
"Kalau dilihat keadaan mu masih sangat lemah, jadi seharusnya kamu tetap berada di rumah sakit untuk beberapa hari lagi." Ujar Nada.
"Tahu apa kamu? Aku lebih tahu bagaimana keadaan ku sendiri!" Ucap Kania dengan agak ketus. Awalnya ia memang merasa terkejut dan takut, ia berpikir sedang melihat hantunya Nada. Namun, setelah Farhan menceritakan semuanya, bukan hanya keterkejutan dan rasa takutnya yang hilang, tetapi rasa sesal nya atas apa yang sudah ia lakukan pada Nada pun seakan lenyap. Dan rasa tak suka itu kembali hadir dihatinya.
Nada maju selangkah lebih mendekati Kania. Mengulurkan tangannya untuk menyentuh punggung tangan mantan istri kedua suaminya itu namun tepisan lebih dulu ia dapatkan, dan hal itu tentu tidak membuat Nada merasa tersinggung justru ia malah mengembangkan senyum.
"Iya aku tahu, kamu seorang dokter. Jadi kamu lebih tahu bagaimana kondisi kamu sendiri daripada aku yang tidak mengerti apapun tentang medis. Tapi aku hanya menyarankan saja, mau menerima atau tidak itu adalah hak mu. Dan aku hanya menyampaikan bentuk kepedulian ku saja terhadap sesama."
"Simpan saja rasa kepedulian mu itu, apalagi untukku karena aku tidak butuh!"
__ADS_1
"Sudahlah, Nada. Kamu dengar sendiri kan apa yang dia bilang? Tidak usah memperdulikan orang yang mata dan hatinya sudah dibutakan dengan kebencian. Sebaiknya kita pergi dari sini." Farhan menarik tangan Nada untuk pergi, namun saat melewati Alfan, Nada menarik tangan suaminya hingga langkah keduanya pun terhenti.
"Tunggu sebentar, Mas. Aku perlu bicara dengan Mas Alfan."
Farhan pun mengangguk, lalu melepaskan genggamannya pada tangan Nada.
"Mas Alfan pasti belum lupa kan tentang peristiwa yang menyebabkan Adik perempuan Mbak Hana meninggal?"
Alfan menunduk, tentu ia masih ingat peristiwa itu. Adik iparnya meninggal karena terjebak didalam gudang yang sengaja dibakar oleh seseorang yang tidak menyukai keberhasilannya. Orang tersebut mengira adik iparnya itu adalah Hana, namun sayangnya salah sasaran.
__ADS_1
"Apa waktu itu Mbak Hana dendam pada orang yang sudah membuat adiknya meninggal, tidak kan? Padahal, jika Mbak Hana mau dia bisa saja membalas dengan cara yang sama atau menuntut hukum yang seberat-beratnya. Atau menyalahkan Mas Alfan atas meninggalnya adiknya. Tapi nyatanya Mbak Hana tidak melakukan itu. Karena apa? Karena Mbak menganggap itu semua adalah Takdir,"
"Peristiwa itu juga sangat jelas, terjadi karena ulah seseorang yang tidak menyukai keberhasilan Mas Alfan. Tidak ada kekeliruan apalagi kesalahpahaman, tapi Mbak Hana sama sekali tidak menyimpan dendam ataupun menyalahkan Mas Alfan. Jadi, kenapa meninggalnya Mbak Hana dalam kecelakaan yang tidak disengaja membuat Mas Alfan menjadi pendendam seperti ini? Iya, Kania memang salah karena melarikan diri waktu itu, tapi Mas Alfan lebih salah karena langsung menjatuhkan semuanya pada Mas Farhan tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Lihat sekarang apa akibat dari tindakan Mas Alfan itu? Tidak ada yang bahagia, Mas. Aku rasa Mas Alfan sendiri pun sekarang sedang tidak baik-baik saja. Dan disana Mbak Hana pun pasti sedih melihat Mas Alfan seperti ini."
Nada menjeda kalimatnya sejenak untuk mengambil nafas.
"Yang sudah terjadi biarlah menjadi pelajaran untuk kita semua, tapi aku sangat berharap Mas Alfan bisa mempertanggung jawabkan semuanya terutama kepada Kania."
Setelah mengucapkan itu Nada pun berbalik membelakangi Alfan, lalu kembali menghampiri Farhan mengajak suaminya itu untuk pergi dari ruangan yang seketika senyap dengan orang-orang yang larut dalam keheningan meresapi semua yang telah mereka lakukan.
__ADS_1