
Happy Reading 😊
Veronica mendatangi Mamanya yang terlihat mengobrol dengan seorang wanita yang sangat dia kenal.
"Ma, ayo cepat masuk! Mama kenapa di sini!" lirih Veronica melirik ke arah Jane.
"Veronica, Mama hanya ingin minta maaf pada Jane," jawab Alice.
"Oke, sekarang waktunya kita kembali ke dalam, kalau Mama mengobrol di sini bisa-bisa kita di pecat," bisik Veronica kemudian menarik lengan Alice untuk masuk kembali ke dapur.
Veronica menghempaskan lengan Alice dan menatap tajam ke arahnya sang Mama.
"Mama apa-apaan, sih! kenapa Mama meminta maaf pada wanita itu? apa Mama sudah lupa siapa dia? kenapa Mama menjatuhkan harga diri Mama di depan Jane!! dia bisa menghina kita kembali, Ma!!"
Alice menggeleng dan tersenyum lembut menatap putrinya. "Harga diri Mama sudah jatuh sebelum Mama meminta maaf kepada Jane, dan Mama kini menyesal, Mama sudah banyak menyakiti Jane dan Felicia, dan Jane tidak akan pernah menghina Mama seperti yang Mama lakukan padanya dulu. Vero, mulai saat ini kita harus berubah menata masa depan, Mama tidak ingin kamu berakhir menyedihkan, semua ini salah Mama, maafkan Mama, nak!" Alice memeluk putrinya sambil berurai air mata.
Dia tahu kalau karma itu pasti ada dan kini ia telah mendapatkan karmanya.
####
Jane menghela napas kasar, setelah pertemuannya dengan Alice beberapa hari yang lalu, ia merasa sedikit lega tetapi ada kecemasan di dalam hatinya.
Entah kecemasan apa yang menghinggapinya saat ini, yang jelas perasaannya menjadi tidak menentu. Dia mencemaskan Alice dan Veronica, Jane merasa bahwa sebenarnya Alice juga korban keegoisan seorang Brandon.
Selama ini ia diam saja karena Jane bisa merasakan sakit hatinya Alice, di khianati dan di bohongi oleh suaminya sendiri. Jane paham bagaimana posisi Alice saat itu.
Tapi setelah mengetahui fakta sekarang bahwa setelah perceraian nya dengan Brandon, Alice terlihat semakin kurus, kerutan di wajahnya terlihat semakin nampak, wajah mulus yang selalu terawat awet muda, kini sudah semakin terlihat menua.
Kasihan! itulah yang di rasakan Jane, semuanya bukan salah Alice, Veronica maupun dirinya. Semua permasalahan dalam hidup mereka karena ulah Brandon. Seharusnya dialah yang di hukum. Bukan Jane maupun Alice.
__ADS_1
"Jane, kita akan mendapatkan banyak pesanan besok, apakah kamu siap untuk melaunching resep terbarumu?" tanya Regina membuat Jane sadar akan lamunannya.
"Tentu saja, Re. Aku siap, mudah-mudahan resep baruku ini banyak yang suka, tapi kalau menurutku sebaiknya kita bisa mempromosikan pada para pelanggan kita terlebih dahulu, kalau memang menurut mereka bagus, kita bisa mulai memasarkannya," jawab Jane tersenyum tipis.
Regina mengangguk, dia sangat antusias mengelola bisnis ini bersama besannya.
Jane dan Regina membuka usaha baru, sebenarnya ini adalah usaha yang di rintis oleh Jane dan di beri modal oleh Regina.
Regina ingin memberikan modal itu cuma-cuma tetapi Jane menolak dan akan tetap membagi hasil dari usaha toko rotinya. Maka dari itu Regina ikut andil karena merasa tidak enak hati kalau hanya mendapatkan hasilnya saja.
Semenjak beberapa bulan lalu Jane tidak lagi tinggal bersama dengan Regina di rumahnya, dia memilih menyewa rumah yang berada di kawasan pusat kota yang sedikit ramai.
