Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 66


__ADS_3

"Aku akan menghubungi keluarga mu, dan aku juga sudah siap bila mereka ingin menuntut perbuatan ku." Ucap Alfan sesaat setelah pintu ruangan yang baru saja dilewati Farhan telah tertutup.


"Tidak perlu mengatakan apapun pada mereka, bilang saja pada keluarga ku untuk menjemput ku pulang." Kata Kania tanpa melihat kearah lawan bicaranya.


Pasrah adalah pilihannya saat ini, menghukum laki-laki yang telah membuatnya terbaring lemah diatas ranjang pasien sudah tidak ada gunanya lagi menurutnya. Karena bagaimanapun ia juga turut andil atas semua yang telah terjadi.


"Tapi, aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku, bukan?"


Kania tak menanggapi, wanita yang telah menyandang status janda itu hanya memejamkan mata di tengah perih yang ia rasakan di sekujur tubuhnya. Ia tidak ingin memperdulikan apapun lagi, sekalipun Alfan akan menyerahkan dirinya sendiri kepada pihak yang berwajib.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika Farhan sampai dirumah. Dengan wajah yang nampak muram laki-laki itu mengayun langkah masuk ke rumah begitu bi Ida membukakan pintu.


Di saat akan menuju kamarnya, langkah Farhan terhenti ketika mendengar namanya di panggil. Iapun menoleh dan ternyata Nada yang memanggilnya.

__ADS_1


"Kamu belum tidur?" Tanya Farhan ketika Nada telah berdiri didepannya.


"Belum bisa tidur, Mas." Jawab Nada lalu terdiam sejenak.


"Bagaimana keadaan Kania sekarang, Mas?" Tanyanya lagi yang membuat Farhan mengerutkan keningnya.


Bukankah Nada sedang mengalami amnesia, lalu bagaimana bisa menanyakan tentang Kania?


"Nada, Kamu...


"Nada sudah ingat semuanya." Jawab mama Sarah yang tiba-tiba saja datang bersama dokter Reno dan bergabung diantara Farhan dan Nada.


"Gak lama setelah kamu pergi, Nada terjatuh dari tangga saat akan ke kamar Mama dan kepalanya terbentur untungnya tidak ada luka hanya sedikit memar." Ujar mama Sarah.


Mendengar itu sontak Farhan langsung mendekati Nada untuk memeriksa kepalanya.


"Gak apa-apa kok, Mas, hanya memar aja." Ujar Nada seraya menahan tangan Farhan yang hendak menyentuh kepalanya.


"Iya Farhan, tadi Om juga udah periksa dan Nada gak apa-apa." Sahut dokter Reno.

__ADS_1


Farhan pun bernafas lega. Dan ketika mengingat ucapan mama Sarah yang mengatakan Nada telah mengingat semuanya membuatnya merasa senang sekaligus juga merasa khawatir jika Nada akan tetap melanjutkan perceraian dan tidak akan memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


"Baiklah kalau begitu Om pamit pulang dulu." Ujar dokter Reno memecah keheningan yang terjadi beberapa saat.


"Mama akan mengantar dokter Reno ke depan." Sahut mama Sarah.


Dua paruh baya itupun meninggalkan Nada dan Farhan yang masih sama-sama bergeming ditempatkan berdiri.


"Mas Farhan belum menjawab pertanyaan ku, bagaimana keadaan Kania?" Tanya Nada lagi ketika mama Sarah dan dokter Reno sudah melangkah menjauh.


"Aku sudah tahu semuanya, Mas. Mama sudah menceritakan semuanya." Ucap Nada kemudian, karena Farhan yang sepertinya enggan untuk menjawab pertanyaannya.


Farhan masih terdiam. Sejujurnya ia merasa bingung harus menjawab bagaimana. Jika mengatakan keadaan Kania sedang tidak baik-baik saja, ia takut Nada akan berpikir bahwa dirinya masih memperdulikan mantan istri keduanya itu, dan Nada akan semakin yakin dengan keputusan awalanya yang ingin berpisah dengannya.


"Dia baik-baik saja, ada Mas Alfan yang menjaganya." Ujar Farhan akhirnya setelah beberapa saat berpikir.


Nada tersenyum tipis, ia tahu jika Farhan sedang berbohong karena mama Sarah telah menceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan.


"Aku aku ingin bertemu dengan Kania, Mas." Ujar Nada.

__ADS_1


__ADS_2