
"Kenap kamu jalan nya seperti itu?" Tanya Farhan pada istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Nada hanya mendelikkan mata nya lalu berjalan kearah tempat tidur kemudian duduk di tepi ranjang.
"Nada, aku tanya kamu kenapa? Apa tadi kamu habis jatuh di kamar mandi? Coba lihat mana yang sakit." Farhan berjongkok lalu menyingkap gamis istrinya untuk memeriksa kakinya.
"Mas, kaki ku tidak sakit dan aku tidak habis jatuh." Ujar Nada dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
Farhan mendongak menatap istrinya dengan mata menyipit," terus kamu kenapa dong?" tanya nya.
Nada menekan pangkal hidungnya sambil menghela nafas panjang, entah bagaiman ia menjawab pertanyaan Farhan yang jelas-jelas itu adalah karena perbuatan suaminya itu sendiri.
"Hei, kok diam sih, aku tanya loh?"
Sekali lagi Nada menghela nafas sambil membenarkan posisi duduknya yang terasa tak nyaman.
"Mas, tolong peka lah sedikit." ujar Nada dengan raut yang terlihat frustasi.
__ADS_1
"Ya ampun, aku sudah khawatir gini masih kamu bilang tidak peka." tutur Farhan, iapun terlihat serius.
"Masa kamu gak ngerti sih kalau aku jalan nya seperti itu karena...
"Karena apa?" tanya Farhan terlihat serius, sementara Nada tampak geram pada suaminya itu yang entah memang tidak peka atau memang benar-benar tidak tahu.
Nada pun memilih diam, malas sekali ia meladeni pertanyaan suaminya itu yang terdengar konyol, lebih baik ia mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk dan itu juga karena ulah suaminya ini.
Nada menaikan seluruh tubuhnya ke atas tempat tidur lalu berbaring miring membelakangi suaminya.
Nada terkejut karena tiba-tiba Farhan memeluknya dari belakang sambil mengucap kata maaf yang membuat nya bingung.
"Maaf untuk apa, Mas?" Tanya Nada.
"Maaf karena semalam aku terlalu bersemangat dan membuat mu seperti ini. Itu karena aku ingin hasil dari buah cinta kita segera tumbuh didalam sini." Ujar Farhan sembari meraba perut istrinya. Farhan tersenyum membayangkan kelak rumah mereka diramaikan dengan suara tangis dan tawa anak-anak mereka.
Nada pun terkekeh mendengarnya, ia pikir suaminya ini tidak peka.
__ADS_1
Farhan memeluk istirnya dengan erat sembari mengecup pucuk kepala Nada berulang kali. Jika saja tidak malu ia akan mengucapkan ribuan kata terima kasih karena Nada telah menjaga mahkotanya hanya untuknya. Berbeda dengan Kania, ia sudah dikecewakan saat malam pertama mereka dulu.
.
.
.
Di ruang makan, mama Sarah dan bi Ida sudah duduk manis menunggu Farhan dan Nada untuk sarapan bersama. Namun, sudah lewat dari jam biasanya sepasang suami istri itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Karena sudah merasa lapar, mama Sarah pun memulai sarapan nya lebih dulu. "Sudah jam delapan tapi mereka belum keluar kamar juga." Ucapnya sambil menyuap nasi goreng kedalam mulutnya.
"Biasalah Bu, anggap saja mereka itu pengantin baru." Kekeh bi Ida, kemudian juga menyendok nasi goreng kedalam piringnya.
Mama Sarah tersenyum, tentu ia paham apa maksud ucapan bi Ida. Dan ia mendoakan semoga kedua anak-anaknya itu selalu dilimpahkan dengan kebahagiaan dan tidak akan terpisahkan lagi.
Bi Ida dan mama Sarah pun pagi ini sarapan berdua tanpa menunggu Nada dan Farhan terlebih dulu seperti biasanya. Karena mungkin saja pasangan suami istri itu masih tidur atau mungkin saja....... Apapun itu, mereka tidak ingin mengganggu sepasang suami istri itu.
__ADS_1