki hanya terpaku dengan tangan yang masih mengepal. Kalau sudah begini, bertengkar dengan Yoga hanya akan mempermalukan diri sendiri. “Lo ngaca!
Elo masih bocah belum pantes buat Moli!”
Sebelum masuk ke kamar Yoga sempat melempar perkataan lagi hingga membuat Diki melemas dan duduk di atas kursi.
“Intropeksi diri sebelum nyalahin orang! Sebelum cewek lain yang jadi korban, dan yang harus ngaca itu ya elo!”
Moli
Lagi ngapain Ga?
__ADS_1
Yoga membuka pesan dari bidadari cantiknya. Wajah tegangnya langsung berubah jadi sumringah.
Yoga
Lagi mau tiduran... kak Moli lagi apa?
Moli
Lagi nunggu pak Ujang jemput.
Yoga berkerut dahi. “Jemput dimana? Jam segini belum pulang sekolah? Eh tapi Diki udah di rumah.”
Yoga
Emang lagi dimana?
Moli
Masih di area sekolahan... soalnya tadi nongkrong bentar sama Mia dan Fani.
Yoga
mau gue anterin?
Moli
Nggak usah... bentar lagi juga datang...
Yoga
Oke... hati hati...
Read
Ponsel itu Ia masukkan ke dalam tas kembali dan beberapa menit kemudian pak Ujang pun muncul.
07.00 WIB
Moli membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Terlentang menatap langit langit rumah. Disana ada bayangan wajah Diki yang muncul entah dari mana. Wajah pria yang ternyata sudah berhasil membuatnya terpesona. Lalu apa kata dunia jika seorang wanita cantik seperti Moli sampai berpacaran dengan lelaki yang masih duduk di bangku SMP? Moli meringis membayangkan ucapannya sendiri.
Bukankah cinta tak perlu memandang umur dan status?
“Kayaknya gue beneran suka deh sama elo Ga.” Moli meringkuk menutup wajahnya yang merah merona.
Dari balik gelapnya malam, Yoga juga memikirkan hal yang sama dengan Moli. Di depan jendela kamarnya Yoga berdiri melihat bintang yang sudah mulai bermunculan menampakkan diri. Yoga teringat ucapan Diki tadi. Apakah Moli akan mencintainya walaupun masih jauh di bawah umur? Yoga merengut dalam pertanyaan itu. Tapi jika mengingat kebersamaan dengan Moli, sepertinya tak perlu menghawatirkan tentang hal itu. Bukankah selama ini Moli bahagia ketika bersama Yoga?
“Kak Moli suka nggak ya sama gue, apa harus gue yang ngungkapin? Gue kan cowok.”
Yoga berbalik dan membantingkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mendengus. “Apa yang harus gue perbuat? Menunggu atau mengungkapkan?”
Cari jawaban di hari esok. Mata itu perlahan tertutup menghampiri sebuah mimpi yang berharap jadi kenyataan.
****
Terimakasih banyak buat yang udah setia nunggu nevel when yoy kiss me!
__ADS_1
sebentar lagi END ya...