Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 73


__ADS_3

"Biar kamu dirawat beberapa hari lagi ya, Nak? Badan kamu belum pulih benar." Ibunya Kania terus membujuk putrinya agar tetap dirumah sakit.


Namun, Kania tetap kekeuh ingin pulang karena ia sudah tidak ingin melihat laki-laki yang sudah membuatnya masuk ke rumah sakit ini. Jika ia terus-menerus berada dirumah sakit, maka ia akan terus melihat Alfan karena hampir setiap hari laki-laki itu datang menjenguknya. Seperti hari ini.


Di sofa, Alfan duduk dengan raut wajah datar sambil memperhatikan perdebatan ibu dan anak itu tanpa ada niat untuk menengahi. Jika Kania memang ingin pulang ia tidak bisa mencegahnya.


Derit pun ruangan yang terbuka mengalihkan perhatian Alfan, Kania dan juga ibunya. Ketiga membeku melihat siapa yang datang.


Alfan langsung menyandarkan tubuhnya di sofa melihat adik sepupunya datang. Sementara Kania tersenyum melihat kedatangan mantan suaminya itu, namun setelah menyadari adanya kilatan kemarahan di mata Farhan ia langsung menundukkan kepalanya.


Ketika telah masuk kedalam ruang perawatan itu, Farhan langsung menghampiri ibunya Kania dan mencium punggung tangan wanita baya itu. Meskipun Kania bukalah lagi istrinya bukan berarti ia juga harus mengabaikan ibunya Kania.


Setelah mencium punggung tangan ibunya Kania, Farhan menegakkan tubuhnya lalu maju beberapa langkah menghampiri Kania yang terduduk di atas ranjang pasien.

__ADS_1


Kemudian Farhan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya lalu menunjukkannya tetap didepan mata Kania.


Kedua mata Kania membulat melihat gelang yang ia cari-cari ternyata ada bersama Farhan.


"Oh iya itu gelang ku, Mas. Aku memang mencarinya ternyata ada dengan Mas Farhan?" Ujar Kania sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil gelang itu.


Detik itu juga Farhan langsung terkekeh kemudian menenggelamkan gelang itu kedalam genggamnya, "Bagus sekali, ternyata kau mengakui ini adalah gelang mu. Apa kau tidak ingin bertanya dimana aku menemukannya?"


"Di mana, Mas?"


Kali ini Kania hanya mengangguk pelan kepalanya sebagai pertanyaan. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu masalah akan kembali menimpanya.


"Salah satu warga desa itu menemukan gelang ini diatas bukit. Tempat, dimana Nada terperosok jatuh ke jurang. Dan kau sangat tahu pasti bukan? Bahwa Nada bukan jatuh karena tergelincir tetapi ada yang sengaja mendorongnya!" Farhan menekankan kata di akhir kalimatnya.

__ADS_1


Yang seketika membuat Kania pias, bagaimana Farhan bisa mengetahui hal itu? Hanya Nada sendiri yang tahu tentang kejahatannya itu.


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu sejahat itu, Kania! Nada itu tidak bersalah apapun padamu karena diapun sama sepertimu tidak tahu apa-apa. Aku lah yang salah karena sudah tidak jujur padanya sejak awal. Jika kau ingin menghukum, hukum aku bukan Nada!"


"Jika bukan karena Nada, pasti aku sudah menjebloskan kalian berdua ke kantor polisi! Berterimakasih lah pada Nada yang sudah berbaik hati mau memaafkan perbuatan kalian berdua!" Ujar Farhan dengan berapi-api.


Kania tertunduk, setetes cairan bening menetes dari sudut matanya. "Andai saja bisa, aku akan meminta maaf padanya, Mas. Aku...


"Aku sudah memaafkan nya." Ucap seseorang yang tiba-tiba masuk.


Kania mengangkat pandangannya, tubuhnya seketika bergetar kala tatapannya menangkap sosok yang ia tahu telah tiada.


"Kenapa marah-marah, Mas? Bukankah aku sudah memeringati agar Mas Farhan tidak marah-marah?" Ujar Nada yang telah berdiri di samping Farhan.

__ADS_1


Farhan langsung mengusap wajahnya seiring menghela nafas panjang. "Maaf, aku terbawa emosi."


Kania sampai menepuk sebelah pipinya, untuk memastikan jika ia hanya sedang bermimpi. Tidak mungkin orang yang telah mati bisa bangkit lagi.


__ADS_2