Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 41


__ADS_3

"Bi, pulanglah kerumah temani Farhan. Saya harus ke sesuatu tempat dulu." Ujar mama Sarah pada bi Ida sambil menatap langkah Farhan yang mulai menjauh. Ia tahu putranya itu akan pulang ke rumahnya untuk mengenang Nada.


Bi Ida pun mengangguk tanpa kata lalu ia segera menyusul Farhan.


Setelah mobil Farhan telah meninggalkan area pemakaman. Mama Sarah pun menghubungi seseorang yang telah menunggunya tak jauh dari pemakaman.


Tak lama kemudian sebuah mobil datang dan mama Sarah pun langsung masuk kedalam mobil tersebut setelah pemilik mobil membukakan pintu untuknya.


"Ku rasa kau terlalu kejam pada Putra mu sendiri, kasihan dia." Ujar seorang lelaki baya yang duduk di kursi kemudi di samping mama Sarah.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan dan untuk ke depannya aku harap kau bisa terus membantuku." Ucap mama Sarah, ia menatap sekilas lelaki yang seusia dirinya itu. Seorang teman yang sekian lama baru bertemu lagi dalam keadaan yang cukup genting beberapa saat lalu.


"Tentu, dengan senang hati aku akan selalu membantumu." Ujar lelaki baya yang bernama Reno itu sambil tersenyum pada mama Sarah.


Mama Sarah pun ikut tersenyum tipis lalu melempar pandangan ke arah jalanan didepannya. Ingatannya kembali tertuju pada kejadian beberapa saat lalu dirumah sakit.


#Flashback on...


"Farhan...!" Mama Sarah berteriak ketika melihat Farhan yang tiba-tiba saja ambruk di atas lantai.


Mama Sarah dan Alfan segera berlari menghampiri Farhan yang telah tak sadarkan diri. Tak lama kemudian dua orang perawat pun datang dengan membawa sebuah brankar dan langsung menaikan Farhan ke atas brankar itu dengan dibantu oleh Alfan.


Meski sedang marah pada Farhan, namun mama Sarah tak bisa membohongi dirinya bahwa ia sangat khawatir melihat keadaan putranya itu. Ia tahu Farhan sampai tak sadarkan diri seperti ini karena terlalu memikirkan Nada yang terluka parah.


Dalam kepanikan sambil mendorong brankar yang membawa Farhan, tiba-tiba saja seorang wanita yang tidak ingin dilihat mama Sarah datang menghampiri.


"Ada apa dengan Mas Farhan?" Tanya Kania yang ternyata bekerja di rumah sakit itu. Dari kejauhan ia melihat mama Sarah dan Alfan yang nampak panik dengan ikut mendorong sebuah brankar. Ia pun segera menghampiri, dan ternyata orang yang ada di atas brankar adalah suaminya.


"Farhan tiba-tiba saja pingsan." Jawab Alfan.


Kania pun langsung turun tangan untuk menangani suaminya sendiri.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian setelah Farhan selesai diperiksa oleh Kania, mama Sarah pun masuk ke ruang rawat Farhan setelah Kania keluar dari ruangan itu.


Setelah mama Sarah masuk kedalam ruang rawat Farhan, Kania membawa dirinya duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh mama Sarah.


Tak lama kemudian seorang lelaki datang menghampiri Kania, lelaki itu berdiri tepat didepan pintu ruang rawat Farhan.


Di dalam ruangan, mama Sarah yang baru saja duduk di sebuah kursi yang tersedia disamping ranjang pasien tatapannya tak sengaja tertuju pada pintu ruangan yang sebagian kaca sehingga dapat terlihat seseorang yang berdiri di luar sana.


"Alfan, kenapa dia berdiri diluar? Kenapa tidak langsung masuk?" Gumam mama Sarah. Merasa penasaran, iapun beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri keponakannya itu.


Namun, gerakan tangan mama Sarah yang hendak membuka pintu ruangan terhenti kala mendengar ucapan Alfan dengan seorang wanita yang ternyata adalah Kania.


"Apa kamu sudah puas membuat Nada celaka?"


"Tentu saja belum, karena dia masih hidup. Tujuanku adalah menyingkirkan dia dari kehidupan Farhan."


