
Hanya dalam waktu tiga hari, Farhan mampu mengurus segala persiapan untuk ijab kabul ulang nya bersama Nada. Bukan hanya sekedar ijab Kabul ulang sebenarnya, bisa dikatakan ini adalah pernikahan karena Farhan mempersiapkan segalanya dengan penuh kesungguhan. Tak hanya mempersiapkan penghulu dan juga beberapa saksi, tetapi juga dekorasi rumah dan undangan kepada para tetangga sekitar dan juga mengundang rekan-rekan kerjanya dan teman-teman Nada sesama guru. Hal ini tentu mengejutkan semua orang karena yang mereka tahu Nada telah meninggal. Namun, kecuali keluarga Alfan, mereka tidak diberitahukan siapa mempelai wanitanya.
Di dalam kamar yang telah dihiasi layaknya kamar pengantin, Nada terlihat begitu gugup sembari menatap pantulan dirinya didepan cermin yang terbalut gaun pengantin. Masih gaun pengantin yang sama dengan yang ia kenakan dulu saat menikah dengan Farhan.
Baginya ini hanyalah ijab kabul ulang, tetapi inilah awal kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya yang akan ia jalani. Di mana ia dan Farhan akan memulai semuanya dari awal, membuka lembaran baru dimana hanya ada tentang ia dan Farhan.
Beberapa saat terus menatap dirinya di depan cermin, tiba-tiba ia teringat dengan almarhum sosok papa yang katanya telah menitipkan nya pada Farhan.
"Segitu sayangnya Papa pada ku sampai-sampai harus meminta Putra Papa sendiri untuk menikahi ku."
__ADS_1
Nada tersenyum kecut, jika dipikir sebenarnya Farhan tidak bersalah apapun karena Farhan hanya sedang menjalankan amanah dari papanya saja. Salah nya karena Farhan tidak pernah jujur dan mengatakan semuanya sebelum pernikahan itu terjadi.
Nada merasa senang karena Farhan sudah berjanji untuk memperbaiki pernikahan mereka dan akan belajar mencintainya. Tetapi tetap saja ada sedikit rasa yang berkecamuk di dada, karena bagaimanapun juga ada wanita lain yang pernah singgah di hati Farhan.
Nada mengulas senyum sambil mengusap cairan bening yang menetes di sudut matanya.
Seharusnya ia bahagia hari ini, karena mulai hari ini pernikahan yang sesungguhnya akan ia jalani bersama laki-laki pertama yang telah membuat nya jatuh hati untuk pertama kalinya.
Nada pun menoleh menatap wanita yang telah membesarkannya itu. "Iya, Ma." Jawab nya sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Mama Sarah pun membalas senyuman Nada lalu merangkul lengan putri yang ia besarkan dengan sepenuh hati meskipun tak memiliki hubungan darah.
"Semoga mulai hari dan seterusnya rumah tangga mu dan Farhan akan selalu di limpahkan dengan kebahagiaan ya, Nak. Di sana Papa juga pasti bahagia melihat kamu bahagia." Ujar mama Sarah, ia tersenyum namun matanya berkaca-kaca mengingat almarhum suaminya.
"Nanti kita ziarah ke makam Papa sama-sama ya, Ma?"
Mama Sarah mengangguk, memang sudah lama ia tidak pernah menziarahi makam suaminya lagi.
Di ruang tamu yang sudah dihiasi dengan indah, para tamu yang terdiri dari para tetangga, para rekan kerja Farhan dan juga para teman Nada sesama guru sudah memenuhi tempat tersebut. Terkecuali Alfan dan keluarganya yang belum terlihat. Sejujurnya ini cukup mengejutkan bagi Alfan, karena Nada belum lama meninggal dan Farhan baru saja bercerai dengan Kania tetapi adik sepupunya itu sudah akan menikah lagi entah dengan wanita mana.
__ADS_1
Farhan juga sudah duduk berhadapan dengan penghulu, bersama para saksi.
Farhan langsung mengangkat pandangan saat Nada datang bersama mama Sarah. Dadanya seketika berdebar cepat kala Nada sudah duduk di sampingnya. Berbeda saat dulu ia terpaksa menikahi Nada, ia tak merasakan desiran apapun di hatinya.