
Entah sudah berapa lama Nada terduduk lemas di teras rumah dengan tatapan yang nampak kosong menatap ponselnya yang tergeletak di lantai dan mungkin saja masih terhubung dengan polisi yang menelponnya.
"Mas Farhan, tidak mungkin...
Beberapa kali Nada menggelengkan kepalanya, berharap apa yang disampaikan oleh polisi itu tentang suaminya tidaklah benar.
Nada menengadahkan kepalanya menatap langit gelap tanpa satupun bintang yang berkelip.
Ia tahu, Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. Namun, Nada tetap berharap bahwa kabar yang baru saja didengarnya tidaklah benar.
Setetes cairan bening kembali menetes disudut matanya seiring terpaan angin yang berhembus. Nada pun mengusap air matanya lalu beranjak dari atas lantai. Yah, ia tidak boleh lemah seperti ini.
"Nada, apa Nak?" Tanya mama Sarah ketika Nada menghampirinya dengan raut wajah yang nampak suram.
Nada masih diam, ia benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana mengatakan pada mama Sarah tentang apa yang menimpa Farhan sekarang.
"Apa Farhan sudah pulang?" Tanya mama Sarah lagi.
__ADS_1
Nada menggeleng sembari mendudukkan tubuhnya disamping mama Sarah.
"Mas Farhan sekarang ditahan di kantor polisi, Ma." Jawab Nada lalu menunduk sambil mengusap wajahnya. Kabar yang disampaikan polisi itu benar-benar tidak bisa membuatnya berpikir jernih.
"Apa, ditahan di kantor polisi?" Seketika kedua mata mama Sarah membulat, ia benar-benar syok mendengar kabar itu. "Nada bagaimana bisa, apa yang dilakukan Farhan sampai dia ditahan polisi?"
Nada mengangkat kepalanya, beberapa kali ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Mas Farhan dituduh telah melakukan percobaan pelecehan terhadap seorang wanita didalam mobilnya." Jawab Nada lalu kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Rasanya ia tidak percaya jika suaminya sampai melakukan hal sehina itu, tetapi ucapan polisi yang begitu meyakinkan membuatnya benar-benar merasa sesak.
Baru saja ia dan Farhan memulai membuka lembaran baru, tetapi ujian kembali menerpa rumah tangganya.
"Nada, itu gak mungkin kan? Farhan gak mungkin berbuat hal yang hina seperti itu." Ucap mama Sarah dengan terbata-bata, bahkan tatapannya tidak tahu mengarah kemana.
Nada hanya mengangguk. Yah, seharusnya ia tidak mempercayai berita itu sebelum mendengar langsung kebenarannya dari suaminya.
"Ma, kita ke kantor polisi sekarang. Mas Farhan pasti membutuhkan kita."
__ADS_1
Mama Sarah mengangguk.
.
.
.
Malam yang mulai larut tidak memungkinkan mereka pergi ke kantor polisi dengan mengendarai sepeda motor milik Nada, yang akhirnya mama Sarah menghubungi dokter Reno meminta temannya itu untuk mengantarkan mereka ke kantor polisi.
Tak berselang lama, dokter Reno pun datang. Laki-laki baya yang bergelar seorang dokter itu juga nampak kaget dengan berita tentang Farhan yang diberitahukan oleh mama Sarah.
"Sarah, bagaimana kejadian yang sebenarnya?"
Mama Sarah menggeleng, "Kami juga tidak tahu, Reno. Tadi polisi menghubungi Nada dan meminta kita ke kantor polisi untuk mendengar kronologi sebenarnya."
"Baiklah, kalau begitu kita ke kantor polisi sekarang." Ujar dokter Reno lalu membuka pintu mobil untuk Nada dan mama Sarah.
__ADS_1
Mereka bertiga pun berangkat ke kantor polisi dengan perasaan yang campur aduk. Berita ini benar-benar mengejutkan.
Sepanjang jalan Nada selalu terdiam dengan melempar pandangan ke jalanan disampingnya. Pikirannya terus tertuju pada Farhan. Banyak pertanyaan yang timbul dipikirkannya, bagaimana bisa itu semua terjadi.