
Satu bulan kemudian...
"Nada, ayo bangun, Nak. Kamu sudah terlalu lama tidur." Ujar mama Sarah sambil mengusap punggung tangan Nada.
Wajah Nada tampak tenang dalam tidur panjangnya. Seolah tidak ada beban apapun.
"Sarah, bagaimana kalau kita pertemukan dia dengan Suaminya. Mungkin saja itu bisa memberikan rangsangan pada Nada." Saran dokter Reno, dan di setujui oleh suster yang menjaga Nada itu.
Namun, mama Sarah menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau mengambil resiko, Reno. Kalau Farhan tahu Nada ternyata masih hidup tak menutup kemungkinan orang-orang yang ingin mencelakai nya perlahan juga akan tahu."
Dokter Reno nampak menghela nafasnya, ia mengerti akan kekhawatiran temannya itu akan keselamatan putrinya.
"Baiklah Sarah. Kalau begitu aku pamit berangkat ke rumah sakit dulu. Apa kamu masih mau disini?" Tanya dokter Reno kemudian.
__ADS_1
Mama Sarah mengangguk, " Iya, aku masih mau disini. Kamu hati-hati di jalan." Ucapnya.
Dokter Reno pun berbalik hendak keluar dari kamar itu, namun saat teringat sesuatu ia kembali membalik badannya menatap mama Sarah.
"Sepertinya dugaanmu benar, kalau Kania dan Alfan itu bekerja sama, karena beberapa kali aku melihat Alfan datang ke rumah sakit menemui Kania." Ujar dokter Reno.
Mama Sarah nampak mengepalkan tangannya, tidak menyangka jika keponakan yang ia anggap baik selama ini ternyata musuh dalam selimut. Namun, sayangnya ia tidak tahu apa tujuan Alfan bekerja sama dengan Kania untuk mencelakai Nada.
"Kamu jangan khawatir, Sarah. Aku akan selalu ada untuk membantu kamu kapan pun kamu butuhkan. Untuk Kania dan Alfan sebisa mungkin aku akan mencari tahu apa sebenarnya hubungan mereka." Ujar dokter Reno.
Mama Sarah pun tersenyum tipis, dalam keadaan seperti ini ia bersyukur masih memiliki seorang teman yang dapat membantunya.
"Terimakasih, Reno.
Sementara itu di rumah sakit.
__ADS_1
Tepatnya didalam ruangan Kania.
Wanita itu nampak mondar-mandir menunggu suster yang beberapa saat lalu membantu memeriksa keadaan nya.
Sebagai seorang dokter, Kania tentu tahu apa yang terjadi pada dirinya selama tiga minggu belakangan. Apalagi ia sudah tidak mendapati tamu bulanan nya.
Tak lama kemudian suster yang di tunggu nya pun datang. Suster itu memberikan sebuah amplop putih yang berisi hasil pemeriksaan Kania lalu keluar dari ruangan itu.
Dengan perasaan cemas dan tangan nampak bergetar Kania membuka amplop itu, mengeluarkan selembar kertas didalamnya.
Kedua mata Kania seketika membulat setelah membaca apa yang tertulis di kertas itu.
Keningnya seketika basah dengan peluh setelah membaca barisan yang bertuliskan dirinya telah hamil tiga minggu.
Dan Kania tahu pasti bahwa janin dalam kandungannya itu bukanlah darah daging Farhan, karena suaminya itu sudah lama tidak pernah menyentuhnya lagi. Terakhir kali mereka melakukan hubungan badan hampir sekitar dua bulan lalu sebelum ia pergi ke desa kala itu untuk mencelakai Nada.
__ADS_1
"Sial, kenapa aku ceroboh sekali!" Kania mengusap wajahnya dengan frustasi. Kenapa malam itu ia tidak terpikirkan untuk meminta Alfan menggunakan pengaman seperti tiga tahun lalu saat pertama kali mereka melakukannya.
Bagaimana sekarang? Bagaimana kalau Farhan tahu dirinya telah hamil tiga minggu. Farhan tidak sebodoh itu untuk ia kelabui. Dan jalan satu-satunya adalah membuat rekayasa bahwa dirinya telah hamil dengan usia sudah lebih dari satu bulan, sesuai dengan terakhir kali ia dan Farhan melakukan hubungan badan.