
Farhan kembali ke dapur menghampiri Nada setelah Alfan telah pulang.
Bi Ida yang melihat kedatangan Farhan pun langsung pergi meninggalkan dapur. Memberi ruang pada dua anak majikannya itu yang juga sudah seperti anaknya sendiri.
Sementara Nada yang sedang membuat dua cangkir teh hangat untuk Farhan dan juga Alfan belum menyadari kedatangan Farhan yang telah berdiri dibelakangnya. Setelah selesai iapun menaruh dua cangkir teh hangat itu diatas nampak kemudian mengangkatnya. Dan saat berbalik ia terkejut karena Farhan telah berdiri dibelakangnya sehingga nampan yang dibawanya terjatuh.
"Aaaa....!" Nada memekik ketika tumpahan teh yang masih panas itu mengenai kaki nya.
Refleks Farhan langsung memeluk dan mengangkat tubuh Nada menjauh dari tumpahan teh yang telah bercampur dengan pecahan gelas itu.
Farhan mendudukkan Nada di sebuah kursi kayu lalu segera berlari menuju kamarnya, dan tak lama kemudian iapun kembali dengan membawa kotak obat.
Farhan mengangkat kaki Nada yang sudah terlihat memerah lalu mengolesi salep pada bagian punggung kaki Nada yang terkena teh panas.
"Maaf aku sudah membuat mu terkejut," ucap Farhan setelah selesai mengolesi salep pada kaki Nada.
Nada tak merespon apapun, ia hanya mengatupkan rapat bibirnya sambil memejamkan mata menahan perih di kakinya.
"Apa perih sekali?" Tanya Farhan.
__ADS_1
Nada hanya mengangguk tanpa membuka mata.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang." Farhan sudah bersiap untuk menggendong Nada.
Namun, dengan cepat Nada membuka mata dan mencegah Farhan yang ingin menggendongnya.
"Gak perlu ke rumah sakit, Mas. Ini gak apa-apa, nanti juga sembuh sendiri." Ujar Nada dengan sedikit meringis.
"Kamu yakin gak apa-apa?" Tanya Farhan memastikan.
Nada mengangguk sebagai jawabannya. Kemudian bergerak turun dari kursi yang didudukinya.
"Aku mau membersihkan lantai dan pecahan gelas itu, Mas."
"Biar aku yang membersihkannya, Kamu duduk aja." Ujar Farhan lalu membantu Nada kembali duduk di kursi.
"Kalau begitu aku buat teh yang baru lagi ya, Mas."
"Gak usah, lagian Mas Alfan juga sudah pulang." Ujar Farhan sambil memunguti pecahan gelas itu.
__ADS_1
"Kenapa cepat sekali pulangnya?" Tanya Nada.
Belum sempat Farhan menjawab, musibah kembali terjadi.
"Auuu..." Keluh Farhan ketika jari telunjuknya terkena pecahan gelas.
Melihat darah yang mengucur di jari telunjuk Farhan, tanpa sadar Nada pun langsung turun dari kursi yang didudukinya seakan tak merasakan perih di kakinya.
Nada meraih tangan Farhan dan langsung menghisap jari telunjuknya yang berdarah. Hal itu membuat Farhan mengembangkan senyum, seakan musibah yang didapatnya adalah sebuah keberuntungan untuknya.
Ketika tersadar dengan apa yang dilakukannya, Nada pun lantas melepas jari telunjuk Farhan yang dihisapnya lalu menjauhkan tangan itu dari bibirnya.
"Terimakasih, Nada " Ujar Farhan lalu mengecup jari telunjuknya sendiri.
Nada tercengang melihat apa yang dilakukan oleh Farhan, namun ia juga tidak ingin menanggapinya.
"Aku ingin mencium mu tapi itu tidak bisa aku lakukan karena kau pasti akan marah bahkan mungkin menghajar ku bila aku berani melakukannya. Jadi, aku hanya dapat mencium jari telunjuk ku yang bekas bibir mu." Ucap Farhan sambil tersenyum lebar.
Hal itu lantas membuat pipi Nada seketika memerah, entah karena menahan malu atau marah. Yang pasti dadanya tiba-tiba saja berdebar cepat, dan ia tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Terlebih ketika melihat senyuman Farhan. Ada sesuatu yang sepertinya tidak asing ia rasakan namun ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya sekarang.
__ADS_1