Ketulusan Cinta Nada

Ketulusan Cinta Nada
KCN~ BAB 59


__ADS_3

Satu minggu menjalani perawatan di rumah sakit, hari ini mama Sarah dan Farhan membawa Nada pulang setelah mendapatkan surat izin dari rumah sakit. Untuk pengobatan Nada selanjutnya akan di pantau langsung oleh dokter Reno di rumah.


Sekarang Nada sedang duduk bersandar di tempat tidur. Sekelumit bayangan tersamar muncul di ingatan ketika mengingat ucapan mama Sarah yang mengatakan bahwa ia dan Farhan sudah menikah.


Sebelah tangan Nada mengusap permukaan ranjang di sampingnya. Jika ia dan Farhan benar sudah menikah, itu artinya ia sudah menghabiskan waktu bersama Farhan di ranjang miliknya itu.


Tidak! Rasanya Nada ingin menjerit membayangkan bahwa tubuhnya telah terjamah. Bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan laki-laki yang notabene adalah kakaknya sendiri.


Lamunan Nada membuyar ketika Farhan masuk ke kamarnya. Reflek Nada menarik selimut menutupi tubuhnya meskipun ia mengenakan pakaian tertutup lengkap dengan hijabnya.


Farhan meletakkan nampan diatas meja yang berisi makanan untuk Nada beserta obatnya. Kemudian laki-laki itu tersenyum pada Nada lalu mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Kenapa bukan Bi Ida yang mengantarkan makanan nya?" Tanya Nada, kedua tangannya mencengkram erat selimut seolah takut jika Farhan akan... Ah, pikirnya sudah terlalu jauh membuatnya ketakutan sendiri.


Meski sejak kecil mereka berdua adalah kakak adik, namun tetap saja ia selalu menjaga batasan dengan Farhan karena mereka tidak sedarah.


"Bi Ida sudah tidur setelah shalat Isya tadi, sepertinya sedang kurang enak badan juga. Jadi gak apa-apa aku yang membawa makanan untukmu, aku kan Suami kamu." Ujar Farhan.


Tanpa sadar Nada menggelengkan kepalanya. Ada rasa risih saat Farhan mengatakan ia adalah suaminya.


"Aku suapi ya?" Tawar Farhan, namun dengan cepat Nada menggelengkan kepalanya.


Ucapan Nada seketika membuat Farhan merasa sesak. Ia jadi teringat dengan perlakuannya dulu dengan Nada. Jadi ini yang dirasakan Nada ketika ia terus mengabaikan istrinya itu.

__ADS_1


"Tapi Nada, kita kan...


"Maaf, Mas. Aku harap Mas Farhan bisa mengerti keadaan ku saat ini." Ucap Nada menyela, ia menundukkan kepala memutus tatapannya dari Farhan.


"Tapi Nada, bagaimana kamu bisa mengingat tentang kita? Kalau kita saja akan tidur terpisah." Farhan menatap Nada dengan penuh permohonan, ada rasa tak rela jika harus tidur terpisah. Dalam hal ini ia merasa tak adil untuknya. Dulu ia memang sering mengabaikan Nada, namun tetap membiarkan istrinya itu tidur seranjang dengannya. Tetapi Nada, secara terang-terangan memintanya untuk tidur di kamarnya sendiri.


"Mas, aku mohon pengertian mu. Ini semua tidak mudah untukku. Selama ini Mas Farhan memang selalu perhatian padaku sebagai seorang kakak, tapi sekarang aku sadar bahwa itu tidak semestinya. Kita memang saudara, tapi Mas Farhan harus ingat bahwa kita tidak sedarah."


"Tapi sekarang kita bukanlah lagi Kakak dan Adik, Nada. Sekarang kita adalah Suami Istri!" Farhan menekankan di akhir kalimatnya, berharap Nada pun mau mengerti dirinya. Ini semua ia lakukan pun demi Nada agar perlahan mengingat semuanya.


"Mas, aku mohon mengertilah!" Nada pun sama, ia berharap Farhan juga mau mengerti dirinya.

__ADS_1


Farhan seketika menunduk sambil memejamkan mata. Kenapa rasanya sakit sekali. Dadanya benar-benar terasa sesak bagaikan di himpit bongkahan batu yang besar.


"Baiklah, Nada. Aku akan pergi ke kamarku sendiri. Tapi setelah kamu menghabiskan makanan mu dan juga minum obat." Ujar Farhan pada akhirnya mengalah.


__ADS_2