
"Mas Alfan, aku harap ini yang terakhir kali kita melakukan ini. Aku mohon biarkan aku hidup dengan tenang bersama Mas Farhan!" Ujar Kania yang kini telah nampak segar setelah membersihkan diri, sementara Alfan masih saja berbaring di atas tempat tidur dengan bertelanjang dada.
Alfan hanya melirik Kania sekilas lalu kembali memainkan ponselnya.
"Kita lihat saja nanti." Ujar Alfan dengan cuek tanpa melihat kearah Kania.
Menikmati tubuh Kania adalah salah satu pembalasannya untuk Farhan. Karena Farhan ia jadi kehilangan sosok istri yang selalu memberinya kehangatan di setiap malamnya.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Kania langsung saja pergi meninggalkan apartemen Alfan. Sepanjang langkah ia merutuki dirinya yang tertidur hingga pagi hari. Seharusnya ia pulang setelah Alfan puas menikmati tubuhnya. Entah apa yang harus ia katakan nanti pada Farhan jika suaminya itu bertanya kemana ia seharian tidak pulang.
Namun, sesampainya di rumah Kania cukup bernafas lega karena ternyata Farhan tidak ada. Ia pun berpikir jika mungkin suaminya itu saat ini berada dirumah mama Sarah, sedang berduka atas kepergian Nada.
Mengingat Nada yang telah tiada untuk selama-lamanya, Kania tertawa seorang diri didalam kamarnya. Kini ia adalah satu-satunya istri Farhan. Untuk beberapa saat suaminya itu mungkin akan masih dalam suasana berduka, tetapi lambat laun Farhan akan melupakan Nada dan ia bisa memiliki Farhan seutuhnya.
Namun, tawanya itu mereda kala teringat dengan Alfan. Ia tidak bisa menjamin jika kakak iparnya itu tidak akan menganggu nya lagi. Sepertinya ia juga harus memikirkan cara untuk lepas dari belenggu Alfan.
.
.
.
__ADS_1
Sementara itu, Alfan yang juga telah selesai membersihkan diri. Ia langsung meninggalkan apartemen nya dan tujuannya sekarang adalah mendatangi rumah tantenya.
Sesampainya di rumah mama Sarah, ia disambut oleh bi Ida dan langsung menuntun nya ke ruang tamu.
Tak lama kemudian mama Sarah pun datang menghampiri keponakannya itu.
"Tante," Alfan langsung memeluk tantenya itu sembari mengusap punggung, seolah sedang memberi kekuatan atas duka yang menimpa mereka.
"Yang sabar ya Tante, kita doakan semoga Nada mendapat tempat terbaik di sana." Ujar Alfan setelah melepas pelukannya.
"Iya, Alfan. Rasanya ini semua seperti mimpi. Tante benar-benar merasa kehilangan, Tante gak nyangka jika Nada akan pergi secepat ini." Ucap mama Sarah dengan ekspresi sesedih mungkin didepan Alfan.
Mama Sarah mendudukkan tubuhnya di sofa sambil mengusap sudut matanya yang sebenarnya tidak ada setitik pun air matanya yang menetes. Diam-diam ia melirik Alfan yang juga telah duduk disampingnya, wajah nampak tenang seperti tidak ada kesedihan apapun. Seharusnya keponakannya itu juga bersedih atas kepergian Nada karena yang ia tahu Alfan juga menyukai Nada.
"Oh ya Tante, apa Farhan ada disini?" Tanya Alfan kemudian.
"Ada, dia ada dikamar nya Nada. Dari semalam dia gak pernah keluar dari kamar Nada." Jawab mama Sarah.
"Kalau begitu aku mau bertemu Farhan sebentar ya, Tante." Pamit Alfan, ia langsung beranjak begitu tantenya itu mengangguk.
Dengan langkah cepat Alfan berjalan menuju kamar Nada, ia sudah tak sabar ingin melihat bagaimana terpuruknya Farhan saat ini.
__ADS_1
Sesampainya di kamar Nada, ternyata Farhan sedang tertidur dengan memeluk foto Nada.
Alfan pun mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, lalu dengan pelan mengambil foto Nada yang ada dalam pelukan Farhan.
"Beristirahat lah dengan tenang di sana, Nada. Kamu tidak perlu memikirkan Farhan disini karena dia masih memiliki satu Istri lagi yang bisa mengurus nya. Oh ya, jika kamu bertemu Hana sampaikan padanya bahwa aku sangat merindukan nya." Ucap Alfan lalu terkekeh, ia sudah bagaikan orang tak waras.
Alfan mengembalikan foto Nada dalam pelukan Farhan, lalu menatap adik sepupunya itu dengan sorot mata yang tajam. Ia dapat melihat kelopak mata Farhan yang nampak sembab menandakan bahwa Farhan habis menangis dalam waktu yang cukup lama.
Alfan pun tersenyum puas melihat keadaan Farhan saat ini.
"Ini belum seberapa sakit, Farhan. Bersiaplah menerima kesakitan yang teramat mendalam dari Kania nantinya." Gumam Alfan sembari beranjak dari tempat duduknya.
Sekali lagi ia menatap Farhan dengan tajam untuk beberapa detik, kemudian keluar dari kamar itu.
Sementara itu mama Sarah yang sedari tadi mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, langsung pergi begitu melihat Alfan yang hendak keluar. Ia segera kembali ke ruang tamu dan tak lama kemudian Alfan pun datang.
"Tante, maaf ya aku gak bisa lama-lama disini. Aku harus ke restoran." Ujar Alfan berpamitan. Setelah menyalami punggung tangan tantenya ia segera pergi.
Setelah Alfan pergi, mama Sarah langsung kembali ke kamarnya. Didalam kamar wanita baya itu mondar-mandir sambil mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh Alfan saat berada didalam kamar Nada beberapa saat lalu.
[Beristirahat lah dengan tenang di sana, Nada. Kamu tidak perlu memikirkan Farhan disini karena dia masih memiliki satu Istri lagi yang bisa mengurus nya. Oh ya, jika kamu bertemu Hana sampaikan padanya bahwa aku sangat merindukan nya.]
__ADS_1
[Ini belum seberapa sakit, Farhan. Bersiaplah menerima kesakitan yang teramat mendalam dari Kania nantinya.]
"Ya Allah, apa sebenarnya yang tidak aku ketahui? Tolong beri aku petunjuk!"