
Mama Sarah sampai tidak bisa berkata-kata setelah Farhan menceritakan semuanya. Wanita baya itu hanya bisa mengusap wajah sambil menghela nafas berulang kali. Tidak menyangka Alfan yang di kenal baik dan selalu bersikap ramah kepada siapapun ternyata memiliki jiwa pendendam. Dan yang lebih di sayangkan dendamnya itu ternyata salah sasaran.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang, Farhan?" Tanya Mama Sarah setelah beberapa saat terdiam.
"Apalagi, Ma, tentu aku akan menceraikan Kania." Jawab Farhan dengan suara beratnya.
Di malam pernikahannya dengan Kania ia memang sempat merasa kecewa karena ternyata istrinya itu sudah tidak perawan lagi, namun karena sebuah rasa yang bernama cinta ia memilih mengesampingkan itu dan mencoba menerima. Namun, untuk kali ini setelah mengetahui semuanya kata maaf pun tak akan ia berikan. Semua tentang Kania akan ia lenyapkan dari kehidupannya. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan wanita itu, wanita yang pertama kalinya membuatnya jatuh cinta, yang juga telah menorehkan luka teramat dalam di hatinya.
"Mama akan mendukung keputusan mu itu, Farhan. Sejak awal Mama memang tidak menyetujui pernikahan kalian." Ujar mama Sarah dengan ekspresi yang nampak geram. Jika saja diberi kesempatan bertemu Kania, ia akan menghajar habis-habisan wanita itu karena telah berani mencelakai Nada. Dan beruntungnya Nada selamat walaupun mengalami koma.
.
__ADS_1
.
.
Sementara itu, masih di apartemen Farhan.
Kania sudah hampir tak berdaya di atas lantas dengan posisi masih terikat di kursi. Alfan terus memukulnya secara bertubi-tubi hingga kursi yang didudukinya terbalik. Darah segar mengalir dari hidung dan juga sudut bibirnya.
Tindakannya dulu yang melarikan diri setelah menabrak Hana karena tidak ingin terkena masalah, kini justru membawanya ke dalam masalah besar. Alfan sudah bagaikan malaikat maut untuknya, yang terus memberi pukulan tanpa ampun.
Alfan yang tadinya sudah mengangkat tongkat bisbol untuk memukul Kania, mengapung di udara ketika mendengar ucapan wanita itu.
__ADS_1
Alfan pun menurunkan tongkat bisbol itu lalu merendahkan tubuhnya berjongkok di samping Kania.
"Apa maksud mu, huh?" Tanyanya dengan mencengkeram wajah Kania.
"Aku hamil, Mas. Dan anak yang ku kandung adalah darah daging mu." Jawab Kania.
"Tidak, itu tidak mungkin. Kau jangan mencoba-coba untuk mengelabuhi ku!" Tukas Alfan tidak percaya.
"Aku tidak berbohong, Mas. Aku hamil tiga Minggu dan sudah di pastikan ini adalah anakmu karena Mas Farhan sudah lama tidak pernah menyentuh ku lagi." Ujar Kania. Nafasnya terengah-engah. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam dan terasa sangat lemas. Untuk berbicara pun rasanya begitu sulit belum lagi luka di sekitar bibir membuatnya nampak kesusahan membuka mulut.
Untuk beberapa saat Alfan mematung mendengar penuturan Kania. Malam itu, tepatnya sebulan yang lalu ia menggauli wanita itu berulang kali tanpa menggunakan pengaman. Dan jika benar Kania mengandung darah dagingnya, itu artinya ia harus berpikir ulang untuk melenyapkan Kania.
__ADS_1
"Walaupun kau memang mengandung darah daging ku, jangan kau berpikir aku akan mengampuni mu. Kau tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu, Kania!"
Alfan pun membuka tali yang mengingat tubuh Kania, setelah tali itu terlepas iapun langsung menyeret wanita itu keluar dari kamar dan membawanya ke sebuah ruangan.