Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 71


__ADS_3

"Ini beneran Tante Nada, kan?" Tanya Key sambil mengulurkan tangannya menyentuh pipi Nada. Keduanya matanya nampak berkaca-kaca menatap Nada yang ia kira telah tiada.


Nada hanya dapat mengangguk sambil menggenggam tangan Key yang menyentuh pipi nya. Sejujurnya ia juga sangat merindukan keponakan sekaligus muridnya itu.


"Tapi Ayah bilang...


"Enggak, Key. Tante baik-baik aja kok." Ujar Nada lalu menarik Key kedalam pelukannya.


Detik itu juga Key langsung menumpahkan air matanya. Bocah perempuan itu terisak didalam pelukan Nada. Ia pikir, wanita yang ingin ia jadikan sebagai pengganti bundanya ini juga telah pergi menyusul bundanya.


"Tapi Tante Nada kemana aja? Kenapa Ayah bilang kalau Tante Nada udah meninggal?"


"Key, Tante Nada gak meninggal, tapi hanya tidur lama sekali." Ujar Farhan yang kini ikut bergabung bersama Key dan Nada. Laki-laki yang baru beberapa saat lalu kembali menghalalkan Nada itu ikut memeluk keponakannya. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


Alfan yang telah duduk diantara mama Sarah dan bi Ida, menyaksikannya dengan raut wajah tak terbaca, namun dari tatapannya menunjukkan adanya kecemburuan. Namun, jika boleh jujur ia sangat senang karena Nada ternyata selamat dari kecelakaan itu. Setelah beberapa hari meresapi semuanya, rasa penyesalan terus menghantuinya.


"Tante Nada koma selama satu bulan setelah mengalami kecelakaan." Ujar Farhan lagi dengan menekan kata diakhir kalimatnya sambil melirik Alfan yang tak berkedip menatap mereka bertiga.


"Tapi untung ya, Key, Tante Nada hanya koma bukan meninggal seperti yang di inginkan...

__ADS_1


Ucapan Farhan terhenti ketika Nada menyenggol lengannya diiringi kedipan mata agar tak berbicara yang macam-macam pada Key.


"Iya, Om. Waktu Tante Nada pergi ke desa aja, aku udah gak semangat sekolah. Apalagi waktu dengar kalau Tante Nada itu meninggal, rasanya aku mati juga ngusulin Tante Nada sama Bunda." Ujar Key yang masih berada dalam pelukan Nada.


Dan Alfan langsung menunduk ketika mendengar ucapan putrinya itu. Padahal Key selalu mengatakan ingin menjadikan Nada sebagai pengganti bundanya, tetapi karena dendam atas meninggalnya Hana ia dengan tanpa perasaan tega mencelakai Nada agar Farhan juga merasakan apa yang dirasakannya dulu.


Beberapa jam melepas rindu, akhirnya Key dan Alfan pun berpamitan pulang. Dan Key akan kembali datang menemui Nada esok hari.


.


.


.


Setelah makan malam bersama, Mama Sarah pun menyuruh anak dan menantunya untuk beristirahat. Di dalam kamar, Nada dan Farhan nampak kaku, benar-benar seperti sepasang pengantin baru.


Keduanya duduk berdampingan di tepi ranjang tanpa ada yang bersuara, menikmati desiran di hati mereka masing-masing.


Hingga beberapa saat kemudian Farhan memberanikan diri menggenggam tangan Nada.

__ADS_1


"Aku minta maaf ya, karena dulu selalu mengabaikan mu." Ucap Farhan dengan pelan.


Nada menanggapi nya dengan senyuman tanpa tahu harus menjawab apa, situasinya sekarang benar-benar membuatnya merasa gugup.


"Dan sekali lagi aku mengucapkan terima kasih karena kamu masih mau memberikan aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik untuk mu. Sekarang dan seterusnya Aku juga akan memberikan semua hak mu sebagai istri."


Nada masih diam, ia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa saat ini.


Hingga Nada terkejut saat tiba-tiba saja Farhan menarik dagunya dan perlahan wajah Farhan mendekat ke wajahnya. Satu kecupan singkat mendarat di bibirnya yang membuat nya terlonjak kaget.


"Maaf Mas, sepertinya sekarang aku belum bisa...


Farhan mengerutkan keningnya,ca "Belum bisa apa?"


"Aku belum bisa memberikan hak Mas Farhan malam ini, karena aku sedang berhalangan." Jawab Nada dengan lirih,


Namun, itu sangat terdengar jelas ditelinga Farhan membuatnya sedikit menganga dengan kedua mata membulat. Ah pantas saja beberapa hari ini ia tidak melihat Nada shalat.


"Em, gak apa-apa, Nada. Aku hanya ingin mencium mu saja, hal yang belum pernah aku lakukan pada mu sejak kita menikah." Ucap Farhan sambil berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertian nya, Mas. Dan maaf...


"Tidak perlu meminta maaf karena itu bukan kehendak mu, anggap saja ini hukuman kecil untuk ku yang selalu menolak dan mengabaikan mu dulu." Ucap Farhan terdengar sangat tulus, namun dalam hatinya ia menggerutu karena ia sudah ingin menunaikan kewajibannya sebagai suami istri tetapi alam ikut menghukumnya.


__ADS_2