Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Limabelas


__ADS_3

Sweter berwarna coklat sudah menempel ditubuh molek nya serta rok renda pendek menghiasi bagian kakinya. Riasan sederhana tertempel sempurna pada wajah cantik Moli.


Ia berdiri menghadap pada sebuah cermin oval yang bertengger di samping lemari baju nya. “Udah cantik kok...” ucap Diki yang ternyata sudah masuk ke kamarnya. Moli tersenyum dari balik kaca memandang Diki yang sudah duduk di ranjangnya.


Moli melenggokkan badannya mengamati lekuk tubuhnya yang terlihat sempurna. Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan?


Diki yang semula memandang Moli yang masih bercermin tiba tiba matanya melirik pada boneka beruang besar yang bersender di Sova dekat meja rias. Keningnya berkerut, sepertinya boneka itu tak asing baginya.


Bukankah sebelumnya pernah dilihatnya? Tapi di mana?


Dengan senyum sumringah Moli berbalik mengambil tas slempang kecil menaruh nya di pundak.


“Yuk... berangkat...”


“Kamu cantik deh... tambah suka aku sama kamu...” Goda Diki yang belum lepas dari bayangan boneka besar itu.


Bukankah Moli memang selalu cantik? Ia adalah wanita yang tak pernah neko neko untuk soal penampilan. Baginya natural adalah penampilan yang terbaik. Berbeda dengan Lia yang lebih suka memakai make up yang bisa terbilang tebal dimanapun Dia berada. Tapi Diki menganggap Lia juga wanita cantik. Entahlah...


“Makasih...”


Ucapan terakhir Moli saat dalam perjalanan.


Keduanya terdiam, tak ada yang kunjung memecah kesunyian di dalam mobil itu. Moli melirik wajah fokus Diki yang seketika melempar senyuman manisnya pada gadis yang ketahuan menatapnya itu. Mereka berdua seperti sedang berbicara menggunakan bahasa isyarat, namun sayangnya tak ada yang bisa memahami dari isi otak masing masing.


Bukan seperti ini ketika Moli bersama Yoga.


Rasanya lebih rame, bahkan rasa sungkan bisa hilang ketika mengobrol dengan Yoga. Kenapa bisa begitu? Ini terasa sunyi. Bahkan pujian dari Diki sudah terasa biasa atau bukan hal spesial lagi.


Sehambar ini kah rasanya bersama kekasih?


“Yuk... udah sampai...” Diki membuka pintu mobil dan turun. Tapi Moli masih terdiam di dalam matanya lurus ke depan entah apa yang sedang Ia pantau sebenarnya.


Diki melangkah kemudian membuka pintu itu.


“Hei... udah sampai... ayo turun...”


Tepukan tangan pada pundaknya membuyarkan lamunan nya. “Eh... iya... udah sampai ya...” dengan grusa grusu Moli turun dari mobil hingga kepentok jendela kaca mobil. “aww!”


“Hati hati dong... ngelamunin apa sih?”


Moli mengusap jidatnya tanpa menjawab pertanyaan dari Diki. Kelihatannya Diki juga tak terlalu peduli, terlihat dari cara bertanya yang kemudian langsung melengos tanpa menanyakan keadaan jidat Moli. Moli mulai menyadari sikap itu. Benarkah itu Diki?


“Eh bro! Sialan lo ya... yang lain gandengan sama cewek, nah gue sama elo... nasib buruk emang!”


Doni terus nyerocos hingga mereka hampir sampai di pintu masuk gedung bioskop. Yoga hanya menoleh dengan lirikan tajamnya.


“Diem bisa nggak sih?... engap telinga gue...”


Langkahnya tiba tiba terhenti mendadak. Doni yang berjalan di belakangnya sontak menabrak punggung Yoga. “Apaan sih lo! Sakit nih hidung!” gerutu Diki mengusap hidung peseknya yang menabrak benda keras di depannya itu. Tak ada tanggapan dari Yoga, ia justru berbalik bersembunyi di balik punggung Doni. Doni berkerut dahi. “Kenapa lo? Lihat tuyul?”


Entah karena merasakan kehadirannya atau apa tiba tiba Moli yang sedang bergandengan dengan Diki menoleh pada sosok pria yang sedang berdiri itu. Merasa mata itu tertuju pada nya, Doni hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dan meringis unjuk gigi.


Moli tak henti memandangi Doni, sepertinya ada seseorang yang Ia kenal yang berdiri disana.


“Hei... ayo masuk... lihatin apa sih?” Diki yang penasaran mengikuti mata Moli kemana Ia memandang.


