
"Kalau kamu tidak yakin jika kita sudah menikah, baiklah. Hari ini kita bisa menikah ulang agar kamu tidak terus-terusan menghindari aku." Ujar Farhan yang sudah tampak gusar, karena sejak pagi menyapa Nada terus menghindarinya di setiap tempat.
Tanpa dilihat Nada, Farhan sedikit mengembangkan senyum. Jika Nada bersedia menikah ulang dengannya itu artinya pernikahannya dengan Nada akan terselamatkan.
Sementara Nada menundukkan sedikit kepalanya nampak sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya sejak kemarin saat pulang dari rumah sakit ada yang ingin ia tanyakan pada mama Sarah dan juga Farhan, namun karena keadaannya yang terasa lemah ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Jika kita memang sudah menikah, aku perlu bukti, Mas. Apa Mas Farhan bisa tunjukkan?"
"Memangnya kamu ingin aku menunjukkan bukti apa, Nada?"
"Foto pernikahan dan juga buku nikah, mana aku ingin melihatnya? Kenapa sejak kemarin aku tidak melihat ada satupun foto pernikahan di rumah ini?"
Deg... Seketika Farhan membeku di tempatnya berdiri atas bukti yang diminta Nada.
Bagaimana ia bisa menunjukkan dua benda itu. Foto pernikahan dan juga buku nikah tentu tidak ada.
__ADS_1
Dulu pernikahan mereka hanya dihadiri keluarga inti saja dan tidak ada momen spesial yang diabadikan dalam selembar foto.
Dan untuk buka nikah tentu sudah ditarik oleh pengadilan saat Nada mengajukan perceraian.
Entah apa yang akan terjadi bila Nada tahu dirinya pernah mengajukan gugatan cerai karena ia menikahi wanita lain dan sudah merasa tidak tahan atas semua perlakuannya.
Tidak mungkin juga ia mengatakan semuanya, bisa-bisa Nada akan tertekan dalam kondisinya sekarang dan semakin memperburuk keadaannya. Ia tidak ingin jika sampai Nada kehilangan ingatan untuk selamanya.
"Kenapa diam, Mas? Seharusnya foto pernikahan dan buku nikah pasti ada kan? Tapi kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Nada lagi.
"Ada apa ini?" Tanya mama Sarah yang tiba-tiba datang. Dari kejauhan tadi ia melihat Nada dan Farhan nampak membicarakan sesuatu dan terlihat tegang.
"Kebetulan Mama datang. Ma, aku mau tanya kenapa di rumah ini gak ada foto pernikahan aku dan Mas Farhan? Seharusnya ada kan?"
Mama Sarah melirik ke arah Farhan yang terlihat tegang kemudian kembali menatap Nada. Berbeda dengan Farhan yang tegang, justru mama Sarah terlihat tenang bahkan ia masih bisa tersenyum.
__ADS_1
"Kamu mau lihat foto pernikahan kamu sama Farhan? Tunggu di sini sebentar Mama ambilkan dulu."
Mama Sarah pun meninggalkan Farhan dan Nada, dan tak lama kemudian ia kembali membawa sebuah pigura yang berukuran sedang.
"Ini foto pernikahan kamu dan Farhan. Waktu itu jatuh dan dan bingkai nya pecah. Setelah mama ganti cuma gak sempat pajang aja." Ujar mama Sarah sembari memberikan foto itu kepada Nada.
Farhan yang tadinya terlihat tegang, kini terlihat bingung dan menatap mama nya penuh tanya. Bagaimana mama Sarah bisa mempunyai foto pernikahan itu, sementara yang ia ingat tidak ada sesi foto bersama pengantin saat itu.
Sementara Nada, ia menatap lekat foto pernikahannya dengan Farhan. Dari suasana didalam foto itu ia dapat menebak jika pernikahannya diadakan dengan sederhana. Di dalam foto itu ia duduk berdampingan dengan Farhan dengan kedua tangan menengadah. Ia tahu foto diambil saat baru selesai ijab kabul.
Yah, saat itu Mama Sarah memang sempat mengabadikan foto pernikahan Nada dan Farhan setelah ijab Kabul, dan itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Farhan.
"Lalu, dimana buku nikah nya, Ma?"
Pertanyaan Nada kali ini bukan hanya membuat Farhan kembali tegang, tetapi juga mama Sarah. Untuk hal itu mama Sarah tidak tahu harus mengatasi bagaimana.
__ADS_1