Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 85


__ADS_3

Di ruang tunggu, Nada, mama Sarah dan juga Alfan menunggu Farhan yang telah dinyatakan bebas dari semua tuduhan.


Nada langsung berhambur memeluk suaminya begitu Farhan datang bersama seorang polisi yang mengantarkannya.


Farhan pun membalas pelukan istrinya itu dengan erat, bersama kecupan yang ia labuhkan di pucuk kepala Nada.


Dengan masih memeluk istrinya, Farhan melirik kearah Alfan yang berdiri disamping mama Sarah. Entah dengan cara apa saudara sepupunya itu mencari bukti untuk membebaskannya.


Nada mengurai pelukannya, lalu berganti dengan mama Sarah yang juga memeluk putranya. Hampir dua pekan Farhan berada di penjara rasanya sangat lama bagi mama Sarah.


"Sekarang kita pulang ya, Nada sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu dirumah." Ujar mama Sarah.


Farhan mengangguk dengan antusias, meskipun setiap hari Nada datang menjenguknya dan membawakan makanan kesukaannya tetap saja ia merindukan suasana makan bersama dirumah.


"Tapi sebelum kita pulang, aku ingin mengajak kalian ke sesuatu tempat dulu." Sela Alfan. Raut wajahnya sedari tadi nampak datar, namun bila diperhatikan dari matanya ada kesedihan disana.

__ADS_1


"Kemana, Mas?" Tanya Farhan.


"Nanti kalian akan tahu sendiri." Ujar Alfan, lalu segera mengajak Tante dan kedua adiknya itu meninggalkan kantor polisi dan pergi ke tempat yang dimaksud oleh Alfan.


Sepanjang jalan semuanya hening dan larut dalam pikiran masing-masing. Bukan hanya Farhan yang penasaran dengan bagaimana Alfan mencari bukti untuk membebaskannya, Nada dan mama Sarah pun juga penasaran karena Alfan mengatakan akan memberitahu mereka nanti.


Sementara Alfan yang mengemudi tampak fokus dengan jalanan didepannya, namun dalam hatinya ada sesuatu yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata maupun dengan ekspresi apapun.


Lima belas menit berkendara, mobil Alfan pun memasuki area pemakaman. Farhan, Nada dan mama Sarah bertanya-tanya dalam hati kenapa Alfan membawa mereka ke sini.


Namun, mereka lagi-lagi dibuat kebingungan karena Alfan menuntun mereka bukan kearah makam papa Aditya melainkan menuju sebuah pemakaman yang masih nampak baru.


"Alfan, ini pemakaman siapa?" Tanya mama Sarah akhirnya tidak bisa lagi memendam rasa penasarannya. Terlebih papan yang tertancap diatas pemakaman itu tertutup dengan kain sehingga tidak terlihat nama siapa yang tertulis di situ.


Alfan tak mengucapkan sepatah katapun, ia merendahkan tubuhnya didepan pemakaman itu lalu menarik kain yang menutupi papan itu.

__ADS_1


Seketika Farhan, Nada dan mama Sarah dibuat terperangah ketika melihat nama siapa yang tertulis di situ.


"Kania..." Ucap Nada dengan terbata, sementara Farhan lidahnya tiba-tiba saja terasa keluh. Sama sekali tidak merasa sedih hanya saja ia merasa terkejut.


Alfan pun kembali berdiri. "Kania tertabrak saat aku berusaha mengejarnya. Yah, yang menyuruh wanita itu untuk memfitnah Farhan adalah Kania." Ujar Alfan dengan lirih, namun itu masih dapat didengar dengan jelas oleh Nada, Farhan dan juga mama Sarah.


"Apa?" Mendengar penuturan Alfan, seketika Farhan mengepalkan tangannya dan menatap pemakaman Kania dengan tajam. Andai saja mantan istirnya itu masih hidup, ia akan memberinya pelajaran dengan tangannya sendiri.


Namun, itu semua telah terjadi. Kania sudah menerima hasil dari perbuatannya sendiri, dan yang bisa mereka lakukan hanyalah mendoakan Kania di sana.


Beberapa saat berada di pemakaman itu, Farhan pun mengajak keluarganya segera pergi.


Di saat yang lainnya sudah meninggalkan pemakaman Kania, Alfan masih berdiri di situ menatap papan yang tertulis nama Kania dengan nanar.


"Padahal aku sudah memikirkan, untuk menikahi kamu setelah masa Iddah mu selesai. Tapi kamu memilih jalan mu sendiri, semoga kamu tenang di sana, Kania."

__ADS_1


__ADS_2