
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Bu Minah dan anak-anaknya serta kedua teman Nada sudah berangkat ke tempat dimana para anak-anak dan orangtua tuna aksara belajar baca tulis. Sementara suami Bu Minah sendiri pergi ke sungai mencari ikan. Dan dirumah tinggal lah Nada berdua dengan Farhan.
Nada merasa sedikit tenang berduaan dengan Farhan dirumah setelah laki-laki itu memberitahu bahwa ia belum menandatangani surat cerai itu.
Namun, Nada tidak habis pikir kenapa Farhan tidak langsung menandatangani surat cerai itu begitu sampai ke tangannya padahal itulah yang diinginkan Farhan, bercerai darinya.
Didalam kamar, Nada sedang mengobati luka memar di tangannya saat Farhan masuk. Laki-laki itu langsung mendudukkan tubuhnya di samping Nada dan langsung mengambil alih mengobati tangan istrinya menggunakan ramuan herbal yang dibuatkan bu Minah sebelum pergi.
"Kenapa, Mas?" Tanya Nada tiba-tiba.
Membuat Farhan mengangkat pandangan menatap istrinya itu sekilas lalu kembali melanjutkan mengobati tangan Nada. Farhan tersenyum tipis, ia tahu apa yang sedang ditanyakan oleh Nada.
__ADS_1
"Walaupun aku sudah menandatangani surat cerai itu, apakah kita sudah bisa dikatakan bercerai, tapi aku tidak pernah mengucapkan kata talak ataupun mengatakan sesuatu yang bisa jatuh talak?"
"Sepertinya Mas Farhan melupakan sesuatu. Apa Mas sama sekali tidak mengingat apa yang sudah pernah Mas katakan dihari pernikahan kita? Apa perlu aku ingatkan lagi apa yang Mas Farhan katakan hari itu?"
Farhan pun tergugu, tanpa sadar ia melepaskan kedua tangan Nada yang sedang ia obati lalu mengangkat pandangan menatap wanita didepannya dengan lekat.
[Nada, sebenarnya Aku hanya terpaksa menikahi mu demi memenuhi permintaan terakhir mendiang Papa. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Papa meminta ku untuk menikahi mu. Jadi, kamu jangan pernah berharap lebih dalam pernikahan ini. Satu bulan lagi Kania kekasih ku akan kembali dari luar Negeri, kami sudah berencana menikah setelah dia kembali dan untuk pernikahan kita hanya sebatas itu saja.] Itulah yang dikatakan Farhan kala itu, tepat dihari pernikahannya dengan Nada.
"Sadar atau tidak tidak, saat itu Mas Farhan sudah menjatuhkan talak padaku. Dan talak itu sudah jatuh saat Mas Farhan menikahi Kania, seperti yang Mas katakan pernikahan kita hanya sebatas itu saja." Ucap Nada dengan mata berkaca-kaca.
Farhan tergugu. Kedua mata nya seketika berkaca-kaca, tak pernah terbayang bahwa ucapan nya saat itu berakibat fatal bagi pernikahannya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Farhan masih membeku dengan posisi duduk berhadapan dengan Nada. Dan sesaat ia seperti kehilangan kemampuan untuk berpikir. Ucapan Nada bagaikan sebuah tamparan bagi nya.
"Dan sekarang pulanglah, Mas. Jangan membuat dirimu terkena masalah, saat ini Kania pasti sedang mencari mu. Dia pasti tidak tahu kan jika Mas Farhan kesini?"
"Kania memang tidak tahu kalau aku menyusul mu kesini, tapi dia sudah tahu jika kita bukan kakak dan Adik." Ujar Farhan.
Dan Nada terlihat acuh, ia tidak perduli jika Kania sudah tahu karena baginya hubungannya dengan Farhan sudah berakhir.
Farhan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kemudian ia kembali meraih kedua tangan Nada kedalam genggamnya.
"Pulanglah bersama ku, Nada. Kita perbaiki semuanya dari awal lagi, kali ini aku akan menikahi mu atas dasar keinginan ku sendiri."
__ADS_1
Mendengar permintaan Farhan, Nada langsung menarik paksa tangannya dari genggaman Farhan lalu memalingkan wajah dari laki-laki itu.
"Selama ini, terlalu banyak yang aku pendam tapi sulit untuk aku ceritakan kepada orang lain, Mas. Dan terlalu berat untuk aku rasa sendiri dan aku lebih memilih berpura-pura tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku berusaha menahan air mata dan berusaha terlihat baik-baik saja didepan orang lain. Saat itu aku juga lebih rela dipoligami karena aku tulus mencintai mu, Mas. Tapi... Kenyataannya aku tidak sekuat itu. Maaf, Mas, aku memilih untuk mundur."