Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 60


__ADS_3

Ketika baru keluar dari kamar Nada, Farhan dikagetkan oleh mama Sarah yang ternyata sudah berdiri di depan kamar Nada dengan berkacak pinggang.


Wanita baya itu melangkah maju begitu putranya keluar dan langsung melabuhkan cubitan bertubi-tubi di sekujur tubuh Farhan.


"Ampun, Ma. Sakit!" Keluh Farhan sambil mengusap bagian tubuhnya yang terkena cubitan bak sengatan listrik.


Mama Sarah pun menghentikan aksinya itu, namun berganti menjewer telinga Farhan dan menariknya pergi dari depan kamar Nada.


Mama Sarah baru melepas telinga Farhan ketika telah berada di ruang tamu.


"Apa yang kamu lakukan di kamar Nada?" Tanya mama Sarah dengan membentak serta tatapan yang tajam menatap putranya.


"Gak ngapa-ngapain, Ma. Aku cuma nganterin makanan dan obat nya Nada." Jawab Farhan. Ia mengerti kenapa mama nya terlihat sangat marah ia masuk ke kamar Nada.

__ADS_1


"Jangan bohong ya, Farhan. Kamu harus ingat bahwa status pernikahan Kamu dan Nada itu sekarang tidak jelas. Jadi, Mama ingatkan jangan sampai kamu berbuat yang macam-macam sama Nada!" Ucap mama Sarah memperingati.


"Tunggu sampai Nada sembuh dulu baru meresmikan kembali pernikahan kalian. Itupun kalau Nada mau setelah mengingat semua apa yang sudah kamu lakukan terhadapnya." Lanjut mama Sarah tampak acuh.


Farhan menghela nafas panjang, seraya mendudukkan tubuhnya di sofa. "Mama gak perlu khawatir soal itu, aku juga tahu batasan ku. Lagipula Nada juga tidak mengizinkan aku sekamar Dengan." Ujarnya dengan lirih.


Farhan mengusap wajahnya sambil menghela nafas berkali-kali.


Mama Sarah pun ikut duduk di samping putranya itu.


Belum sempat mama Sarah menjawab, Farhan sudah lebih dulu kembali bersuara.


"Dadaku terasa sesak sekali, Ma. Aku ingin sekali memeluk Nada dan mencium keningnya. Tapi... Aku tidak bisa melakukan itu. Pernikahan ku dan Nada bukan hanya di ambang perpisahan, tapi kami mungkin sudah tidak layak di sebut sebagai pasangan suami istri," Farhan menjeda kalimatnya sejenak.

__ADS_1


"Dulu aku sangat menginginkan perpisahan dengan Nada. Tapi kenapa sekarang rasanya dada ini sesak setiap kali mengingat akan berpisah dengan Nada." Tanpa Farhan sadari, ada air mata yang mengalir dari sudut matanya.


"Kenapa hatiku sesakit ini, Ma? Apa sebenarnya aku telah jatuh cinta pada Nada tanpa aku sadari?"


Mama Sarah terus mendengarkan keluhan Farhan tanpa mengatakan apapun. Wanita baya itu tahu bahwa putranya tidak membutuhkan jawaban. Farhan hanya butuh teman untuk berbicara.


Yang kini dilakukannya hanyalah terus mengusap pundak putranya seakan menyalurkan kekuatan.


Sejenak ibu dan anak itu termenung di ruang tamu di tengah keheningan malam. Sama-sama merenungi semua apa yang telah terjadi. Semuanya terjadi begitu saja seakan tak memberi kesempatan untuk mencegah.


Hingga beberapa saat kemudian Farhan pun beranjak pergi dari ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya.


Sebuah pigura kecil di atas nakas ia raih kemudian membawa tubuhnya duduk di tepi tempat tidur. Foto Nada yang tersenyum, terus ia tatap dengan hati yang berdesis nyeri. Keinginan untuk memeluk namun tak kuasa untuk melakukannya.

__ADS_1


Farhan sangat sadar jika selama ini ia telah menyakiti Nada dengan semua perlakuannya.


Farhan sadar betul jika sebenarnya ia dan Nada telah berpisah, dan bukan lagi suami istri ketik ia mengucapkan akan menikahi wanita lain.


__ADS_2