Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 62


__ADS_3

"Buku nikah kita hilang, Nada. Tapi aku akan berusaha mencarinya lagi." Ujar Farhan setelah beberapa saat terdiam. Lagi dan lagi ia terpaksa membohongi Nada. Untuk masalah yang sebenarnya tidak akan ia ceritakan sekarang mengingat kondisi Nada yang belum begitu stabil setelah bangun dari koma.


"Hilang? Bagaimana bisa hilang?" Tanya Nada dengan kening mengkerut.


"Aku lupa menyimpan nya dimana." Jawab Farhan.


Namun, jawabannya itu tak serta merta membuat Nada merasa puas. Jawaban yang diberikan Farhan seperti tak masuk akal baginya. Bagaimana benda penting seperti itu bisa hilang.


Nada menatap Farhan dan mama Sarah bergantian. Melihat raut wajahnya keduanya entah kenapa ia merasa sedang dibohongi.


"Mama dan Mas Farhan tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" Tanya Nada lagi.


Farhan hanya dapat menggeleng pelan, sementara mama Sarah mengalihkan perhatiannya kearah lain dalam beberapa detik.


"Nada, sebaiknya sekarang kamu istirahat, Nak. Jangan terlalu banyak berpikir dulu, nanti kepala kamu sakit lagi." Ujar mama Sarah lalu mengajak Nada ke kamarnya.


Farhan seketika menghela nafas lega sambil mengusap dada ketika mama Sarah telah membawa Nada pergi. Untuk saat ini ia terbebas dari perangkap yang ia buat sendiri. Namun tidak menutup kemungkinan jika Nada tidak akan kembali menanyakan hal-hal yang akan membuatnya mati kutu, dan ia harus mempersiapkan diri untuk itu.

__ADS_1


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul lima sore ketika Farhan pulang dari kantor.


Farhan yang akan ke kamarnya, menghentikan langkah ketika indera penciumannya menangkap aroma makanan favoritnya dari arah dapur. Iapun memutar tubuh lalu melangkah menuju dapur.


Aroma udang goreng crispy itu seakan menariknya untuk mencicipi. Sudah lama ia tidak memakan lagi makanan favoritnya itu.


Farhan terus memperhatikan gerakan tangan Nada yang membolak-balik udang goreng crispy didalam penggorengan. Kemudian berpindah menatap Nada dengan tatapan yang tak terbaca.


Kedua tangan Farhan terkepal erat melawan keinginan untuk memeluk Nada. Rasanya ingin sekali, namun hal itu tidak mungkin dilakukannya.


Farhan pun menggeser posisinya berdiri di samping Nada, yang akhirnya keberadaannya pun dapat dilihat oleh Nada.

__ADS_1


"Mas Farhan, kapan pulangnya?"


"Baru aja. Tadinya aku mau langsung ke kamar tapi aroma udang goreng crispy ini menarik aku kemari." Jawab Farhan sambil tersenyum.


"Kamu gak mau cium tangan aku?" Tanyanya sembari mengulurkan tangan.


Namun, Nada hanya menatapnya tanpa menyambut.


Amnesia yang dialaminya membawanya pada masa lalu, dimana ia dan Farhan adalah adik kakak, yang membuatnya tentu merasa risih untuk bersentuhan dengan Farhan barang sekedar mencium tangan. Karena yang Nada tekanan adalah ia dan Farhan tidak sedarah.


Farhan pun menarik kembali tangannya dengan perasaan kecewa. Namun, ia juga harus sadar akan posisinya saat ini di pikiran Nada. Ia tidak semestinya terlalu memaksakan kehendak yang akan membuat Nada merasa tertekan.


Hening pun tercipta, baik Farhan maupun Nada tak ada lagi yang bersuara. Hanya suara spatula yang beradu dengan wajan yang terdengar di dapur itu.


Nada melanjutkan acara memasaknya seolah tidak ada Farhan, dan Farhan sendiri memilih untuk mencicipi udang goreng crispy yang sudah matang.


Hingga tak lama kemudian, bi Ida datang dengan langkah tergesa.

__ADS_1


"Den Farhan, diluar ada Den Alfan ingin bertemu." Ujar bi Ida.


Seketika Farhan dibuat tersedak.


__ADS_2