Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 39


__ADS_3

Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menerobos jalanan yang cukup padat. Sepanjang jalan ia terus membunyikan klakson agar pengendara didepannya memberi jalan, tak perduli jika pengendara yang lainnya akan marah dengan perbuatannya itu. Baginya sekarang yang terpenting ia cepat sampai ke rumah mama Sarah.


Nama Nada terus bersemayam di ingatannya, pernyataan cinta Nada untuk yang kedua kalinya beberapa saat lalu terus terngiang di telinganya. Dan ia tidak percaya bahwa Nada telah pergi meninggalkannya dengan membawa cintanya. Air matanya luruh tanpa permisi mengingat itu semua.


Sesampainya di rumah mama Sarah, hampir saja Farhan tersungkur ke tanah ketika baru saja turun dari mobilnya kala tatapannya tertuju pada sebuah bendera kuning yang terpasang didepan rumah.


Dengan gontai ia berjalan menuju pintu yang terbuka lebar. Namun, saat masuk keadaan rumah sepi tidak ada siapapun yang ia temui.


"Mama... Nada... Bi Ida..." Panggilnya sambil terus membawa langkahnya menyusuri rumah itu.


Farhan menghentikan langkahnya yang akan menaiki anak tangga ketika mendengar suara langkah kaki dari arah dapur, ia segera berbalik dan ternyata itu adalah bi Ida.


Bi Ida hanya menatap Farhan sekilas kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya sendiri.


"Bi Ida, tunggu..." Farhan pun segera menyusul bi Ida.

__ADS_1


Farhan langsung menahan tangan bi Ida yang hendak membuka pintu kamarnya. Bi Ida melihat kedua mata Farhan nampak sembab yang menandakan anak majikannya sehabis menangis.


"Den, ada apa? Kalau Den Farhan butuh sesuatu atau mau makan, Bibi akan buatkan." Ujar bi Ida seraya menarik tangannya dari genggaman Farhan.


"Bi, aku cuma mau tanya Mama dan Nada ada dimana, kenapa rumah sepi sekali?" Tanyanya dengan pelan. Berharap bi Ida mengatakan jika Nada dan mamanya sedang berada di kamarnya masing-masing. Namun, mengingat bendera kuning di luar rumah membuatnya hampir menangis kembali. Tidak siap menerima kenyataan bahwa Nada benar-benar telah meninggal.


"Ibu belum pulang dari pemakaman, Den. Kalau Den Farhan mau, Bibi bisa antar ke sana sekalian bujuk Ibu agar mau pulang." Ujar bi Ida.


Dan seketika Farhan tak memiliki daya menopang tubuhnya. Tubuh jangkung itu terhuyung dan akhirnya luruh ke lantai.


.


.


.

__ADS_1


Di depan sebuah pemakaman baru, mama Sarah dan Alfan berdiri berdampingan. Tak ada setetes pun air mata yang nampak di sudut mata keduanya, seolah menandakan mereka kuat menerima berita duka ini.


"Apa Tante yakin, jika Farhan akan datang kemari?" Tanya Alfan.


"Yakin, Farhan harus melihat sendiri jika Nada benar-benar sudah tidak ada." Jawab mama Sarah.


Tampak senyum smirk tercetak dibibir Alfan mendengar jawaban tantenya itu.


"Baiklah Tante, kalau begitu aku pamit pulang dulu. Dan aku minta maaf sebelumnya karena malam ini mungkin tidak akan bisa menemani Tante karena aku sedang ada sedikit urusan di luar." Ujar Alfan.


Mama Sarah hanya nampak mengangguk pelan. Dan Alfan pun berpamitan pergi.


Mama Sarah menatap langkah keponakan almarhum suaminya itu dengan nanar. Kemudian berpindah menatap pemakaman yang didalamnya baru saja dikuburkan seorang gadis yang malang.


Mama Sarah merendahkan tubuhnya berjongkok di depan pemakaman itu, sebelah tangannya terulur mengusap nama Nada Keysa Azzahra yang tertulis di pemakaman tersebut.

__ADS_1


"Nada, maafkan Mama melakukan ini semua. Mama hanya ingin melindungi Kamu. Sekarang tidak ada siapapun yang bisa Mama percaya." Gumam mama Sarah. Hanya bi Ida namun, ia juga tidak ingin wanita yang sudah ia anggap seperti saudara itu juga terancam keselamatannya.


__ADS_2