
"Farhan Adinata bin Aditya Adinata, saya nikahkan dan kawinkan engkau kepada wanita yang bernama Nada Keysa Azzahra binti Muhammad Arifin dengan mas kawin seperangkat emas dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawin nya Nada Keysa Azzahra binti Muhammad Arifin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!" Jawab saksi beserta para tamu undangan dengan serentak.
Nada mengusap wajahnya seraya mengucap hamdalah setelah Farhan mengucap ijab Kabul dengan lantang dan dalam satu kali tarikan nafas.
Lega... Itulah yang di rasakan oleh Nada dan juga Farhan, begitupun dengan yang lainnya.
Usai penghulu membacakan doa pernikahan, Nada mencium punggung tangan Farhan dengan takzim dan Farhan pun mengusap pucuk kepala Nada yang terbalut hijab dengan lembut. Setelah itu giliran Farhan yang mencium kening Nada.
Lama...
Dalam...
__ADS_1
Hangat...
Dan begitu terlihat mesra. Nada memejamkan matanya kala merasakan bibir Farhan menempel di keningnya.
Usai mencium kening istrinya, Farhan menarik tubuh Nada kedalam pelukannya. Memeluk dengan erat sembari mengucap kata maaf berulang kali, seakan di ruangan itu hanya ada mereka berdua saja.
Semua yang ada di ruangan itu ikut terharu menyaksikan sepasang suami istri yang telah menyatu dalam ikatan pernikahan yang sesungguhnya.
Perlahan Farhan pun mengurai pelukan nya, dan langsung mengusap cairan bening di sudut mata Nada.
"Aku harap ini adalah air mata bahagia." Ujar Farhan sembari tersenyum, padahal ia juga ingin menangis.
Beberapa saat kemudian...
Para tamu undangan satu persatu mulai berpamitan pulang setelah mencicipi hidangan yang tersedia dan juga memberi selamat kepada Nada dan Farhan.
Hingga ruangan itu telah nampak sepi dan tinggal menyisakan sang penghulu untuk memberi sedikit wejangan. Dan sampai disini Alfan dan keluarganya masih belum juga terlihat, entahlah mungkin mereka tidak akan datang.
__ADS_1
"Menikah itu merupakan ikatan suci dan merupakan ibadah maka ibadah memerlukan niat yang tulus, sebab dari niat lah kita ambil hasilnya sebagaimana yang disabdakan rasul. Segala sesuatunya tergantung pada niat apa yang kita niatkan itulah yang kita peroleh. Jika dulu Nak Farhan menikahi istri karena menjalankan amanah , maka sekarang niatkan lah atas dasar kemauan Nak Farhan sendiri. Selain niat, ada kewajiban juga yang harus ditunaikan. Dalam mengarungi kehidupan berumah tangga pasangan suami istri tidak akan terlepas dari namanya kewajiban maka untuk sukses dalam berumah tangga tersebut suami istri harus paham dengan kewajibannya, kalaulah kedua pasangan paham dengan kewajibannya maka secara tidak langsung mereka sudah menerima haknya masing- masing. Dan yang paling penting tunaikan kewajiban kepada Allah. Salah satu kewajiban kita kepada Allah adalah melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam, shalat yang kita laksanakan tersebut dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dalam menjalani kehidupan berumah tangga tentu tidak akan terlepas dari perbuatan- perbuatan tersebut maka untuk membentenginya adalah dengan shalat. Dan juga jauhilah larangan dalam pernikahan. Pasangan suami istri setidaknya paham dengan larangan- larangan dalam pernikahan seperti tidak meniatkan nikahnya sementara, tidak melanggar sumpah dan tidak saling tuduh menuduh dari perbuatan yang tidak baik. Itulah kunci kesuksesan dalam membina hubungan rumah tangga yang baik."
Farhan dan Nada hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tipis menanggapi nasihat sang penghulu.
"Dan satu lagi. Jika Allah memberi keturunan kepada kalian berdua, maka anak itulah amanah yang harus dipertanggung jawabkan, maka untuk mempertanggung jawaban ada beberapa kewajiban kita sebagai orang tua yang harus kita laksanakan seperti mengazankan anak diwaktu lahirnya, memberikan nama yang terbaik untuk anak, memberikan makanan halal lagi baik, memberikan pendidikan terutama pendidikan agama dan menikahkan mereka kalau sudah sampai umurnya."
Farhan langsung menoleh menatap Nada saat penghulu mengatakan soal keturunan. Tersirat rasa bersalah yang begitu dalam di hati Farhan kala mengingat dulu ia selalu menolak memberikan nafkah batin itu untuk Nada.
.
.
.
Beberapa saat mengobrol ringan, penghulu tersebut pun berpamitan untuk pulang.
Tak lama setelah penghulu pergi, terdengar ucapan salam di ambang pintu. Nada dan Farhan, beserta mama Sarah dan bi Ida serentak menoleh kearah pintu.
__ADS_1
Di ambang pintu, tubuh Alfan mematung dengan kedua mata tak berkedip saat tatapannya tertuju pada mempelai pengantin wanitanya.
"Tante Nada...