Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 42


__ADS_3

"Aku harus mengantarkan mu kemana, Sarah?" Tanya dokter Reno.


Membuat mama Sarah terhenyak dari lamunannya.


"Aku ingin melihat Putriku." Jawab mama Sarah.


"Baiklah," dokter Reno pun melajukan mobilnya meninggalkan area pemakaman, menuju sebuah rumah dimana Nada berada bersama seorang suster yang menjaganya.


Sepanjang perjalanan, sesekali dokter Reno menatap mama Sarah melalui kaca spion didepannya. Lama tak bertemu temannya itu masih saja cantik seperti dulu meski usianya tak lagi muda. Tanpa sadar senyum tipis tersungging di bibirnya. Entah bagaimana jika Sarah tahu bahwa ia pernah bersaing dengan almarhum suami temannya itu untuk mendekatinya. Dan sayangnya ia kalah cepat. Aditya, almarhum suaminya Sarah lebih dulu datang melamar Sarah. Sejak saat itulah ia menjauh dari kehidupan kedua temannya itu. Mengasingkan diri di luar kota hingga berhasil mencapai cita-citanya menjadi seorang dokter.


"Oh ya, Reno. Selama ini kamu tinggal dimana? Kami tidak pernah mendengar kabarmu?" Tanya mama Sarah setelah beberapa saat terdiam.

__ADS_1


"Setelah kamu dan Aditya menikah, aku pindah ke luar kota. Di sana aku juga bertemu sosok wanita yang perlahan mengisi hatiku sampai pada akhirnya kami menikah." Jawab dokter Reno sambil tersenyum kecut.


"Kalau begitu, kapan-kapan ajak aku bertemu dengan Istri dan Anakmu." Ucap mama Sarah.


Dokter Reno nampak menghela nafasnya, "Sama seperti Aditya, Istriku juga sudah meninggal tepat pada saat usia pernikahan kami yang ke-tiga tahun. Bahkan dia pergi membawa Putri kami yang masih berada didalam kandungannya, seorang Putri yang sudah lama kami nantikan. Jika mengingat saat itu, aku sangat menyesal karena meninggalkannya sendirian di rumah. Saat aku pergi tugas, rumah kami kerampokan dan Istriku menjadi korban penusukan perampok tersebut."


Mama Sarah sangat perihatin mendengar cerita temannya itu. Ternyata dokter Reno memiliki kisah yang cukup kelam, tidak seperti dirinya yang mesti ditinggal mati oleh suaminya tetapi ia masih beruntung memiliki dua orang anak yang menemani hari tuannya.


.


.

__ADS_1


.


Di sebuah kamar yang dilengkapi dengan peralatan medis, mama Sarah duduk di tepi tempat tidur sambil menatap wajah Nada yang nampak tenang dalam lelapnya.


Meski menatap Nada, namun sebenarnya pikiran mama Sarah sedang tertuju pada Alfan. Jika keponakannya itu tahu tentang rencana Kania yang ingin menyingkirkan Nada dari kehidupan Farhan, lalu kenapa Alfan tidak mengatakan apapun tentang itu? Kini banyak pertanyaan yang timbul dibenak mama Sarah yang masih belum dapat ia pecahkan.


Sementara itu, Alfan telah sampai di sebuah bangunan berlantai. Sebuah tempat yang sudah tiga tahun lamanya baru ia datangi lagi. Setelah menekan berapa digit angka sandi, iapun masuk kedalam sebuah unit apartemen miliknya. Meski sudah lama tidak ia datangi, namun apartemen tersebut tetap terlihat rapi karena ia memang selalu menyuruh orang untuk membersihkannya setiap satu minggu sekali.


Alfan pun membawa langkah kakinya menuju sebuah kamar. Dan ketika ia membuka pintu kamar itu, tatapannya pun langsung tertuju pada ranjang yang beralaskan sprei berwarna putih sembari mengibaskan sebelah tangannya kearah hidung seakan sedang mencium aroma yang sudah lama tidak pernah tercium olehnya.


"Hem, bahkan aroma percintaan kita masih dapat aku cium didalam kamar ini." Gumamnya sambil menyeringai tipis.

__ADS_1


__ADS_2