Alfan tampak menghela nafas panjang, lalu ia kembali berucap. "Kau benar-benar tidak punya hati."


Di balik pintu ruangan, tubuh mama Sarah bergetar ketika mendengar langsung ternyata Kania lah dalang dibalik kecelakaan yang dialami oleh Nada. Ternyata kecelakaan itu memang di sengaja untuk melenyapkan Nada, dan Alfan mengetahui tentang itu.


Mama Sarah pun melangkah mundur dan kembali ke kursi di samping ranjang Farhan. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, Alfan masuk dengan wajah datarnya.


"Apa Farhan belum sadar, Tante?"


"Belum, "jawab mama Sarah sembari menggeleng. Ia menatap keponakannya itu dengan lekat, berharap Alfan menceritakan apa yang ia bicarakan tadi diluar ruangan bersama Kania. Namun, hingga beberapa saat Alfan tak menceritakan apapun, dan mama Sarah merasakan ada yang janggal.


"Alfan, Tante minta tolong jaga Farhan dulu ya, Tante mau keluar sebentar."


Alfan mengangguk, dan mama Sarah pun segera keluar dari ruangan itu.


Setelah mama Sarah keluar, Alfan pun duduk di kursi disamping ranjang pasien sambil menatap adik sepupunya itu yang belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Lihatlah, Farhan. Istri kedua mu ingin melenyapkan Istri pertama mu, dan ini semua juga karena perbuatan mu sendiri. Coba kamu bayangkan bagaimana rasanya kehilangan seorang Istri, seperti yang aku rasakan dulu?" Gumam Alfan sambil terus menatap Farhan.


Sementara itu mama Sarah berjalan dengan tergesa menuju ruangan instalasi gawat darurat untuk melihat perkembangan Nada. Namun, sesampainya di didepan ruangan itu, pintu ruangan tersebut masih tertutup dengan rapat.


Mama Sarah pun mondar-mandir di depan ruangan itu. Ucapan Kania yang ternyata ingin melenyapkan Nada terus terngiang di telinganya.


"Ya Allah, tolong beri aku petunjuk, bagaimana aku bisa melindungi Putri ku."


Hingga tak lama kemudian pintu ruangan instalasi gawat darurat pun terbuka. Mama Sarah pun segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu. Namun, untuk beberapa detik Mama Sarah terdiam didepan dokter lelaki yang seusia dirinya sambil menelisik wajah dokter tersebut.


"Reno?"


Dokter yang bernama Reno itupun tersenyum. " Aku kira kau sudah tidak bisa mengenali aku lagi, Sarah." Ucapnya. "Oh ya, apa pasien didalam itu adalah Putri mu?" Tanyanya kemudian.


"Iya, bagaimana keadaannya?" Tanya mama Sarah.


Dokter Reno nampak menghela nafasnya, lalu berkata." Keadaannya sempat kritis dan Alhamdulillah tim Dokter bisa menanganinya. Tapi... Putri mu sekarang mengalami koma." Ujarnya.


Mama Sarah pun nampak syok mendengar nya, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Untuk beberapa saat ia seperti kehilangan akal sehatnya. Dengan kondisi Nada yang koma seperti ini sungguh membuatnya khawatir, karena Nada tentunya harus tetap berada di rumah sakit dan itu bisa membuat Kania lebih leluasa mencari cela untuk mencelakai Nada lagi apalagi Kania bekerja di rumah sakit itu.


Kemudian, mama Sarah mengangkat pandangan menatap dokter di depannya itu. Dulu, Reno selalu membantu apapun kesulitan yang dialaminya bersama mendiang suaminya, dan sekarang ia hanya berharap temannya itu juga bisa membantunya kali ini.


.


.


.


Setelah mama Sarah menceritakan semuanya pada dokter Reno. Akhirnya temannya itupun bersedia membantunya kali ini dan tentu saja reputasinya sebagai jaminannya jika sampai ketahuan.


Dokter Reno merekayasa kematian Nada dengan bantuan seorang suster kepercayaannya, kemudian menukarnya dengan jenazah seorang gadis korban kecelakaan tanpa identitas. Sementara Nada sendiri dipindahkan ke sebuah rumah yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan medis.

__ADS_1


__ADS_2