
Pagi hari...
Nada yang sedang merapikan tempat tidur tersentak kaget saat tiba-tiba kedua tangan kekar melingkar di perut nya dari belakang. Sontak ia mengelus dada, namun terbit sebuah senyuman di wajah nya.
"Mas, bikin kaget aja sih!"
"Maaf, kamu sih cantik banget apa lagi kalau gak pakai hijab gini." Sebelah tangan Farhan terangkat membelai rambut panjang Nada yang dibiarkan terurai.
"Ya ampun Mas, kemana aja sih selama ini?"
Farhan menarik tangan nya lalu memutar tubuh Nada berhadapa dengan nya. "Maaf, aku terlambat menyadari nya. Aku baru sadar dengan semua yang telah terjadi mungkin sudah menjadi garis takdir kisah ku. Maaf kan aku yang tidak bisa menerima keadaan dan menyakiti mu berulang kali." Jari jemari nya ia tuntun membelai wajah istri nya yang sudah merona. Berakhir pada dagu dan menarik nya agar Nada menatap nya.
"Tidak perlu menyesali apa pun, Mas. Yang telah terjadi biarlah menjadi pelajaran untuk kita agar di kemudian hari kita bisa lebih bijak dalam menghadapi masalah, ataupun cobaan yang di berikan kepada kita. Terutama dalam mengambil sebuah keputusan haruslah dipikirkan sematang mungkin."
__ADS_1
Farhan mengulas senyum tipis, mungkin penyesalan terbesar dalam hidupnya jika sampai ia benar-benar kehilangan Nada.
"Terima kasih untuk semua nya. Aku tidak akan berjanji apa pun, karena aku sendiri tidak bisa menjamin bisa menepati janji ku. Tapi aku akan membuktikan nya dengan perbuatan, mencintai dan menyayangi mu dengan cara ku. Terima kasih karena sudah mencintai ku. Jika aku boleh jujur, aku sangat berterima kasih pada Papa yang telah memilihkan istri terbaik untuk ku, dan bodoh nya aku hampir saja menyia-nyiakan nya."
Nada tersenyum. Saat masih hidup sang papa selalu lebih mengutamakan diri nya daripada Farhan yang adalah anak kandung.
"Mas percaya tidak? Papa pernah bilang kalau Papa lebih menyayangi aku daripada Mas Farhan."
Namun, Farhan tidak pernah merasa iri karena Nada adalah wanita. Terlebih Nada seorang anak yatim-piatu yang lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang sosok orangtua.
Beberapa saat kamar itu hening, baik Nada mau pun Farhan sama-sama terdiam dengan saling menatap, hingga Farhan tiba-tiba teringat sesuatu, kemudian ia melepas tangannya yang memegang dagu Nada.
"Oh ya, aku sampai lupa, tunggu sebentar." Farhan melangkah menuju nakas kemudian mengambil sebuah benda didalam laci. Setelah itu ia kembali menghampiri Nada.
__ADS_1
Farhan menarik sebelah tangan Nada, lalu memasang sebuah gelang di pergelangan tangan, yang ia ambil di koper Nada dan ia simpan sebagai kenangan karena mengira Nada telah tiada.
Awalnya Nada tersenyum senang tiba-tiba saja Farhan memasangkan gelang di tangannya, namun setelah memperhatikan gelang itu senyumnya seketika surut.
"Ada apa? Bukankah ini gelang mu?" Tanya Farhan, ia dapat menyadari perubahan raut wajah Nada yang tampaknya tidak menyukai gelang itu.
"Mas, sebenarnya ini bukan gelang ku."
"Bukannya waktu itu kamu bilang ini gelang mu?" Farhan mengerutkan keningnya.
"Maaf aku sudah bohong tentang gelang ini. Tapi memang gelang ini bukan punya ku."
"Jadi kalau bukan gelang mu, lalu gelang siapa?"
__ADS_1