Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 23


__ADS_3

"Tumben pagi-pagi sekali kamu sudah rapi?" Tanya Farhan yang baru saja membuka mata, melihat Kania sudah rapi dengan setelan dokternya.


"Iya, Mas, ada beberapa pasien yang harus diperiksa pagi ini." Jawab Kania lalu melangkah menghampiri Farhan. "Oh ya, Mas, sekalian aku mau izin setelah dari rumah sakit aku mau keluar kota mengikuti seminar, mungkin akan pulang besok." Lanjutnya setelah mendudukkan tubuhnya di samping


Suaminya yang masih dalam keadaan polos di bawah selimut tebal.


Farhan menarik tubuhnya bersandar di kepala ranjang, lalu memijat beberapa bagian tubuhnya yang sedikit terasa pegal. Meski ia merasa kecewa telah dikhianati oleh Kania, nyatanya ia tetap membutuhkan istrinya itu untuk menyalurkan hasratnya dan semalam ia melakukannya sampai beberapa kali. Namun, tidak tahu kenapa justru fantasinya tertuju kepada Nada. Boleh jadi ia merasa menyesal telah mengabaikan istri pertamanya itu selama ini, dan ia berharap bisa segera bertemu Nada dan memperbaiki semuanya.


"Hem, kamu hati-hati disana." Ujar Farhan.


Kania pun berpamitan, ia bergegas pergi setelah memberikan kiss pagi yang cukup menuntun pada suaminya itu.

__ADS_1


Setelah Kania pergi, perlahan Farhan beringsut turun dari tempat tidur lalu melangkah menuju kamar mandi.


Saat melewati meja rias ia menghentikan langkahnya, Farhan memutar tubuhnya lalu berjalan pelan mendekat meja rias itu. Ia berhenti ketika pantulan tubuhnya terpampang jelas di cermin besar itu.


Ringisan tipis tercetak di bibirnya melihat banyak sekali tanda kemerahan dibagian dada hingga lehernya, dan itu adalah tanda kebuasan Kania semalam. Ia mengakui kelihaian dan kelincahan istri keduanya itu dalam berhubungan badan, dan satu fakta yang tidak bisa ia lupakan jika Kania sudah tak perawan sebelum menikah dengannya.


.


.


.

__ADS_1


"Neng, kita makan siang dulu ya baru setelah itu kita ke bukit." Ujar bu Minah.


Nada mengangguk, "Iya, Bu, tapi aku mau shalat dulu sebentar." Jawab Nada.


"Oh ya udah, kalau gitu Ibu siapin makan siangnya dulu nanti setelah Neng shalat kita makan bareng."


Nada pun bergegas menuju belakang rumah untuk mengambil air wudhu di sumur tua, sementara dua teman guru yang memiliki beda keyakinan dengannya memilih untuk membantu bu Minah menyiapkan makan siang.


Setelah berwudhu Nada kembali masuk ke rumah dan langsung memulai shalat. Dan beberapa saat kemudian setelah shalat, Nada sejenak duduk bersimpuh sembari mengangkat kedua tangannya. Mengadu kepada Tuhannya tentang perasaannya, sejujurnya hingga saat ini ia masih belum bisa melupakan Farhan meski ia sudah memutuskan untuk menggugat cerai suaminya itu. Rasa cintanya kepada Farhan begitu besar sehingga sulitnya baginya untuk melupakan. Namun, demi kebahagiaan Farhan ia rela melakukan apapun termasuk melepas suaminya itu untuk wanita lain.


"Ya Allah, aku tidak pernah tahu siapa yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangi aku saat ini. Aku juga tidak tahu siapa yang akan bersamaku kelak. Namum, jika boleh aku meminta pertemukan takdirku dengan orang yang terbaik menurut-Mu. Yang benar-benar tulus dan menerima segala kekuranganku."

__ADS_1


__ADS_2