
Kania yang tengah fokus pada lembaran data pemeriksaan pasiennya, perhatiannya teralihkan pada pintu ruangannya yang terbuka.
Seorang wanita yang seusia dirinya masuk kedalam ruangannya dengan raut wajah yang nampak tegang.
"Ada apa? Kenapa kau sepertinya terlihat tegang?" Tanya Kania setelah wanita itu telah duduk dihadapannya.
"Maaf, Dok. Saya mau minta data medis Ibu saya." Jawab wanita itu.
"Untuk apa?" Kania mengerutkan keningnya.
"Saya mau memindahkan Ibu saya ke rumah sakit lain."
Kania terkekeh, "Apa kamu punya uang, hum? Kamu lupa kalau Ibu kamu hampir saja tidak tertolong kalau bukan saya yang...
Ceklek...
__ADS_1
Ucapan Kania terhenti ketika pintu ruangannya kembali terbuka. Kedua bola matanya seketika membulat melihat siapa yang masuk.
"Kenapa, terkejut hum?" Tanya Alfan yang telah berada dihadapan Kania. Kepalanya ia condongkan mendekati wajah Kania dengan sebelah tangannya diletakkan di meja menopang tubuhnya.
Kania seakan membeku ditempat duduknya. Terkejut melihat kedatangan Alfan yang tiba-tiba setelah beberapa pekan tidak bertemu, namun ia belum memahami maksud kedatangan Alfan kali ini.
Alfan pun kembali menegakkan tubuhnya lalu mendekati wanita yang beberapa saat lalu ia paksa untuk memberitahu siapa orang yang telah menyuruhnya untuk memfitnah Farhan.
"Aku bisa memaklumi perbuatan mu. Dalam keadaan terdesak kita memang bisa melakukan apa saja, apalagi itu untuk orang yang sudah melahirkan kita. Meskipun dengan cara kotor sekalipun. Tapi, kau tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu dengan bersaksi di kantor polisi bahwa Farhan tidak melakukan pelecehan itu. Katakan pada polisi bahwa kau hanya disuruh oleh Dokter Kania!" Ujar Alfan dengan menekankan diakhir kalimatnya.
Ucapan Farhan itu bagian gelombang listrik yang menyengat tubuh Kania. Wanita yang berseragam kedokteran itu nampak pias seketika. Tidak menyangka bahwa Alfan akan mengetahui perbuatannya secepat ini. Sudah dipastikan ia tidak akan bisa lolos lagi kali ini jika sudah berhadapan dengan Alfan.
Kania melempar pandangan pada wanita suruhannya itu. Namun wanita itu terus menunduk dan tidak berani menatap Kania.
"Dan kau, Kania. Harusnya sejak awal kau yang dipenjara agar tidak membuat kerusuhan. Dan sekarang kau akan merasakan bagaimana dinginnya lantai tahanan." Alfan kembali mendekati Kania. Menarik tangannya lalu menyeretnya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Kania berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alfan, ia tidak ingin menghabiskan waktu didalam penjara. Namun, genggaman tangan Alfan begitu kuat, tenaganya tidak sebanding untuk melepaskan diri.
Orang-orang yang berpapasan dengan mereka hanya menatap dengan saling berbisik tanpa ada yang berani untuk membantu Kania yang meminta tolong pada orang-orang sekitar untuk melepaskannya dari Alfan.
Semua itu tak lepas dari perhatian dokter Reno yang baru saja keluar dari sebuah ruangan usai memeriksa pasiennya. Dokter Reno langsung menghubungi mama Sarah dan melaporkan apa yang dilihatnya.
Sampai di pelataran rumah sakit. Kania masih terus berusaha untuk melepaskan diri dari Alfan. Hingga terbesit sebuah ide untuk...
"Aaaa...." Alfan berteriak kesakitan ketika tiba-tiba saja Kania mengigit tangannya, hingga cengkeramannya ditangan Kania pun terlepas.
Tak ingin membuang kesempatan, Kania pun langsung berlari secepat mungkin menghindari Alfan dengan sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan jika Alfan tidak mengejarnya.
Di sela-sela rasa sakit ditangannya, Alfan menggerakkan kakinya untuk mengejar Kania.
Namun, baru beberapa langkah tubuh Alfan mematung ketika melihat tubuh Kania terpental hingga beberapa meter akibat tertabrak sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1