
Sesampainya di rumah, Moli sudah di hadang papa dan mamanya. Mereka berdua awalnya duduk di kursi teras rumah, tapi kemudian langsung berdiri ketika mobil Moli sudah memasuki halaman rumah.
Usai menutup pintu, Mona langsung merengut. Wajah papanya terlihat sangat mengerikan. Sepertinya sudah siap memakan mangsanya. Begitulah kira-kira.
“Dari mana kamu! Pergi nggak pamit, dasar tidak punya sopan santun!” hardik papa. Moli hanya menjulingkan mata, mencoba mengabaikan ucapan papanya.
“Hei! Papa nanya sama kamu, jawab!”
“Pa! Bisa nggak sih, setiap Moli pulang, nggak usah di interogasi, Moli itu bukan penjahat!”
“Diam kamu!” bentak papa. Moli langsung berjinjit karena terkejut.
“Papa nggak pernah ngajarin kamu untuk melawan orang tua.”
“Emang papa pernah ngajarin apa sama Moli? Kayaknya nggak pernah deh...”
Plak!
Satu tamparan keras melayang tepat di pipi kanan Moli. Mareta yang sedari menonton hanya bisa menutup mulut dengan tangannya.
“Ini yang selalu papa kasih untuk Moli. Kekerasan dan peraturan penuh kekangan.”
Moli menangis, berlari menerobos di tengah Gibran dan Mareta yang berdiri berdampingan.
“Kalian memang jahat!” teriak Moli tanpa menoleh dan masih terus berlari menuju kamar.
“Papa!” panggil Mareta lantang. “Bisa nggak sih, nggak usah pake nampar segala... dia itu anak kamu.” Menunjuk ke arah anak tangga di mana Moli masih berlari cepat disana.
Moli sudah tak terlihat.
“Memang itu yang pantas di terima Moli.” Gibran sama sekali tak menunjukkan rasa bersalahnya. Ia justru terlihat santai tanpa memikirkan bagaimana rasa sakit yang sedang di rasakan Moli.
__ADS_1
“Kenapa sih, hidup gue gini amat!” keluh Moli sambil menangis, meringsut di tengah ranjang memeluk kedua lututnya.
“Gue harus gimana?” masih terisak.
Tiba-tiba Moli terduduk. Bersila lalu mengusap kasar air matanya yang masih mengalir. Seketika Moli turun dari ranjang dengan cepat, melangkah menuju pintu, membukanya lalu keluar tanpa menutup kembali. Moli menuruni anak tangga dengan cepat. Di bawah sana sudah tak terlihat mama dan papanya. Pasti sudah masuk ke dalam kamar.
Setelah sampai di bawah, Moli langsung berbelok ke arah kanan. Tepatnya menunu kamar orangtuanya. Tanpa menunggu lama, hanya sekitar lima belas langkah saja, Moli sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mereka.
Tangan kanan Moli sudah terangkat, hendak mengetuk tapi tiba-tiba tidak jadi. Hanya terlihat kedua alisnya berkerut.
“Mau sampai kapan papa memaksa Moli untuk mau menerima Anton?”
“Tentu saja sampai Moli bersedia. Lagian... cepat atau lambat, Moli pasti suka sama Anton.”
“Itu menurut papa... tapi papa harus tahu, Moli itu sangat mencintai kekasihnya.”
“Kekasih yang mana? Ah! Bocah tengil itu ya...”
“Tentu saja Yoga. Memangnya siapa lagi.”
“Halah! Memangnya dia bisa kasih apa untuk Moli... kerja juga belum. Dan ingat! Dia itu berasal dari keluarga yang berantakan... aku nggak mau kalau sampai Moli bersama bocah itu lagi.”
Air matanya sudah menggenangi matanya lagi. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas dan ingin ambruk, tapi Moli tahan, ia ingin mendengarkan lebih banyak lagi apa yang akan papa dan mama bicarakan selanjutnya.
“Tapi Moli menyukainya, kita nggak bisa memaksakan perasaannya.”
“Jadi kamu lebih suka Moli bersama bocah itu dari pada bersama Anton?”
