Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Pria Itu


__ADS_3

Happy Reading 😊


"Bos ada masalah!" seru anak buah Felicia.


"Apa yang terjadi?" tanya Felicia.


Anak buah Felicia mengatur napas terlebih dahulu sebelum berucap.


"Itu Bos, ada orang yang sedang di pukuli oleh pengunjung lain,"


"Sebaiknya bos periksa sendiri ke dalam ruangan itu," tunjuk pengawal di salah satu ruangan.


Felicia menatap sebuah ruangan di sebelah ruang yang di pakai oleh Morgan, kemudian kembali menatap para anak buahnya.


"Lalu bagaimana kondisi situasi di dalam?" tanya Felicia.


Mengingat ruangan itu termasuk ruang VIP yang ada di bar tersebut, Felicia harus bertanya terlebih dahulu kepada para bawahannya tentang situasinya di dalam ruangan X yang sedang terjadi masalah itu.


"Tadi ada dua pria yang sedang berkelahi, yang aku kenal salah satu dari pria itu adalah Alexander. Dia memukul pengunjung yang sudah datang terlebih dahulu berasa dengan seorang wanita," jawab mereka.


Felicia tampak mengerutkan keningnya ketika mendengar nama itu. Nama yang tidak begitu asing. 'Alexander?'


"Tuan Alex terlihat memukuli pria itu, sepertinya mereka sedang memperebutkan wanita yang di bawa oleh pria satunya," jelas salah seorang pengawal.


Felicia manggut-manggut sambil memegang dagunya, berfikir keras dengan apa yang akan dilakukannya nanti. Untuk masalah asmara atau rebutan seperti itu, benar-benar membuat gadis cantik itu pusing.


"Hem, rebutan ya?"


"Iya bos, sepertinya akan terjadi hal besar setelah ini kalau kita tidak segera menyelesaikannya."


Felicia terlihat mengangguk-angguk paham. "Aku akan melihat situasi dan kondisinya di dalam sana dulu," ucap Felicia berlalu pergi menuju ruangan x tersebut.


Gadis itu berjalan ke arah pintu, dan membukanya perlahan.


Ketika Felicia tiba, dia melihat seorang pria yang sangat Familiar, wajahnya tampan, kulitnya putih bersinar, matanya tajam dengan rahang kokoh sempurna, sungguh mahluk tuhan yang sempurna.


Pria tampan itu terlihat sedang menarik pria yang berlumuran darah di bagian wajahnya.


"Tolong lepaskan dia, Alex, jangan pukul lagi, kamu sudah memukuli dia sampai babak belur seperti ini, lepaskan lah dia!" seru seorang gadis menangis tersedu menahan kaki pria yang dia panggil Alex itu untuk melepaskan pria yang sudah terkapar lemas.

__ADS_1


Alex tidak mendengarkan teriakan gadis yang menangis histeris tersebut. Pria itu tetap tidak menghiraukan dan masih memegang kerah baju pria yang sudah tidak berdaya itu.


Felicia masih mengamati dengan diam apa yang akan di lakukan oleh Alex sambil bersedekap tangan.


Alex m tersenyum sinis sambil mengambil botol minuman yang berada di atas meja, memandangnya sebentar dan kemudian menoleh menatap tajam ke arah pria asing itu.


Sorot mata Alex benar-benar menyiratkan kemarahan besar, sedangkan pria itu juga memandang Alex dengan mata yang sudah memerah akibat bogeman dari pria itu.


"Kamu lihat botol anggur ini?" tanya Alex tersenyum dan memutar-mutar botol itu di depan wajahnya.


Pria itu terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya, sepertinya Alex telah memukulnya parah sampai bagian dalam tubuh remuk semua.


Felicia tidak terkejut karena dia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini.


Ketika Alex mengangkat botol anggur itu dan ingin memukulkannya ke kepala pria tersebut, Felicia datang menghentikannya.


"Hentikan tuan, jangan memukulnya lagi," ucap Felicia.


