
"Huh..." Nada menghembuskan nafas panjang sesaat setelah berada didalam mobil suaminya. Lega, itulah yang dirasakannya. Seakan ia baru saja melepas segala beban yang tertumpuk di rongga dadanya.
Di sampingnya, Farhan terus menatapnya tanpa kedip. Tak hanya menikmati keindahan wajah sang istri, tetapi juga menelaah desiran dihatinya.
"Kenapa menatap ku seperti itu, Mas?" Tanya Nada setelah menyadari terus ditatap.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa?" Nada mengerutkan keningnya.
"Tentang perasaan mu padaku. Apakah cintamu untukku masih sama seperti dulu atau...
Nada terkekeh, "Kenapa Mas Farhan terlihat khawatir seperti itu?" Selanya.
"Apa Mas takut, jika aku tidak mencintai Mas Farhan lagi, hem?" Godanya sambil menahan senyum.
Farhan mengangguk pelan tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun dari Nada.
Nada terkekeh geli melihat tampang suaminya, "Mas Farhan tidak perlu meragukan aku. Karena sejak awal laki-laki pertama yang aku cintai adalah Mas Farhan dan hingga saat ini belum ada yang mampu menggeser posisi itu di hatiku. Yang perlu diragukan itu adalah Mas Farhan sendiri.'' Ucap Nada sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Aku mengerti maksud mu, Nada. Tapi aku akan belajar mencintai kamu seperti kamu yang mencintai aku." Kata Farhan kemudian meraih tangan Nada kedalam genggamnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan berjanji apapun, tapi aku akan berusaha menjadi Imam yang baik untukmu. Mari kita jadikan pernikahan kita ini, menjadi ibadah terindah sepanjang hidup kita. Kita raih Jannah-Nya bersama-sama ya, Nad." Lanjutnya.
Nada menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, sungguh ia terharu mendengar penuturan laki-laki yang menggenggam tangannya ini. Tiada lagi yang ia inginkan sekarang selain selalu dilimpahkan kebahagiaan seperti ini.
.
.
.
Farhan terlihat fokus menatap beberapa lembar kertas yang tercecer di atas meja, sudah beberapa jam ia duduk dengan serius.
Karena malam yang semakin larut Nada pun menghampiri suaminya, mengajaknya untuk beristirahat.
"Sebentar lagi ya, ada beberapa berkas yang harus aku periksa sebelum meeting besok."
Nada yang melingkarkan tangannya di leher sang suami, ikut menatap lembaran yang tercecer di atas meja.
"Tapi ini sudah malam, Mas. Nanti lagi ya dilanjutkan setelah shalat subuh, sekarang sebaiknya kita tidur." Ucap Nada memperingati suaminya.
"Baiklah, Sayang." Farhan pun memunguti lembaran kertas itu dengan memeluk erat pinggang sang istri yang duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu," bisik Farhan setelah selesai merapikan berkas-berkasnya.
"Huh, secepat itu?" Nada mengangkat kedua alisnya.
"Tidak sulit untuk mencintaimu dan tidak ada alasan untuk tidak mencintai mu." Ujar Farhan, yang membuat Nada mengernyitkan keningnya. Entahlah rasanya ia tidak percaya saja jika cinta bisa tumbuh secepat ini.
"Baiklah, anggap saja Mas Farhan memang sudah sangat mencintai aku. Lalu, bagaimana menurut Mas tentang definisi cinta itu?" Tanya Nada
Farhan memutar bola mata nya nampak berpikir, dan beberapa saat kemudian ia tersenyum menatap Nada lalu berkata.
"Cinta adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati, dan terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh." Jawab Farhan.
"Kalau menurutmu, apa itu cinta?" Tanya Farhan balik.
"Cinta adalah suatu perasaan kasih sayang yang merupakan fitrah manusia dan juga karunia Allah dalam penciptaan alam semesta ini. Sebenarnya cinta itu hanya kepada Allah, cinta itu kepada apa yang dicintai oleh Allah. Cinta itu untuk dan karena Allah." Jawab Nada.
"Jadi, aku juga mencintai Mas Farhan karena Allah karena Dia yang menumbuhkan rasa cinta itu di hatiku." Lanjutnya.
Farhan pun tersenyum, kemudian melabuhkan kecupan mesra di seluruh wajah istrinya.
"Apa kamu masih berhalangan?" Tanyanya setelah puas mengecup wajah istrinya.
__ADS_1
Nada hanya menjawabnya dengan anggukan.
Farhan pun nampak sedikit lesu, "Baiklah kalau begitu sekarang kita tidur."