“Bukan begitu... cuma, lama-lama aku nggak tega lihat Moli terus di kekang.”
“Memangnya siapa yang ngekang Moli?” sepertinya Gibran memang sama sekali tak peduli dengan perasaan Moli.
__ADS_1
“Tentu saja kita! Memang siapa lagi? Terutama kamu ya...”
“Halah! Itu nggak penting... lagian, bocah itu sudah menghilang kan? Aku sudah mengancamnya, pasti bocah itu sudah tak berani menemui Moli... buktinya sampai saat ini, tidak ada tanda-tandanya Moli ketemu dengan bocah itu kan...”
Akhirnya Mareta hanya menghela napas. Berbicara dengan suaminya memang hanya buang-buang energi. Selain sifatnya yang angkuh, Gibran adalah sosok orang yang tak mau mengalah. Ada yang melawan, Gibran pun melawan balik.
Usai pembicaraan dua orang di dalam sana, wajah Moli langsung memerah, dadanya terasa sakit, tubuhnya pun terasa panas. Karena sudah tak tahan lagi, Moli pun memilih kembali lagi ke kamar. Bukan kembali untuk meringkuk sambil menangis, tapi Moli hanya sekedar mengambil kunci mobilnya, menjambret jaket di gantungan lalu turun lagi ke bawah dan pergi dari rumah tanpa berpamitan.
Ponsel dan dompetnya terlihat tergeletak di atas meja. Itu pasti Moli lupa membawanya. Tak penting! Rasanya sudah terasa sakit.
Mobil Moli sudah melaju dengan kecepatan tinggi. Melaju menembus angin sore tanpa peduli lagi pada apa yang mungkin akan terjadi. Moli masih menangis. Ia masih tak menyangka papanya tega berbuat seperti itu. Ini tentang perasaan, harusnya mereka paham. Hanya dengan embel-embel, semua demi kebaikan, mereka pun selalu memaksa kehendak.
Tiba-tiba hujan turun. Suara petir di luar sana sudah terdengar menyeruak masuk ke dalam gendang telinga. Moli masih tak peduli, bahkan mobilnya semakin cepat lajunya.
Ciittt!!!
Suara decitan dari roda mobilnya terdengar. Mobil Moli menabrak pondasi trotoar. Memang tak terjadi apa-apa. Moli sama sekali tak terluka. Jalanan ini begitu sepi, jadi tak ada siapapun yang melihatnya. Sementara di moncong mobilnya, terlihat asap hitam yang keluar dari sana. Mobilnya pun Mogok.
Setelah memukul bundaran kemudi beberapa kali sambil berteriak, akhirnya Moli keluar dari mobil. Sesaat tubuhnya langsung terguyur air hujan hingga basah kuyup. Moli langsung berlari menyusuri trotoar, sementara mobilnya ia tinggalkan begitu saja dalam keadaan mesin masih menyala. Ia tak peduli, kalaupun hilang, bodo amat!
Moli masih terus berjalan. Seluruh tubuhnya sudah menggigil kedinginan, bahkan kedua tangannya sudah mendekap kedua pundaknya. Bunyi dari giginya yang beradu pun bisa di rasakasan.
Sejauh ini, Moli sudah berjalan sejauh 1 kilo. Moli masih beruntung. Selama menyusuri jalanan, Moli sama sekali tak bertemu seseorang, hanya ada beberapa mobil yang melintas tapi sepertinya mereka tak peduli. Memang itu yang di harapkan Moli. Sendiri tanpa ada yang mengganggu.
Krekeettt....
Bugh!
Moli terjatuh tersungkur di depan halaman rumah orang. Pintu gerbang dengan tinggi hanya satu meter itu pun terbuka karena dorongan dari tubuh Moli.
Moli tak sadarkan diri. Ia tergeletak begitu saja di atas tanah dengan posisi setengah miring dan kedua tangan melebar. Sementara dari atas langit, air hujan masih turun dengan lebatnya. Mungkin ini akibat karena tubuhnya sudah terlalu lelah, lelah berjalan dalam keadaan yang sedang buruk. Sangat buruk!
__ADS_1
***