Alex menoleh ke arah suara wanita di belakangnya, seorang wanita yang memakai pakaian serba hitam dan wajahnya tidak menarik sama sekali.


"Oh ayolah, aku hanya ingin mengajaknya minum saja." Ucap Alex sambil menatap wajah Felicia yang terlihat jelek itu.


"Tuan, kenapa anda rela melakukan hal yang akan merugikan diri anda sendiri? lihatlah gadis itu?" Alex menatap sang gadis yang masih menangis sambil bersimpuh.


"Dia itu tidak cantik dan tidak menarik sama sekali, apakah hanya karena anda dan pria ini memperebutkan seorang gadis biasa sampai rela berkelahi? sepertinya anda tidak perlu masuk penjara untuk gadis seperti itu." Ucap Felicia.


Alex masih menatap gadis yang menangis itu dengan tatapan yang sulit di artikan kemudian beralih menoleh ke arah Felicia.


"Kamu tahu tuan, aku mengerti tentang wanita dan seleraku sangat bagus dalam hal memilih, jadi aku paham mana wanita yang memiliki nilai tinggi itu yang seperti apa, jadi dia bukanlah gadis yang spesial." Lanjut Felicia.


"Maksudmu?"


"Ya, anda tidak perlu merebutkan wanita yang tidak cantik seperti ini, karena dia bukanlah apa-apa." Jawab Felicia menjelaskan penuh penekanan


Tidak peduli dengan wanita yang masih terisak di samping pria yang sudah lemas itu.


Alex masih menatap Felicia dan kali ini dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Eehmm, sepertinya selera mu memang bagus." Ucap Alex.

__ADS_1


Akhirnya pria itu menuruti perkataan Felicia dan melepaskan pria yang sudah sekarat dan gadis itu.


"Kalian berdua, cepat pergi dari hadapan ku sekarang juga!" Seru Alex kepada kedua orang itu.


Gadis itu akhirnya memapah pria yang telah di pukuli oleh Alex untuk segera pergi dari tempat tersebut. Meskipun dalam hati si gadis perkataan Felicia tadi benar-benar mengejeknya tetapi dia merasa harus berterima kasih.


Felicia merasa lega akhirnya dia dapat membujuk Alex dan berhasil meredamkan perkelahian di bar ini. Alex mendekati Felicia dengan senyuman manis.


"Nona, apakah anda mau minum bersamaku?" Tanya Alex. Felicia menggeleng.


"Maaf tuan, bukannya saya menolak, tetapi saat ini saya sedang bekerja, jadi saya tidak bisa menerima tawaran anda." Jawab Felicia sopan.


"Sangat di sayangkan sekali." Alex pura-pura memasang wajah kecewa.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan." Alex tidak merespon. Sebenarnya pria itu masih ingin mengobrol dengan Felicia karena gadis itu menarik perhatiannya.


Kemudian setelah Felicia berpamitan pada Alex dia segera keluar dari ruangan itu karena harus bekerja kembali.


Ketika Felicia sudah keluar, Alex bertanya kepada bawahan di sebelahnya.


"Siapa dia?"


"Dia adalah salah satu pengawal di bar ini tuan, namanya Felicia, eehmm sebenarnya dia sangat cantik, tapi ketika bekerja Felicia akan berpenampilan jelek seperti tadi." Jawab pengawal nya itu.


Alex terlihat sedikit terkejut, hal itu semakin membuat nya penasaran terhadap gadis yang bernama Felicia ini.


"Jadi apa benar yang kamu katakan bahwa sebenarnya gadis itu sengaja berdandan jelek?" Tanya Alex penasaran.


Pengawal itu terlihat mengangguk. "Iya tuan." Jawab pengawal Alex.


Alex tersenyum simpul membuat bawahannya menatap dengan pandangan tidak percaya. "Menarik." Gumam Alex.


Bersambung.


Hai akak reader semuanya 🥰


Bagaimana kabarnya hari ini?


othor mau kasih kabar gembira untuk semuanya kalau bisa dapat bunga dan kopi yang banyak, othor mau maraton up nya sampai jam dua belas malam nanti 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2