Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 37


__ADS_3

Untuk sesaat waktu seakan terhenti. Pemandangan mengerikan yang baru saja terjadi membuat semua orang yang berada di tempat itu seperti kehilangan akal sehat.


Detik itu juga Farhan berlari sekuat tenaga menuju dimana Nada sudah tergeletak tak berdaya di sisi jalan, sementara Alfa berlari menghampiri mama Sarah. Wanita baya itu seakan lumpuh seketika menyaksikan apa yang terjadi pada Nada, sehingga Alfan dengan kesusahan membantunya berdiri.


Sementara mobil yang menabrak Nada sudah melesat jauh menerobos keramaian jalan. Mobil tersebut sempat menabrak trotoar setelah menghantam tubuh Nada.


Farhan meraih tubuh istrinya yang masih setengah sadar. Ia memeluknya dengan erat, dirinya benar-benar disergap rasa ketakutan dan air matanya tumpah seketika.


Tubuh Nada berlumur cairan kental berwarna merah dengan beberapa luka ditubuhnya. Ia terdengar beberapa kali melenguh menahan rasa sakit yang teramat di sekujur tubuhnya.


Suasana sekitar pun mendadak terasa mencekam. Orang-orang yang berada di tempat kejadian langsung berhambur berkerumun mengelilingi Nada dan Farhan.


"Nada, kamu harus kuat!" Farhan mengusap wajah istrinya dalam kepanikan, kemudian ia menatap orang-orang yang berkerumun. "Tolong panggilkan ambulance!" Ucapnya dengan berteriak saking paniknya, bahkan ia melupakan jika membawa mobil sendiri.

__ADS_1


Salah satu dari orang-orang yang berkerumun itupun segera mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi ambulance.


"Mas Farhan," panggil Nada dengan lirih di sisa-sisa kesadarannya. Tangannya yang lemah terangkat mengusap wajah suaminya yang sudah basah dengan air mata, tatapannya mulai terlihat nanar. "Jangan menangis, Mas, aku gak apa-apa." Ucapnya nyaris tak terdengar saking lemahnya.


"Kamu harus bertahan, Nada. Kita akan ke rumah sakit, sebentar lagi ambulance akan datang." Farhan hanya dapat memeluk istrinya dengan erat dan menangis sejadi-jadinya.


"Mas Farhan," Nada memanggil sekali lagi. "Kalau aku gak selamat, aku hanya ingin Mas Farhan tahu bahwa aku sangat mencintaimu, Mas." Ucap Nada dengan suara terputus-putus, seiring dengan kesadarannya yang mulai melemah.


Farhan tak mampu menjawab. Yang dapat ia lakukan hanyalah memeluk tubuh Nada. Ketakutannya semakin menjadi ketika melihat Nada mulai kesulitan meraup udara. Dan detik itu juga kedua mata Nada mulai terpejam.


Isak tangis kembali terdengar. Beberapa kali mama Sarah berteriak histeris meneriaki nama Nada.


.

__ADS_1


.


.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Farhan terus menggenggam tangan istrinya dengan sesekali memanggil nama Nada.


"Nada, bangun!" Farhan mengguncang pelan tubuh istrinya.


Namun tak ada respon apapun dari Nada.


Hanya dalam beberapa menit, mobil ambulance pun memasuki pelataran rumah sakit. Beberapa orang perawat perawat dengan sigap membantu menurunkan korban kecelakaan dari dalam mobil ambulance tersebut, kemudian dengan tergesa-gesa mendorong brankar pasien menuju ruangan intalasi gawat darurat.


Farhan terduduk lemas didepan ruangan instalasi gawat darurat. Pikirannya seperti kosong menatap beberapa orang perawat yang keluar dan masuk secara bergantian kedalam ruangan berpintu kaca itu. Ia seperti kehilangan akal sehatnya, tak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


Farhan masih terduduk lemas menatap pintu ruangan instalasi gawat darurat yang kini tertutup dengan rapat. Tatapannya pun teralihkan pada mama Sarah yang nampak lemah didalam dekapan Alfan yang juga terlihat khawatir. Iapun beranjak dari duduknya untuk menghampiri mama Sarah. Namun, belum sampai tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing serta pandangannya berkunang-kunang. Dan detik itu juga ia langsung ambruk di atas lantai.


"Farhan...!


__ADS_2