
"Ma, ini rumah siapa?" Tanya Farhan ketika telah sampai di sebuah rumah minimalis.
"Ini rumah teman Mama..." Belum selesai mama Sarah menjawab, seorang lelaki baya keluar dari rumah itu menghampiri Farhan dan juga mama Sarah.
"Farhan, ini Dokter Reno teman Mama." Lanjut mama Sarah memperkenalkan.
Farhan pun membalas uluran tangan dokter Reno dan juga memperkenalkan dirinya dengan nampak heran, untuk apa mamanya mengajaknya ke sini. Seharusnya mereka ada di pemakaman dan mencegah orang-orang yang ingin merusak pemakaman Nada.
"Sarah, tadi jari-jari tangannya bergerak setelah aku membisikkan sesuatu ke telinganya. Coba tebak apa yang aku bisikkan padanya?" Ujar dokter Reno sambil tersenyum.
Mendengar ucapan dokter Reno, mama Sarah pun tersenyum senang sambil melirik Farhan sebentar.
"Reno, kamu gak bercanda kan? Memangnya apa yang kamu bisikkan padanya?" Tanya mama Sarah nampak tak sabaran.
"Aku bilang, bangunlah karena sebentar lagi Suami mu akan datang. Istri macam apa yang kerjanya hanya tidur saja tidak mengurus Suaminya." Jawab dokter Reno.
Mama Sarah sampai menutup mulutnya, rasanya masih tak menyangka jika Nada akan memberi respon setelah dibisikkan seperti itu.
Sementara Farhan semakin nampak kebingungan dengan menatap mamanya dan dokter Reno bergantian.
"Sekarang ayo kita masuk," ajak dokter Reno kemudian.
__ADS_1
Mama Sarah pun menarik tangan Farhan mengikuti dokter Reno masuk kedalam rumah. Ketika telah sampai di depan sebuah kamar, mama Sarah meminta Farhan yang membukanya.
Walau tidak mengerti apapun, Farhan menuruti saja. Ia membuka pintu kamar itu, dan...
Tubuhnya seketika membeku di ambang pintu kamar, kedua matanya terbelalak ketika tatapannya tertuju pada sosok wanita yang terbaring di atas tempat tidur. Mulutnya seakan terkunci, lidahnya terasa keluh untuk berucap. Yang dapat dilakukannya hanya menoleh dengan gerakan pelan menatap mamanya seakan meminta penjelasan dari apa yang dilihatnya sekarang.
"Iya, Farhan. Sebenarnya Nada masih hidup. Dia selamat dari kecelakaan itu tapi sayangnya mengalami Koma. Mama sengaja menyembunyikan Nada dan menggantinya dengan jenazah orang lain, karena Mama takut keselamatannya kembali terancam jika..." Mama Sarah menjeda kalimatnya. Wajahnya nampak geram mengingat dua pengkhianat itu.
"Sebenarnya Mama sudah tahu sejak awal jika Kania yang mencelakai Nada, waktu itu Mama mendengar percakapannya dengan Alfan."
Sampai detik itu Farhan masih belum bersuara, hingga dokter Reno menyuruhnya untuk masuk kaki nya pun perlahan melangkah ke dalam kamar.
Suster yang menjaga Nada langsung beranjak dari sisi ranjang begitu Farhan datang.
"Nada..." Detik itu juga Farhan menjatuhkan tubuhnya, merengkuh tubuh wanita yang ia kira telah tiada. Memeluk dengan erat raga yang membuatnya berkabung dalam penyesalan.
Farhan pun menangis tergugu dengan menghujani wajah Nada dengan kecupan. Allah maha baik telah memberinya kesempatan untuk menebus sebuah kesalahan.
"Nada, ayo bangun. Aku ingin mendengar lagi kau mengatakan mencintai aku. Ayo bangun Nada, dan katakan itu lagi. Katakan kalau kau sangat mencintai aku."
Namun, kedua mata Nada masih tertutup rapat, membuat tangis Farhan semakin menjadi.
__ADS_1
Farhan pun menempelkan keningnya pada kening Nada dengan masih memeluk tubuh wanita itu. Isak tangisnya perlahan mereda, namun sesekali terdengar sesenggukan.
Di ambang pintu, mama Sarah dan dokter Reno pun ikut menangis melihat pemandangan itu. Begitupun dengan suster yang menjaga Nada. Wanita yang seumuran dengan Nada itu, turut merasa senang atas pertemuan Nada dengan suaminya. Ia berharap Nada akan bangun setelah ini.
"Tangannya bergerak!" Pekik suster itu ketika melihat sebelah tangan Nada terangkat hendak menyentuh kepala Farhan.
Dokter Reno dan Mama Sarah yang baru menyadari itu segera mendekat.
Begitupun Farhan yang langsung mengangkat kepalanya, tangisnya kembali luruh melihat pergerakan tangan Nada walau dengan mata masih terpejam.
"Nada, kamu sudah bangun? Ayo buka matamu, lihat aku." Pinta Farhan sembari menggenggam erat sebelah tangan Nada yang terangkat. Ia mengecupnya berulang kali.
"Benar dugaan ku. Nada akan bangun setelah Suaminya datang." Ujar dokter Reno.
Bersamaan dengan itu kedua mata Nada pun perlahan terbuka, membuat semua yang ada di ruangan itu tersenyum bahagia melihatnya.
Akhirnya Nada terbangun setelah satu bulan lebih tertidur pulas.
Ketika kedua mata Nada telah terbuka sempurna, ia menatap satu-persatu orang-orang yang mengelilinginya, kemudian menatap jam dinding di kamar itu yang menunjukkan pukul satu siang lalu kembali menatap mama Sarah.
"Ma, apa Papa sudah minum obat?" Tanya Nada.
__ADS_1
Membuat semuanya terkejut mendengar pertanyaannya itu.
Mama Sarah langsung menoleh menatap dokter Reno.