“Nggak papa... yuk masuk. Film nya udah keburu mulai...”


“Eh songong! Lo kenal cewek yang tadi?”


Doni melempar pertanyaan ketika Yoga sudah menampakkan wujudnya lagi. Yoga mengangguk mengibaskan rambutnya yang mulai menutupi matanya.


“Eh tunggu deh... itu tadi Diki bukan sih?” Doni menarik baju Yoga yang sudah dua langkah di depannya.


Yoga mendengus. “Nggak usah banyak tanya deh... udah ayo masuk...”


Tangannya di tarik paksa oleh Yoga masuk kedalam gedung bioskop. Doni terdiam dengan bibir monyong, membuat tampilan wajahnya seperti seorang cewek yang sedang kesal pada kekasihnya.


Di dalam gedung, Yoga samar samar bisa melihat di mana posisi Moli dan Diki duduk. Yoga pasti akan mengenalinya walaupun dalam gelap sekalipun.


Dia terlalu mudah untuk bersembunyi dari pandangannya. Namun Dia sangat sulit untuk di dapatkan untuk bersama raganya.


“Ga... gue nanya serius nih... elo tadi ngumpet Cuma gara gara lihat Diki jalan sama pacarnya?.”


Desahan keluar dari mulutnya. Sahabatnya yang satu ini memang suka nyerocos sebelum di jelaskan dengan jawaban atas pertanyaan apa yang di lontarkannya. Doni akan terus mengulang pertanyaan yang sama sebelum mendapat jawaban yang menurutnya tepat.


“lo hutang penjelasan sama gue!”


Diki menunjuk pipi Yoga yang lebih memilih fokus pada film yang sedang di tayangkan di layar lebar.


Entah karena cemburu atau penasaran tiba tiba Yoga membuka ponsel mengirim pesan chat pada Moli.


Yoga


Kak Moli lagi ngapain?


Moli

__ADS_1


Lagi jalan sama Diki.


Read.


Yoga memasukkan ponselnya kedalam saku lagi. Buat apa menghubunginya? Bukankah Dia akan jujur sedang di mana atau sedang bersama siapa? Bodohnya diri ini! Terlalu berharap Dia punya sedikit rasa.


Satu jam lebih sudah berlalu...


Yoga dan Doni keluar terlebih dulu menghindari pertemuan yang tak diinginkan itu. Ia menuju parkiran, duduk di atas Jok motornya dengan menyulut sebatang rokok.


“Jelasin yang tadi... atau nggak gue tendang juga lo!” pelotot Doni dengan sedikit mengguncang motor milik Yoga.


Belum sempat memberi jawaban, sebuah teriakan lirih terdengar dari balik mobil BMW hitam yang terparkir sekitar lima belas meter dari tempat mereka berada.


“Awas! Jangan ganggu gue!”


Moli menampis lelaki yang berusaha meraih pinggangnya. Lelaki itu mendorong pintu mobil sehingga Moli terhalang dan tidak bisa masuk. Tercium dari aromanya, sepertinya lelaki itu sedang mabok.


“Tolong! Minggir jangan ganggu!”


Lelaki itu tak bersuara. Hanya lenguhan dan tangan nakalnya yang mulai kurang ajar berusaha menggerayah tubuh Moli. Bibir yang bau alkohol itu mulai mendekat pada leher Jenjang Moli. Ia hanya menangis sesekali berteriak minta tolong.


“Brengsek lo! Setan! ********!”


Tonjokan bertubi tubi menimpa lelaki kurang ajar tersebut. Dengan emosi dan tanpa ampun Yoga terus menghajar lelaki itu hingga babak belur dan Menyerah kemudian berlari dengan sempoyongan. “Lo nggak papa Ga?...” tanya Doni yang panik melihat apa yang ada di hadapannya.


Yoga menghela nafas dan menoleh pada Moli yang jongkok di samping Mobil dengan wajah menelungkup pada kedua lutut dan tangannya. Tangisannya begitu jelas di pendengarannya


“Lo nggak papa kan bro?” tanya Doni sekali lagi.


“Nggak... gue oke.”


Yoga mendekati Moli setelah sebelumnya


Yoga mengelap peluhnya yang menetes di pelipisnya karena bringasnya melawan lelaki tadi.


“Kak Moli... yuk bangun... udah pergi orang nya...”


Kepalanya terangkat menatap lekat wajah Yoga yang sudah dua kali menyelamatkannya dari lelaki ********.


Kenapa selalu Dia? Dimana kekasih ku berada?


