Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 56


__ADS_3

"Reno, kamu bilang sistem saraf pusat Nada sudah bekerja dengan baik. Tapi, kenapa Nada belum juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun?" Tanya mama Sarah tanpa mengalihkan tatapannya pada Nada.


Dokter Reno nampak menghela nafasnya lalu berkata, "Mungkin, apa yang pernah aku sarankan itu bisa membangunkan Nada." Ujarnya juga tanpa mengalihkan tatapannya dari Nada. Dalam hal ini ia juga merasa bingung karena sudah beberapa kali ia memeriksa keadaan Nada dan hasil pemeriksaannya menunjukkan bahwa seluruh organ Nada sudah berfungsi dengan baik. Namun, entah kenapa putri temannya itu enggan terbangun dari tidur panjangnya.


"Maksud mu, aku harus membawa Farhan ke sini?"


Dokter Reno mengangguk dengan antusias. "Ini sudah waktunya, Sarah. Lagipula tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan. Walaupun orang-orang yang ingin mencelakai Nada tahu bahwa Nada sebenarnya masih hidup, aku yakin Farhan bisa melindunginya."


Mama Sarah terdiam, entah kenapa ia masih merasa ragu untuk mempertemukan Farhan dan Nada meskipun ia pernah berjanji pada dirinya sendiri akan hal itu. Jika belum memberi pelajaran langsung kepada Kania dan juga Alfan rasanya ia belum merasa tenang dan lega.


.


.


.


"Assalamualaikum, Nada. Hari ini aku datang membawakan Bunga Anggrek kesukaan mu," ujar Farhan seraya meletakkan bunga anggrek itu diatas makam.

__ADS_1


Farhan mengulurkan tangannya mengusap batu nisan yang tertulis nama Nada Keysa Azzahra. Senyum tipis tersungging di bibirnya, namun hanya beberapa detik senyumnya itu memudar berubah menjadi sendu.


"Tadi pagi ku lihat, tanaman Bunga Anggrek mu sudah banyak yang layu padahal Mama selalu rajin merawatnya, bahkan aku juga selalu menyempatkan untuk menyiramnya sebelum berangkat ke kantor,"


"Seandainya kamu masih ada, pasti Bunga-bunga itu juga masih tumbuh dengan subur..." Farhan mengehentikan kalimatnya seraya menundukkan kepalanya.


Penyesalan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.


"Andai waktu dapat diputar kembali, aku akan mengubah semua yang telah terjadi. Memutar kembali waktu ke hari ketika kamu pertama kali masuk ke hidupku, ke semua saat bahagia yang kita alami, dan ke hal-hal yang telah berubah menjadi lebih baik lagi."


"Maafkan aku, Nada. Maaf karena aku tidak bisa menjadi pelindungmu. Maaf karena aku tidak menepati janji untuk selalu menjagamu. Maaf atas semua luka yang aku berikan. Semoga kamu tenang di alam sana, dan aku disini akan selalu mendoakan mu. Semoga kamu ditempatkan di tempat yang terbaik disisi-Nya." Ujar Farhan seiring jatuhnya air matanya.


Ia menempelkan keningnya pada batu nisan Nada untuk beberapa saat. Desiran angin meniup rambutnya yang sudah sedikit memanjang. Semenjak meninggalnya Nada ia seakan tidak memiliki kesempatan untuk merawat diri. Waktunya ia habiskan meratapi penyesalan atas semua yang telah ia lakukan kepada Nada.


Hingga beberapa saat ia terhenyak kala merasakan usapan lembut di pundaknya.


"Mama...?" Ucap Farhan ketika menoleh ternyata mama Sarah yang mengusap pundaknya.

__ADS_1


Mama Sarah pun merendahkan tubuhnya ikut berjongkok di samping Farhan. Kemudian menoleh ke belakang, mengangguk pelan kepada dua orang yang datang bersamanya sebagai isyarat untuk mendekat.


Farhan nampak keheranan ketika sepasang suami istri paruh baya menangis sambil mengusap batu nisan Nada.


Tak lama kemudian beberapa orang yang merupakan penjaga pemakaman datang membawa batu nisan.


"Apa yang kalian lakukan?" Sentak Farhan ketika penjaga makam itu mencoba melepas batu nisan Nada.


"Farhan, sudah Nak. Sebaiknya kita pergi dari sini."


"Tapi, Ma. Mereka mau merusak makam nya Nada."


"Enggak, Farhan. Lebih baik sekarang kamu ikut Mama ke sesuatu tempat, nanti akan Mama jelaskan semuanya."


"Tapi, Ma...


Namun, mama Sarah tidak mau mendengar lagi. Wanita baya itu langsung saja menarik tangan putranya pergi dari area pemakaman itu.

__ADS_1


__ADS_2