
Hari beranjak siang...
Jika perutnya tak terasa perih karena sejak semalam tidak terisi apapun, Farhan mungkin tidak akan beranjak dari atas ranjang milik Nada.
Setelah merasa lebih segar sehabis mandi dan mengisi perut, Farhan pun kembali ke kamar Nada untuk melihat barang-barang peninggalan Nada yang mungkin salah satunya bisa ia simpan sebagai kenangan.
Namun, sebelum itu ia mencoba menghubungi Kania. Ia ingin meminta maaf karena semalaman ia tidak pulang menemui istrinya itu.
Tak menunggu lama sambungan teleponnya pun terhubung, namun Farhan tak mengucapkan apapun sehingga Kania lah yang memulai pembicaraan.
"Mas Farhan pasti dirumah Mama Sarah ya?" Tanya Kania.
Farhan mengangguk seakan Kania dapat melihatnya.
"Kalau Mas Farhan masih mau di sana gak apa-apa, aku bisa mengerti kok. Dan aku juga minta maaf tidak bisa menemani Mas Farhan di sana karena jadwal ku di rumah sakit sedang padat." Ujar Kania.
"Iya, gak apa-apa, Kania. Dan terima kasih atas pengertiannya." Ucap Farhan, kemudian ia memutuskan sambungan telepon itu.
__ADS_1
Di sana, Kania pun langsung merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang setelah sambungan teleponnya dengan Farhan terputus. Hari ini ia sudah meminta salah satu temannya untuk menggantikan jadwalnya di rumah sakit. Seharian ini ia ingin istirahat total dirumah, seluruh badannya masih terasa pegal akibat perbuatan Alfan semalam.
Sementara itu, Farhan membuka koper Nada yang belum pernah di buka setelah kembali dari desa.
Ia mengeluarkan satu-persatu pakaian Nada sambil menghirup setiap pakaian itu, menyesap aroma Nada yang masih melekat di pakaian itu.
Hingga setelah semua pakaian Nada didalam koper telah berpindah diatas tempat tidur. Tatapan Farhan tak sengaja tertuju pada sebuah benda yang tersangkut di salah satu pakaian Nada. Farhan pun mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah gelang.
Farhan ingat gelang itu adalah milik Nada yang ditemukan oleh suaminya bu Minah diatas bukit, yang mungkin terjatuh ketika Nada terperosok ke dalam jurang kala itu.
Farhan memperhatikan gelang itu dengan intens. Ia merasa pernah melihat gelang serupa dengan gelang milik Nada itu, tetapi ia lupa pernah melihatnya dimana.
Kemudian, Farhan pun keluar dari kamar Nada. Ia membawa langkahnya menuju kamar mamanya. Sekali lagi ingin meminta maaf pada wanita yang telah melahirkannya itu atas apa yang telah terjadi, termasuk kemarin ia sempat menyalahkan mama nya atas meninggalnya Nada.
Farhan pun menyadari jika kepergian Nada adalah teguran untuknya. Ia sudah menyesali semuanya. Benar kata orang, jika sudah tiada baru akan terasa bahwa kehadirannya sangat berharga.
Farhan membuka pintu kamar mamanya dengan pelan, terlihat mama Sarah sedang berbaring di atas tempat tidur dengan posisi membelakangi pintu.
__ADS_1
Dengan pelan Farhan pun melangkah masuk agar tak menganggu mama nya yang mungkin saja sedang tidur.
Farhan bersimpuh tepat dibawah kaki mama Sarah, dengan gerakan pelan ia membuka selimut yang menutupi kaki mama nya.
Mama Sarah yang merasa adanya sentuhan di kakinya perlahan membuka kedua matanya. Ia langsung menarik diri bangkit dari pembaringan begitu tatapannya tertuju pada Farhan yang sedang mencium kakinya.
"Farhan, apa yang kamu lakukan?"
Farhan belum menjawab, ia naik ke tempat tidur dan langsung menarik kedua tangan mamanya. Mencium kedua tangan yang sudah sedikit berkeriput itu berkali-kali sambil menggumamkan kata maaf.
"Sudah Farhan, Mama sudah memaafkan kamu.'' Ucap mama Sarah sambil mengusap pucuk kepala putranya itu dengan lembut.
"Apa yang sudah terjadi, jadikan sebagai pelajaran agar kedepannya kamu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi." Lanjutnya.
Air mata Farhan pun kembali tumpah mendengar mamanya sudah memaafkan dirinya. Ia langsung memeluk mama Sarah dengan erat sambil menangis tergugu.
Mama Sarah pun membalas pelukan putranya itu tak kalah erat.
__ADS_1
Ibu dan anak itu sama-sama menangis saling berpelukan.