
Saat akan melangkah menuju tempat sampah yang berada di dekat pintu untuk membuang kertas hasil pemeriksaan kehamilannya, Kania terkejut ketika tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka. Dan keterkejutannya itu bertambah saat melihat siapa yang masuk, dengan sedikit gelagapan ia langsung saja memasukkan kertas itu kedalam tas nya.
"Mas Alfan?"
Alfan melangkah mendekati Kania dengan kedua mata memicing menatap wanita itu.
"Kenapa kamu kelihatan tegang seperti itu?" Tanyanya.
"Gak apa-apa, Mas. Tadi aku kaget aja tiba-tiba Mas Alfan masuk tanpa mengetuk pintu dulu." Jawab Kania.
"Memang nya pernah aku mengetuk pintu ruangan mu setiap kali aku datang ke sini, hum?'' Tanya Alfan, namun belum Kania menjawab ia membawa dirinya duduk di kursi milik Kania.
__ADS_1
"Sebaiknya Mas Alfan jangan sering-sering ke sini. Aku takut ada yang mengenali kita dan menjadi curiga jika sering bertemu." Ujar Kania.
Namun, Alfan seakan tidak perduli. Laki-laki itu mengangkat pandangannya menatap langit-langit ruangan, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sementara itu di luar ruangan Kania. Dokter Reno yang sejak tadi menguping pembicaraan dua orang didalam ruangan itu, sudah siap dengan ponselnya untuk merekam pembicaraan mereka didalam. Namun sejak tadi tak ada pembicaraan yang berarti ia dengar sehingga membuatnya sedikit kesal.
Dokter Reno pun memutuskan untuk pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Alfan berbicara, iapun kembali mendekati pintu itu untuk menguping.
"Malam ini aku menginginkan mu lagi, Kania." Ujar Alfan, dan tentunya ia tidak hanya ingin menikmati tubuh Kania saja tetapi sudah merencanakan sesuatu.
Alfan pun menatap Kania tak kalah tajam, seakan dua mata pisau yang sedang beradu. Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah mendekati Kania.
__ADS_1
"Sepertinya kau sudah tidak perduli jika Farhan akan mengetahui semuanya, hum?" Kalimat Alfan terdengar santai, namun itu adalah ancaman besar bagi Kania.
Mengingat bagaimana kecewanya Farhan saat malam pertama mereka saja sudah membuatnya takut akan ditinggalkan. Lalu bagaimana jika Farhan mengetahui tentang kejahatannya selama ini kepada Nada dan juga pengkhianatan nya bersama Alfan.
"Sudahlah Kania, kau itu bagaikan Budak ku jadi tidak usah macam-macam. Kau tahu kan kemana kau harus datang malam ini, hum?" Ucap Alfan lalu meninggalkan Kania.
Mendengar suara langkah kaki mendekati pintu. Dokter Reno pun bergegas pergi dari depan ruangan Kania dan langsung menuju ruangannya sendiri.
Kania menatap pintu ruangannya yang baru saja dilewati oleh Alfan tertutup, dengan sorot mata yang tajam.
'Baiklah Mas Alfan, malam ini aku akan datang. Tapi bukan untuk menghabiskan malam denganmu. Melainkan mengirim mu menyusul Nada!' Ucap Kania dalam hati. Ia tidak bisa terus-terusan di kekang oleh Alfan. Jalan satu-satunya untuk terlepas dari belenggu laki-laki itu adalah dengan melenyapkannya.
__ADS_1
Sementara itu Alfan yang kini sudah berada didalam mobil nya, menatap pantulan wajahnya dari kaca spion didepannya. Seringai tipis tersungging di bibirnya. Malam ini ia akan mengakhiri semua permainannya.
Alfan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Kemudian mengetikkan sebuah pesan lalu mengirim nya kepada Farhan, dan tentunya ia menggunakan nomor ponsel yang baru.