
"Kau masih ingat dengan dia, bukan?" Alfan menunjukkan sebuah foto tepat didepan mata Farhan, yang tak lain adalah foto almarhumah Hana istrinya.
Sejenak Farhan menatap foto itu dengan sendu, lalu berpindah menatap Alfan.
"Aku tentu ingat. Mas Alfan, ini sebenarnya ada apa? Kenapa Mas menunjukkan foto Mbak Hana?" Tanya Farhan dengan raut keheranan, membuat Alfan nampak geram melihat reaksinya itu.
Apakah adik sepupunya itu sama sekali tidak ingat atau sedang berpura-pura lupa telah menghilangkan nyawa istrinya. Menabrak lalu meninggalkannya begitu saja.
"Kau dari tadi terus bertanya ada apa, ada apa dan ada apa. Apa kau masih belum sadar setelah melihat foto Hana bahwa semua yang terjadi adalah karena perbuatan mu sendiri tiga tahun lalu, Farhan!?" Teriak Alfan dengan emosi dan tanpa sadar foto Hana terlepas dari genggamannya, jatuh tepat di depan Kania.
Membuat Farhan dan Kani terkejut. Terlebih Kania, kedua matanya terbelalak ketika tatapannya tertuju pada wanita berhijab didalam foto itu.
"Perbuatan ku tiga tahun yang lalu? Apa maksud Mas Alfan, aku sama sekali tidak mengerti." Tanya Farhan, yang memang tidak mengerti apapun.
"Kau memang brengsek, Farhan! Seharusnya kau yang aku lenyapkan bukan Nada. Bukan Nada yang tidak bersalah tapi kau yang sudah menghilangkan nyawa Hana!"
"Tapi dengan meninggal nya Nada, kau sudah tahu bukan bagaimana rasanya kehilangan seorang Istri? Sakit! Yah sakit, sama seperti yang aku rasakan dulu. Tapi rasa sakit mu itu tidak seberapa karena Kau tidak mencintai Nada. Baiklah, aku akan tunjukkan rasa sakit yang sebenarnya padamu." Ujar Alfan lalu melangkah mendekati Kania. Membuat wanita itu sudah nampak bergetar, Kania tahu apa yang akan Alfan lakukan.
__ADS_1
Sementara Farhan membeku mendengar setiap kalimat yang terlontar dari mulut Alfan.
Menghilangkan nyawa Hana? Ia sama sekali tidak mengerti, kenapa hal itu dituduhkan kepadanya. Padahal sudah jelas saat itu Hana meninggal karena kecelakaan. Hana menjadi korban tabrak lari.
Lalu Nada?
Farhan pun mengangkat pandangan menatap Alfan yang telah berpindah ke samping Kania dengan mencengkeram wajah Kania.
"Lihat Istri mu ini baik-baik, Farhan. Kau sangat mencintai dia bukan? Bahkan saking cintanya kau mengabaikan bahwa dia sudah tidak perawan lagi setelah menikah dengan mu." Ujar Alfan lalu tertawa.
"Apa kau tidak pernah ingin tahu siapa laki-laki yang sudah mengambil keperawanan nya, hum?"
Kania nampak menggeleng, berharap Alfan tidak mengatakan apapun tentang itu. Namun, itu sepertinya sia-sia.
"Aku, akulah laki-laki yang sudah meniduri Kania tiga tahun lalu. Akulah laki-laki yang sudah mengambil keperawanan Kania. Aku juga yang sudah meminta orang menabrak Nada atas perintah Kania." Ujar Alfan.
"Brengsek! Lepaskan aku, aku akan membunuh kalian berdua! Apa salahku sehingga kalian tega melakukan itu padaku?" Farhan pun berteriak marah. Ia memberontak di tempat duduknya, kedua tangannya yang terikat sudah terlihat memerah.
__ADS_1
"Pertanyaan yang bagus sekali, Farhan. Apa salah mu? Baiklah akan aku beritahu apa kesalahanmu." Alfan pun berpindah mendekati Farhan. Alfan memperlihatkan foto Key yang masih berusia lima tahun di ponselnya. Di dalam foto itu Key tersenyum manis sekali.
"Semenjak Hana meninggal, aku sudah tidak pernah melihat Putriku tersenyum semanis ini. Dan itu semua karena kamu, Farhan. Kamu yang sudah membunuh Hana, kamu yang sudah menabrak Hana dan meninggalkannya begitu saja di jalanan. Sekarang apa kamu masih mau mengelak, hum?"
"Kau salah, Mas. Aku tidak pernah membunuh siapa pun. Bukan aku yang menabrak Mbak Hana. Bahkan aku tidak pernah merasa menabrak siapapun."
"Jangan berbohong, Farhan! Saksi mata yang berada di tempat itu melihat bahwa mobil mu lah yang menabrak Hana!" Alfan mencengkeram wajah Farhan dengan erat, sehingga membuat adik sepupunya itu kesakitan. Jika saja waktu itu Farhan bertanggung jawab dan tidak melarikan diri, mungkin ia tidak akan sedendam ini.
Untuk beberapa saat Farhan terdiam, tak ada kalimat apapun yang terucap dari bibirnya. Ia mencoba mengingat lagi waktu tiga tahun lalu saat Hana mengalami kecelakaan.
Saat itu, ia baru keluar dari ruang meeting ketika ponselnya berdering. Nada menelpon memberitahu bahwa Hana mengalami kecelakaan dan telah meninggal dunia di rumah sakit.
Namun, saat akan pergi ke rumah sakit ia baru mengingat bahwa mobilnya sedang di pinjam oleh kekasihnya yang katanya ingin pergi ke toko buku bersama teman-temannya.
Setelah tersadar dari lamunannya. Farhan pun mengarahkan tatapannya pada Kania.
"Kania, kamu...
__ADS_1