Yoga mengangkat tubuh Moli yang terguncang rasa ketakutan. Di peluknya dengan erat seakan tak ikhlas untuk melepaskannya. “Gue takut Ga...” Moli masih menangis.


Dengan gemetar Moli bangkit dan jatuh bersandar di pelukan Yoga. Isakan tangis masih terus terdengar hingga membuat Yoga tambah panik. “Udah... udah pergi orangnya... jangan nangis terus...” usapan lembut pada rambutnya membuat hati Moli sedikit tenang.


Tangan lembutnya mengusap kedua pipi sembab itu yang terbanjiri air mata.


“Yoga awas!”


Teriak Doni seketika melihat Diki yang tiba tiba datang dari arah belakang. Diki mendorong Yoga dengan satu tonjokan di pipi kanannya hingga tersungkur jatuh ke tanah.


“Maksud Lo apa meluk cewek gue?


Brengsek!” Diki menarik baju Yoga dan satu pukulan melayang di bagian perutnya.


Moli kembali menangis melihat perkelahian itu. Sementara Doni yang panik memberanikan diri untuk memisahkan mereka berdua. “Stop woy!! Kalian kaya Bocah!” Doni menarik Yoga mundur. Ada sedikit bercak darah di hidung dan bibirnya.


“Udah Cukup!!”


“Sialan lo!” Yoga membalas pukulan tepat di bagian pipi kanan Diki.


Mereka kembali beradu hingga Yoga tersungkur kembali memeluk tanah.


Sepertinya Diki di lumuri rasa cemburu buta yang membuat emosinya meningkat. Sementara Moli yang semakin ketakutan


melihat mereka berdua berteriak sekencangnya hingga membuat Yoga dan Diki berhenti dari pertarungan itu.


“Cukup!! Udah cukup!!”


Tangisan itu semakin deras, badannya semakin terguncang. Yoga menoleh dan mendekatinya. “Kak Moli nggak papa?” Yoga spontan memegang pundak Moli.


“Apa apaan lo! Minggir!”


Diki mendorong dada Yoga hingga menabrak Doni yang masih berdiri dengan perasaan deg degan karena tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


“Udah cukup ya Dik... aku minta kamu berhenti kasar sama Yoga...”


Moli menarik lengan Diki menjauh beberapa meter dari Yoga. Sementara Yoga sedang meringis kesakitan karena tonjokan yang di lakukan Diki padanya. “Lo nggak papa kan?.... kok jadi gini? Gue jadi bingung...”


Doni mengelap darah yang keluar dari hidung Yoga menggunakan sapu tangan yang sempat di bawanya di kantong celananya.


Yoga mencengkeram lengan Doni ketika hendak mengelap hidungnya. “Bukan bekas ingus lo kan?”


“Bangke! Masih bisa ngoceh juga ternyata!” cibir Doni.


“Kenapa kamu belain Yoga? Aku itu pacar kamu! Wajar dong aku hajar dia... salah Dia kurang ajar sama kamu! Main peluk seenaknya.”

__ADS_1


“Dia itu nolongin Aku Dik? Kalau nggak ada Yoga mungkin aku udah di celakai sama orang tadi!” Ucap Moli berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Diki memang sudah terlanjur emosi. Di sisi lain Diki tak menyukai Yoga di tambah lagi Dia melihat Yoga memeluk kekasihnya. Tentu saja Diki marah. Ini cemburu.


“Tunggu dulu...” Diki menghentikan ucapannya seraya memikirkan sesuatu hal. “Kamu kenal sama Yoga? Sejak kapan?”


Moli mendesah lirih, tangan kanannya mengelap air mata yang masih menempel di pipinya. “Iya... aku kenal sama Yoga. Udah lama... kenapa?”


“Jadi kamu kenal bocah tengil itu?!”


Diki menunjuk pada Yoga yang masih duduk di atas motornya bersama Doni. Mereka berdua tak peduli dengan berdebatan antara Diki dan Moli. Hanya sedikit rasa khawatir dalam hati Yoga pada gadis cantik itu.


“Bocah tengil maksudnya?” Moli membulatkan matanya mendengar perkataan Diki.


“Iya... Bocah sialan itu! Aku mau kamu menjauhi Dia. Jangan sampai aku lihat kamu jalan atau ketemuan sama Dia!”


Deg! Jantung Moli terasa terhenti. Sejahat itu kah Diki? Apa salahnya berteman dengan lelaki lain. Kenapa harus dilarang?


Sebenarnya ada hubungan apa antara Diki dan Yoga. Kenapa sepertinya Diki begitu membenci Yoga. Salah apa Yoga? Lalu apa kabar dengan kedekatan Diki dan Lia,


bukankah Moli tak pernah melarangnya? Bahkan Ia hanya diam ketika melihat kedekatannya dengan Lia. Nggak adil!


