
"Farhan, kamu yakin ingin pergi menemui perempuan itu?" Tanya mama Sarah dengan tampang tak suka, bahkan menyebut nama Kania saja ia tidak sudi.
"Iya, Ma. Untuk yang terakhir kalinya, dan aku pastikan setelah ini aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi terkecuali tidak di sengaja." Ujar Farhan.
"Kalau begitu Mama mau ikut, Mama juga ada yang ingin disampaikan sama dia." Yang sebenarnya mama Sarah ingin memberi pelajaran jika ada kesempatan.
Farhan tersenyum sambil menangkup wajah mamanya. "Emangnya Mama mau bilang apa sama Kania? Paling Mama cuma mau nampar dia. Kalau untuk itu gak ada tempat lagi, Ma. Soalnya muka dia udah babak belur gara-gara Mas Alfan."
"Mas Alfan memperlakukan dia nyaris bukan seperti manusia lagi, Ma." Ujar Farhan seraya menghela nafas. Sejujurnya ia merasa prihatin melihat kondisi Kania saat datang menalaknya waktu itu, dan mungkin sekarang keadaannya lebih parah apalagi sampai masuk rumah sakit dan mengalami pendarahan hebat. Namun, itu semua juga karena perbuatannya sendiri, bukan?
"Ya udah, Ma. Aku pergi dulu, assalamualaikum." Setelah mencium punggung tangan mama nya Farhan pun bergegas pergi.
.
__ADS_1
.
.
Sesampainya di rumah sakit. Untuk beberapa saat Farhan masih belum dapat berkata-kata setelah melihat keadaan Kania yang bahkan jauh lebih parah dari bayangannya.
Wanita yang pernah dicintainya itu terlihat sangat mengenaskan dengan bekas pukulan di sekujur tubuhnya yang sudah membiru. Tubuhnya terlihat sangat lemah, bahkan sekedar menggerakkan tangan sangat sulit dilakukannya.
"Mas Farhan," panggil Kania lirih dengan suara terputus-putus sambil menggerakkan jari-jari tangannya sebagai isyarat agar Farhan mendekat.
Farhan pun terhenyak lalu dengan langkah pelan menghampiri Kania.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Farhan tanpa basa-basi setelah berdiri di samping ranjang Kania.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas. Aku...
"Aku sudah memaafkan mu," sela Farhan. "Sejujurnya aku sangat marah dan kecewa atas apa yang sudah kamu lakukan. Tapi aku akui bahwa sebenarnya kamu tidak sepenuhnya bersalah. Yah, semua orang pasti akan melakukan apapun demi terwujudnya cita-citanya tapi cara mu itu yang salah Kania. Seandainya saja waktu itu kamu bilang padaku sedang terkendala biaya aku pasti akan mengusahakannya untukmu. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu lebih memilih cara cepat dengan menjual dirimu pada orang sebenarnya juga hanya memanfaatkan keadaan itu untuk membalas dendam padaku." Farhan menghentikan kalimatnya sejenak untuk mengambil nafas.
"Aku juga tidak sepenuhnya menyalahkan tindakanmu yang ingin mencelakai Nada. Yah aku tahu semua wanita pasti akan sakit hati bila mengetahui bahwa kekasihnya yang sudah berjanji akan menikahinya malah terlebih dulu menikahi wanita lain. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Kania. Nada juga tersakiti akan hal itu karena aku memberitahu tentang mu setelah aku menikahi dia. Apa kamu tahu apa yang Nada minta saat aku mengatakan kita akan menikah setelah kamu kembali dari luar Negeri? Nada hanya meminta waktu yang ada untuk mengabadikan diri sebagai Istri yang taat dan setelah kamu kembali dia akan merelakan aku untukmu. Coba kamu bayangkan bagaimana perasaannya saat itu? Saa Dia datang menghadiri pernikahan kita sebagai Adikku."
Kania tak dapat membendung lagi air matanya mendengar setiap kalimat yang terucap dari bibir Farhan. Ia juga mengutuk semua tindakan dan perbuatannya itu. Mengucapkan ribuan kata maaf pun tidak bisa menebus semuanya, bahkan jika ia bersujud sekalipun di kaki Farhan tak akan bisa mengembalikan semuanya. Nada yang telah tertidur dengan tenang tidak akan bisa ia bangunkan lagi. Yang sebenarnya Kania tidak tahu bahwa wanita yang ingin ia lenyapkan dari hidup Farhan masih hidup.
"Tapi sudahlah. Apa yang telah terjadi aku jadikan sebagai pelajaran untuk diriku sendiri, bahwa aku harus lebih dewasa lagi dan harus memikirkan dengan matang sebelum mengambil tindakan." Ujar Farhan setelah beberapa saat terdiam. Yang dimaksudnya itu adalah tidak memikirkan semua akibat yang akan terjadi saat memutuskan menikahi Nada dan juga Kania.
Farhan pun berbalik membelakangi Kania, kemudian mengayun langkah mendekati Alfan.
"Mas Alfan lebih dewasa daripada aku. Jadi Mas pasti tahu apa yang harus Mas lakukan untuk mempertanggung jawabkan semuanya." Farhan menepuk pundak kakak sepupunya itu kemudian pergi dari ruangan itu.
__ADS_1