Jane membuka usaha toko roti di rumahnya yang memang letaknya strategis, dengan bekal resep roti yang dulu pernah di ajarkan oleh Mamanya, Jane berhasil membuka toko roti yang lumayan terkenal enak dan nagih.
"Re, bagaimana kalau Alice dan Veronica aku suruh bekerja di toko roti ku ini?" tanya Jane kepada sahabatnya itu.
"Bukankah mereka sudah bekerja di restoran? Lagian kita gak lagi kekurangan karyawan kok, Jane. Sebaiknya sekarang kita fokus untuk mencoba resep baru yang kemarin kamu katakan itu," ucap Regina mengalihkan perhatian.
Jane mengangguk. "Baiklah, aku akan memberikan testinya padamu, kamu coba dulu, Re," Jane berjalan ke dalam dan mengambil roti kering dari dalam kulkas.
"Di coba dulu, Re, kalau menurutmu sudah masuk di lidah orang kaya seperti mu, tentu saja itu artinya resep itu sudah layak dipasarkan," Regina melotot mendengar ucapan sahabatnya.
"Jangan bawa-bawa nama orang kaya, kita sama Jane, sekarang kamu juga kaya karena memang dulunya kamu berasal dari keluarga yang lumayan terkenal, ups, maaf! aku tidak bermaksud!"
"Tidak apa-apa, Re. Aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi, keluarga yang dulu membesarkan ku sudah tidak pernah menganggap ku, jadi aku tidak masalah," jawab Jane tersenyum.
"Emmm, ini enak sekali!! pas banget di lidah, wah kalau resep roti ini launching, kamu bakalan jadi terkenal, Jane! aku mau lagi!" seru Regina heboh setelah menggigit roti buatan Jane.
"Oke, aku ambilkan lagi, kalau begitu aku siap untuk membuat roti ini kalau memang sudah cocok di lidah kami," Jane terkekeh geli melihat ekspresi wajah Regina yang langsung melotot ke arahnya.
__ADS_1
###
Dua tahun kemudian.
Kabar duka menyelimuti keluarga Morgan dan Felicia. Kakek mereka yang tidak lain Ayah dari Felix meninggal dunia. Sedangkan Felix mendekam di penjara akibat ulahnya yang menabrak seseorang hingga meninggal dunia akibat menyetir dengan kondisi yang sedang mabuk.
Mungkin karena hal itu juga membuat kondisi sang Ayah drop dan membuat kesehatannya semakin menurun. Setelah Morgan menarik semua fasilitas Felix, pria itu bukannya bertaubat dan memperbaiki kesalahannya tetapi malah semakin menjadi-jadi.
Setelah pemakaman sang kakek, Felicia berencana menginap di rumah Ibunya, dia sudah lama sekali tidak pernah menginap, terakhir kali mungkin saat Baby Zidane berusia satu tahun.
Sekarang Felicia, Morgan dan Baby Zidane tang sudah berusia dua tahun itu sedang bermain di rumah Oma Jane.
"Bu, apakah kue yang tadi masih ada?" tanya Felicia pada ibunya.
"Tadi sudah kalian makan, itu kue yang terakhir," jawab Jane. Kini wanita tangguh itu sudah memiliki toko rotinya sendiri. Sudah tidak berjualan di rumahnya.
Selama dua tahun ini dia berhasil mencapai kesuksesan yang luar biasa. Felicia dan Morgan merasa senang melihat Ibu mereka bisa bangkit seperti itu.
"Tadi yang makan Morgan dan Zidane, mereka sangat menyukainya," ucap Felicia.
"Baiklah, nanti ibu ambilkan di toko, ya? sekalian mau pergi bersama Om Ferdinand."
"Eghem,, cie, cie, yang mau kencan," goda Felicia membuat Jane mencubit hidung putrinya.
Morgan datang sambil menggendong Zidane yang baru saja bermain di taman belakang.
"Wah, bakalan ada yang mau nikah bulan depan, baby Zidane, mau dapat Opa loh!" ucap Morgan membuat Jane semakin merona.
Bersambung.
__ADS_1