Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 38


__ADS_3

Jari-jari Farhan mulai bergerak seiring kedua matanya yang mulai terbuka, pandangannya menyapu seluruh ruangan yang asing dimatanya.


"Aku dimana?"


Kania yang duduk di sofa menunggu Farhan sadar, dengan cepat bangkit dan menghampiri suaminya.


"Syukurlah, akhirnya Mas Farhan sadar juga."


"Kania, bagaimana kamu bisa ada disini?" Tanya Farhan seraya memijat pelipisnya. Kepalanya sedikit masih terasa pusing.


"Mas, aku bekerja dirumah sakit ini. Beberapa jam lalu aku juga terkejut saat melihat Mas Alfan dan Mama Sarah terlihat panik sambil mendorong brankar yang diatasnya adalah kamu, Mas. Mas Alfan bilang tiba-tiba saja kamu pingsan." Tutur Kania apa adanya. Disini ia merasa bersalah setelah memeriksa keadaan suaminya tiga jam lalu. Farhan yang tiba-tiba saja pingsan itu dikarenakan asam lambungnya yang kambuh, tadi pagi Farhan memang tidak sarapan sebelum pergi dan itu karena ia memang tidak sempat membuat apapun untuk sarapan suaminya barang sekedar roti bakar saja.


"Kania, sekarang Mama dan Mas Alfan ada dimana?" Tanya Farhan kemudian.


"Mas Alfan dan Mama Sarah sudah pulang, Mas, bersama...


"Apa, pulang?" Dengan cepat Farhan bangun kemudian langsung saja turun dari ranjang pasien.

__ADS_1


"Bagaimana mereka bisa pulang, lalu siapa yang menjaga Nada?" Gerutunya sambil berjalan keluar dari ruangan itu.


"Mas, mereka pulang bersama Nada." Ujar Kania yang berhasil menghentikan langkah Farhan.


Farhan membalik badannya menatap Kania dengan kening mengkerut.


"Kamu jangan mengada-ada, Kania. Nada tidak mungkin pulang dalam kondisi yang terluka parah!" Bahkan suara rintihan Nada yang menahan kesakitan di sekujur tubuhnya masih terngiang-ngiang ditelinga nya.


Kania pun melangkah mendekati Farhan, lalu mengusap punggung kokoh suaminya itu. "Aku tidak mengada-ada, Mas. Mama Sarah dan Mas Alfan memang sudah pulang bersama jenasahnya Nada."


Untuk beberapa detik Farhan terlihat membeku mendengar ucapan Kania, ia berusaha mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh istri keduanya itu. Dan di detik berikutnya Farhan menggeleng kuat kepalanya lalu berlari begitu saja keluar dari ruangan tersebut. Kania pun dengan segera menyusul suaminya.


"Sus, pasien kecelakaan yang tadi dibawa keruangan ini sekarang dipindahkan ke ruangan mana?" Tanya Farhan dengan nafas tersengal, pada seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan instalasi gawat darurat membawa sebuah kain berwarna putih yang terdapat bercak darah dibeberapa bagian.


"Maksud Bapak, Ibu Nada Keysa Azzahra?" Tanya suster itu.


Farhan langsung mengangguk," Iya, Sus, dia itu Istri saya. Sekarang dia dipindahkan ke ruangan yang mana?" Tanyanya tak sabar, dalam hati ia merutuki dirinya yang tiba-tiba saja pingsan. Ia jadi tidak tahu bagaimana perkembangan kondisi Nada.

__ADS_1


"Maaf, Pak, jenasahnya sudah dipulangkan oleh keluarganya." Jawab suster itu.


Lagi-lagi Farhan dibuat tercengang mendengar penuturan suster tersebut. Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya berharap apa yang didengarnya adalah salah.


"Sus, itu gak mungkin, Istri saya tidak mungkin meninggal?"


"Maaf, Pak, memang begitulah kenyataannya. Ibu Nada sempat kritis sebelum akhirnya berhenti bernafas."


"Gak, gak mungkin!"


"Sabar, Mas, kita harus bisa mengikhlaskan kepergian Nada." Ujar Kania yang telah berdiri di samping suaminya.


Namun, Farhan tak menghiraukan. Ia tidak percaya jika Nada sudah meninggal. Saat ini juga ia harus bertemu mama Sarah dan Alfan meminta penjelasan dari mereka.


Kania hanya dapat menatap kepergian suaminya dengan senyum tipis di bibirnya, tanpa berniat untuk mencegah ataupun menyusul karena menurutnya itu percuma. Saat ini Farhan tidak akan mau mendengar apapun darinya, biarlah suaminya itu menyaksikan sendiri pemakaman wanita yang memang ingin disingkirkannya dari hidup Farhan.


Masih terus menatap langkah Farhan yang mulai menjauh, perhatian Kania teralihkan pada ponselnya yang bergetar didalam saku jas putih yang dipakainya. Bibirnya berdecak pelan melihat pesan yang dikirim seseorang.

__ADS_1


[Aku sudah melakukan permintaan mu, tinggal giliran mu yang memberikan imbalan ku. Aku tunggu nanti malam di apartemen ku, kalau kau tidak datang maka jangan salahkan jika aku sampai buka mulut.]


__ADS_2