Moli bergidik. “ Kamu jahat Dik...” Moli berbalik mengambil langkah menjauh dari


Diki yang setengah bingung.


“Tunggu! Kok kamu malah pergi?” Diki menarik lengan Moli. Namun langsung di lampiaskan oleh Moli. “Jadi kamu membela bocah tengil itu?”


Yoga yang sedari tadi memandang mereka dari kejauhan mulai geregetan sendiri. Kedua tangannya mengepal siap melayangkan pukulan mautnya lagi. “Sialan tuh cowok!”


“Tunggu! Ini belum saat nya lo ikut campur sob!” Doni mencegah yoga yang hampir ngibrit menghampiri mereka berdua.


“Kalem...”


Yoga mendengus dengan tangan mengepal memukul jok motornya. “Brengsek!”


“Aku nggak belain Yoga. Tapi Yoga itu udah nolongin aku. Lagian kamu kemana waktu aku lagi butuh bantuan kamu?”


Moli berusaha menjelaskan apa yang menurutnya benar. Yoga adalah orang baik. Tak mungkin bisa jika harus menjauhinya apalagi setelah apa yang selalu di perbuat untuknya.


Dia terlalu baik jika untuk di jauhi.


“Terserah alasannya. Aku Cuma mau kamu jauhin Dia. Ayo kita pulang...” Diki menyeret Moli menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil.


Moli memberontak. Ia paling tak suka melihat orang marah hanya karena melihat sesuatu yang belum tentu salah. Jangan merasa dirinya paling benar.


“Aku nggak suka ya kamu marah marah nggak jelas kaya gitu...”


“Wajar dong aku marah lihat pacarnya dipeluk cowok lain... salah aku cemburu?”


Sepertinya Diki lebih keras kepala dari pada Moli. Ia terus mencari celah supaya dirinya tetap benar. Moli berbalik melangkah meninggalkan Diki. “Kamu Egois!”


Diki terdiam tanpa mengalihkan pandangannya pada Moli yang sudah menjauh beberapa meter darinya. “Oh jangan jangan Dia selingkuhan kamu ya...”


Langkah Moli terhenti mendengar ucapan Diki. Seperti itukah yang ada di pikiran Diki tentangnya? Dengan mudahnya dia berkata seperti itu.


“Benarkah Dia selingkuhan kamu?” Pada akhirnya Diki mengingat kembali tentang beruang yang Ia lihat di kamar Moli.


Sebelumnya Ia melihat beruang itu ada dirumahnya sendiri kemudian di bawa pergi oleh Yoga. Jadi ini kan jawabannya?


Moli membalikkan tubuhnya lagi menghadap Diki yang merasa ucapannya itu sama sekali tak menyakiti hati. “Tega teganya kamu nuduh aku seperti itu...”


Plak!


Satu tamparan melayang dengan keras mendarat di pipi Diki. Mata Moli memerah sembab, hingga butiran kecil mulai menetes dari sudut matanya yang sayu. “Sadarkah kamu sama apa yang kamu ucapkan...”


Diki terdiam seribu bahasa. Ia tak menyangka akan mendapatkan sebuah tamparan dari Moli yang Ia kenal lemah lembut.


“Jangan pernah bilang aku selingkuh sebelum kamu bercermin dengan diri kamu sendiri. Apa kamu sudah benar? Lihat siapa yang sebenarnya selingkuh!”


Air matanya terus mengalir. Namun tak ada sedikitpun rasa takut untuk memandang wajah Diki yang mungkin mulai tersadar dengan ucapannya.


“Aku minta kamu pergi! Sekarang!”


Teriakan melengking itu membuat Diki terjinjit kaget. Betulkan ini Moli kekasihnya? Semarah ini kah gadis ini?


Diki meraih lengan Moli. “Aku minta maaf... aku nggak bermaksud...”


“Cukup! Aku minta kamu tinggalin aku sekarang...”


Kemarahan Moli padanya sudah mencapai ubun ubun. Ia tak menyangka Diki tega mengatakan hal keji itu padanya. Bagaimana hubungan Diki dengan Lia? Bukankah Moli tak pernah melarang untuk bertemu?


“Tapi Mol...”


“Pergi! Aku pengen sendiri...”


Teriak Moli histeris. Air matanya jebol kembali karena rasa sakit dengan ucapan Diki padanya. Semudah itukah dia bilang selingkuh?

__ADS_1


****


__ADS_2