Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 83


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu semenjak Alfan datang ke kantor polisi menjenguk adik sepupunya.


Sesuai janjinya ia akan kembali datang nanti mengunjungi Farhan dengan membawa bukti jika adik sepupunya itu tidak melakukan hal sehina itu.


Dan inilah yang dilakukan Alfan sekarang. Sejak hampir dua jam yang lalu ia mengikuti wanita yang memfitnah Farhan itu hingga selesai berbelanja di sebuah minimarket.


Alfan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan dari jarak yang aman mengikuti wanita itu yang hanya menggunakan sepeda motor.


Tepat saat melewati jalanan yang cukup sepi, Alfan langsung menambah kecepatan laju mobilnya dan menghadang motor wanita itu.


Alfan tak langsung turun dari mobilnya melainkan menunggu wanita itu sendiri yang menghampirinya.


Dan benar saja, wanita itu yang merasa kesal karena dihadang menghampiri mobil yang entah siapa pemiliknya lalu menggedor pintu mobil dengan cukup kencang beserta umpatan yang keluar dari mulutnya.


"Hei, keluar! Kamu pikir ini jalanan nenek moyang mu seenaknya aja menghadang jalan orang."


Namun, dalam beberapa detik Alfan belum menggubris. Dari dalam mobilnya ia memperhatikan wanita itu yang terlihat sangat marah. Ia yakin jika ada seseorang dibelakang wanita itu yang memerintah nya untuk memfitnah Farhan, dan itulah yang ingin ia ketahui siapa orangnya.


Wanita itu terus menggedor pintu mobil Alfan semakin kencang beserta umpatan yang semakin menjadi.


Alfan pun akhirnya membuka pintu mobilnya. Wanita itu langsung melangkah mundur begitu sosok laki-laki bertubuh tegap dan tinggi semampai keluar dari mobil itu, nyalinya seketika menciut. Ia pikir pemilik mobil itu adalah seorang wanita yang bisa ia jadikan lawan sebanding untuk adu mulut. Namun, ternyata bukan, ia merasa sedang dalam masalah sekarang. Terlebih laki-laki pemilik mobil itu menatapnya dengan tajam, sepertinya tidak terima dengan umpatannya tadi.


"Hei tolong pinggirkan mobil mu, motor ku tidak bisa lewat." Ujarnya mulai melemah.

__ADS_1


"Kalau aku tidak mau kenapa?" Ujar Alfan sembari menyandarkan tubuhnya di mobil dengan kedua tangan menyilang di dada.


"Please, aku harus segera ke rumah sakit." Mohon wanita itu dengan nada yang pelan, tetapi dari raut wajahnya nampak sekali ia terlihat geram. Jika saja yang mencari masalah dengannya ini adalah seorang wanita, mungkin ia sudah menghajarnya dan menjambak rambutnya.


"Ouh kau ingin kerumah sakit rupanya. Kalau begitu mari aku antar dengan mobilku." Ujar Alfan seraya membuka pintu mobilnya. Sebisanya ia bersikap tenang dan lembut dan tidak menyakiti wanita itu.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri dengan motor ku. Jadi tolong cepat pinggirkan mobil mu."


"Kau tidak mau aku antar?"


Wanita itu menggeleng.


"Baiklah, kalau begitu jangan salahkan aku jika sedikit memaksa." Alfan langsung menarik tangan wanita itu dan mendorongnya masuk kedalam mobilnya.


Kemudian dengan cepat ia juga masuk kedalam mobilnya lalu melajukan mobilnya mencari tempat yang lebih sepi lagi.


"Berhenti berteriak karena tidak akan yang ada mendengar teriakkan mu!"


Wanita itu tersentak, iapun mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan memang benar tempat itu terlihat sepi sekali.


"Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa menculik ku seperti ini?"


Alfan tertawa renyah, dan itu terlihat menyeramkan dimata wanita itu.

__ADS_1


"Kau penakut rupanya, tapi kenapa berani sekali memfitnah Adik ku?"


"Adikmu yang mana? Aku tidak merasa memfitnah siapapun."


Alfan nampak geram, ia lalu memperlihatkan foto Farhan yang ada di ponselnya. Seketika wanita itupun terkejut dan terlihat sangat ketakutan sekarang.


"Aku tidak memfitnahnya, dia memang melecehkan aku."


"Masih tidak mau mengaku rupanya. Baiklah bagaimana kalau sekarang aku yang melakukan apa yang kau tuduhkan pada Adikku? Tidak ada siapapun yang bisa menolong mu disini sekalipun kau berteriak sekencang mungkin." Alfan tersenyum menyeringai dan membawa tatapannya mengindai seluruh tubuh wanita itu.


"Jangan macam-macam!"


"Katakan, apa motif mu memfitnah Adikku?" Tanya Alfan seraya melepas satu persatu kancing kemejanya.


Wanita itu semakin ketakutan, laki-laki ini sepertinya tidak bermain-main dengan ucapannya. Terlebih sekarang laki-laki itu telah bertelanjang dada.


"Masih tidak mau mengaku?" Dan kini tangan Alfan bergerak membuka ikat pinggangnya. Membuat wanita itu kini dibanjiri keringat dingin.


"Rupanya kau lebih memilih untuk diperkosa daripada buka mulut." Alfan sudah bersiap untuk membuka resleting celananya.


"Baik, aku akan katakan yang sebenarnya." Ujar wanita itu sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tidak ada pilihan lain selain mengaku daripada dirinya menjadi mangsa laki-laki itu.


"Katakan!"

__ADS_1


"Aku tidak melakukannya sendiri, ada seseorang yang menyuruhku."


"Siapa?"


__ADS_2