Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 82


__ADS_3

"Waktu kunjungan sudah hampir habis, sekarang Mas Farhan makan ya?" Ucap Nada.


Farhan mengangguk, "Tapi aku mau disuapin." Pintanya.


"Iya, Mas." Nada pun mulai menyendok makanan yang dibawanya itu, namun Farhan menahan tangannya.


"Gak usah pakai sendok," ujar Farhan seraya mengambil sendok yang sudah berisi makanan ditangan Nada. "Suapi aku pakai tanganmu saja, seperti dulu saat kita masih kecil. Kamu pernah menyuapi aku coklat dan kamu dengan sengaja membuatnya belepotan di mulutku." Farhan terkekeh pelan mengingat saat itu.


Berbeda dengan Nada, justru kedua matanya berkaca-kaca mengingat saat itu. Hal konyol yang sering ia lakukan semasa kecil terhadap Farhan, selalu ia kenang hingga dewasa dan dari situlah sebuah rasa mulai tumbuh dihatinya untuk Farhan. Namun, karena sebuah hubungan persaudaraan membuatnya lebih memilih memendam perasaannya itu.


Jika semasa kecilnya Nada selalu menyuapi Farhan dengan kejahilan, namun tidak dengan sekarang. Wanita berhijab itu menyuapi suaminya dengan penuh kasih sayang, bahkan terlihat seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya.


Tanpa sadar setetes air mata Farhan lolos dari sudut matanya ketika tangan Nada mendorong makanan kedalam mulutnya.


Suapan demi suapan Farhan terima dari tangan istrinya, hingga makanan didalam rantang bersusun dua itu habis tak bersisa. Selama satu Minggu berada di tahanan, ini adalah kali pertama Farhan menghabiskan makanannya.


Di ambang tembok pembatas ruangan, Alfan yang sejak tadi berdiri pun tanpa sadar menitihkan air matanya melihat melihat momen haru sepasang suami istri itu.

__ADS_1


Melihat Farhan telah selesai makan, iapun mengusap sudut matanya yang berair lalu menghampiri kedua adiknya itu.


"Tadi kulihat kau makan sangat lahap, besok-besok akan aku bawakan makanan tambahan dari restoran." Ujar Alfan yang telah berdiri di samping Farhan, lalu mendudukkan tubuhnya disamping adik sepupunya itu.


Farhan dan Nada hanya saling menatap melihat kedatangan Alfan yang tiba-tiba. Padahal sudah sejak satu Minggu yang lalu Farhan berada ditahan tetapi baru hari ini Alfan datang menjenguknya.


"Maaf baru datang menjenguk. Key sedang demam dan dia tidak mengizinkan aku pergi kemanapun." Ujar Alfan yang mengerti arti tatapan Nada dan Farhan.


Mendengar Key sedang sakit, Nada menjadi khawatir. Semenjak musibah yang menimpanya beberapa waktu lalu, ia jadi sudah jarang bertemu dengan keponakannya itu. Terlebih ia tidak mengajar lagi.


"Lalu bagaimana sekarang keadaan Key, Mas?" Tanya Nada.


"Aku turut prihatin terhadap apa yang menimpa Farhan, dan aku sangat yakin Adikku ini tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Lanjutnya.


Farhan merasa tak percaya mendengar perkataan Alfan. Prihatin padanya? Padahal terakhir kali bertemu, Alfan terlihat tidak suka padanya.


Sejenak Alfan menundukkan kepalanya, kemudian ia mengangkat pandangan menatap Farhan lalu berkata.

__ADS_1


"Aku akan membantu mencari bukti agar kau bisa bebas dari sini. Anggap saja itu sebagai bayaran atas apa yang sudah aku lakukan terhadap mu. Karena dendam ku, kau hampir saja terpisah dengan cinta mu."


Farhan menggelengkan kepalanya, "Untuk itu, aku justru berterima kasih karena itu semua aku jadi tahu bagaimana sosok Kania sebenarnya."


Alfan terkekeh, "Yang aku maksud bukan Kania, tapi Nada."


Farhan mengerutkan keningnya.


"Aku yang tidak tinggal serumah dengan kalian saja, aku bisa melihat cinta diantara kalian berdua. Tapi tidak tahu kenapa kalian berdua sama-sama kekeuh menyembunyikan perasaan itu. Mungkin karena status persaudaraan." Tebak Alfan.


Nada menahan senyum, apa yang dikatakan Alfan adalah benar. Namun, ia tidak tahu dengan Farhan.


"Tapi jika aku lihat memang seperti itu, karena status persaudaraan kamu mencari pelarian dan menjatuhkannya pada Kania yang kamu anggap adalah cinta pertama mu padahal sebenarnya bukan. Bagaimana Farhan, apa tebakan ku benar?"


Beberapa saat Farhan masih terdiam, ia sendiri sebenarnya juga tidak mengerti dengan perasaannya terhadap Kania maupun Nada. Hanya saja ia merasakan yang lebih cenderung takut kehilangan Nada.


Waktu kunjungan pun habis.

__ADS_1


"Baiklah Farhan, aku pergi dulu. Nanti aku akan kemari lagi bersama bukti untuk membebaskan mu." Setelah mengatakan itu Alfan berpamitan pergi.


Setelah Alfan telah pergi, Nada pun berpamitan pulang pada suaminya. Meski menjenguk suaminya setiap hari, langkahnya masih saja terasa berat untuk pulang.


__ADS_2