
Dari balkon kamarnya mama Sarah melihat kedatangan Nada dengan membawa koper besar, iapun mengerti apa yang telah terjadi. Nada sudah pernah memberitahunya jika ia akan kembali tinggal dirumah ini setelah Farhan dan Kania telah menikah.
Buru-buru mama Sarah menghampiri Nada. Hari ini ia akan menyambut kedatangan Nada bukan sebagai menantu tetapi sebagai putri yang sudah ia besarkan.
Nada yang baru saja akan menekan bel, namun pintu rumah sudah lebih dulu terbuka dan seketika senyum tercetak dibibir nya melihat mama Sarah yang membukakan pintu.
Berbeda dengan Nada yang tersenyum, mama Sarah justru memperlihatkan kesedihan diwajahnya. Wanita itu langsung memeluk Nada dengan erat dan Nada pun membalas pelukan wanita yang telah membesarkannya itu tak kalah erat.
"Mama kenapa nangis?" Tanya Nada setelah mengurai pelukannya dari mama Sarah sambil mengusap cairan bening yang menggenang di sudut wanita itu.
"Kamu cerai aja ya sama Farhan, terus kita berdua pergi ke tempat yang jauh dimana hanya ada kamu dan Mama." Ujar mama Sarah membujuk, meski Farhan adalah putra kandungnya tetapi ia tidak bisa menerima perlakuan Farhan terhadap Nada.
Nada hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan mama Sarah, ia merangkul pinggang wanita itu dan mengajaknya masuk ke rumah.
"Mama masak apa hari ini?" Tanya Nada ketika telah berada di dalam rumah.
"Semenjak kamu nikah sama Farhan dan gak tinggal disini lagi, Bi Ida yang selalu masak. Mama gak pernah ke dapur lagi, soalnya selalu teringat sama kamu." Jawab mama Sarah, ia sedikit mengembangkan senyum. Jika Nada saja masih bisa tersenyum meski dilanda keterpurukan kenapa dirinya tidak bisa.
Melihat mama Sarah tersenyum, ada ketenangan di hati Nada. Akhirnya ia melihat senyuman mama Sarah lagi setelah beberapa hari tampak muram.
Di ruang makan, kedua wanita berbeda generasi itu saling menyuapi persis seperti saat Nada dan Farhan masih kecil. Mama Sarah menyuapi kedua anaknya itu secara bergantian, lalu Farhan dan Nada pun akan saling berebut untuk menyuapi mama Sarah. Mengingat saat itu mama Sarah menitihkan air matanya, kenapa kedua anaknya kini harus terlibat dalam hubungan rumah tangga yang rumit seperti ini.
__ADS_1
Namun, semuanya sudah terjadi dan tidak ada yang bisa disalahkan. Almarhum suaminya pun pasti tidak akan memberikan amanah kepada Farhan untuk menikahi Nada jika tahu kejadiannya akan seperti ini.
Beberapa saat kemudian setelah selesai makan, mama Sarah pun mengajak Nada untuk ke kamarnya. Malam ini mereka akan tidur bersama seperti dulu, namun sayangnya hanya tinggal mereka berdua, tidak ada lagi Farhan dan suaminya yang akan membuat ia dan Nada terhimpit di tengah-tengah ranjang.
.
.
.
Sementara itu, Farhan yang kini tinggal sendirian dirumahnya pun menikmati makan malam seorang diri. Tidak ada lagi Nada yang akan dengan sigap menyajikan makanan ke dalam piringnya dan juga terus berceloteh mengajaknya berbicara meskipun ia enggan menanggapi.
Malam ini entah kenapa rasanya berbeda, makanan yang dimasak Nada sebelum pergi pun entah kenapa terasa hambar di lidahnya. Padahal makanan yang terhidang didepannya adalah menu yang sama yang selalu Nada masak untuknya.
Namun nyatanya, kedua matanya tetap saja tidak bisa terpejam dan entah sudah beberapa kali ia merubah posisi tidurnya yang terasa tidak nyaman.
Farhan pun menarik tubuhnya bersandar di kepala ranjang, ia menoleh menatap bagian ranjang yang kosong disampingnya dimana biasanya disitu Nada berbaring miring membelakangi nya. Dan malam ini ia bagai berhalusinasi karena tiba-tiba saja sosok Nada menghilang.
Apakah ia merindukan istrinya itu? Sama sekali tidak tegasnya pada dirinya sendiri, kesepian yang dirasakannya karena ini adalah pertama kalinya ia sendirian seperti ini. Dan setelah menikah dengan Kania nanti semua rasa kesepian yang dirasakannya akan lenyap dan tergantikan dengan kebahagiaan.
.
__ADS_1
.
.
Nitip Visual Yakkk 🤭🤭🤭
NADA
ALFAN
KEY
FARHAN
__ADS_1
KANIA