
Ada yang kangen sama kisah Morgan dan Felicia, katanya ceritanya nanggung banget, iya sih nanggung 😅🙏 maafkan othor yang suka menggantungkan cerita. Aslinya udah tamat ya, tapi aku udah janji mau nulis beberapa chapter lagi.
Happy Reading.
Morgan masih setia menggerakkan tubuhnya di atas sang istri, Felicia hanya bisa menahan gejolak rasa yang sudah diambang pintu surga.
Morgan semakin mempercepat tempo gerakannya kala Felicia tidak berhenti menyebutkan namanya, hal itu membuat Morgan semakin semangat dan hasratnya benar-benar baik.
"Morgan, come on!" desah Felicia.
"I'm coming, Felicia!"
Akhirnya dengan gerakan yang lebih cepat Morgan kembali menaburkan benih di ladang subur milik sang istri, berharap bahwa kali ini akan hadir calon baby cantik di antara kelengkapan keluarga mereka.
"Terima kasih, sayang, aku sangat mencintaimu," bisik Morgan yang sudah ambruk di samping sang istri sambil mencium pipinya.
Tidak lupa tangan Morgan juga masih asyik bermain di dada Felicia.
"Hmm, aku ngantuk!" jawab Felicia sambil memejamkan matanya. Menelusup kan wajahnya pada dada bidang sang suami.
"Tidurlah, aku juga mau tidur, sayang," ucap Morgan semakin mengeratkan pelukannya.
"Mama!! Papa!! Huaaaa!!!" Morgan dan Felicia terkejut ketika mendengar teriakan dari sang putra yang kini sudah berusaha lima tahun.
Morgan menggedor kamar utama di mana Papa dan Mamanya baru saja memejamkan matanya bahkan hampir saja terlelap.
"Tuan muda, jangan mengganggu Mama dan Papa, ini sudah malam, sebaiknya tuan muda tidur lagi," bujuk baby sitter Zidane.
"Aku mau tidur sama Mama! aku mau Mama!" rengek Zidane sambil menangis.
Felicia yang mendengar putranya memanggilnya langsung bergegas bangun dan segera mencari piyamanya.
"Zidane kenapa, sayang?" tanya Morgan yang ikut duduk bersandar.
"Sepertinya rewel lagi, pasti dia minta di temani tidurnya, aku keluar dulu," Felicia mengecup bibir Morgan sekilas, kemudian berjalan ke arah pintu.
Ceklek!
"Sayang, kenapa nangis?" Felicia langsung mengambil Zidane yang sedang di gendong oleh sang baby sitter.
"Tadi tuan muda terbangun, Nyonya, terus lari kesini sambil nangis, katanya mau tidur sama Nyonya dan Tuan." Jawab Wanita yang masih muda itu.
"Oh, makasih Mey, kamu balik ke kamar aja, biar Zidane tidur sama saya," ucap Felicia sambil mengelus punggung sang putra yang sudah berhenti menangis dan menelungkupkan wajahnya pada bahu sang Mama.
"Baik, Nyonya, permisi," Mey menunduk, kemudian pergi berjalan menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Zidane.
"Sayang, kenapa jagoan nangis?" Felicia langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Morgan saat suaminya itu menyusulnya keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
"Dia baru terlelap, sebaiknya kita tidur di kamarnya aja," ucap Felicia lirih.
"Kenapa gak di kamar kita?"
"Berantakan, masih ada bekas kegiatan panas kita, aku gak mau Zidane tidur di sana," Morgan mengangguk, kemudian mengambil alih tubuh mungil sang putra yang sangat mirip dengannya itu.
"Ayo kita tidur bertiga di kamar Zidane," ucap Morgan merangkul bahu Felicia dengan tangan sebelah yang bebas.
###
Beberapa hari kemudian.
"Ma, aku mendapatkan kabar bahwa Veronica di tangkap polisi karena terbukti mengkonsumsi obat terlarang," ucap Morgan yang baru saja pulang.
"Benarkah? Veronica masuk penjara?" Felicia terkejut mendengar berita tersebut.
Saudara tirinya itu memang semakin menjadi kelakuannya semenjak Papa Brandon meninggal. Padahal Alice sudah memperingatkan putrinya itu untuk berubah, terapi Veronika tetap saja tidak mau mendengarkan Mamanya.
"Iya sayang, akhirnya berakhir sudah peran Veronica sampai di sini, dia memang wanita yang licik, makanya aku juga turut andil dalam menjebloskan dia ke penjara!" Felicia memandang wajah sang suami.
"Memangnya Papa nglakuin apa?" Morgan mendekat dan menarik pinggang Felicia.
"Aku menyuruh anak buahku untuk terus membuntuti nya dan mencari tahu dengan siapa Veronica bekerja selama ini, ternyata dia bekerja dengan salah satu bandar terbesar di kota Florida," jawab Morgan memeluk istrinya.
"Yang penting sekarang kita bisa merasa tenang setelah Veronica masuk jeruji besi," bisik Morgan.
Felicia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan segala isi diperutnya.
Woek! woek!
Morgan terlihat panik dan segera menghampiri sang istri.
"Sayang, apa kamu sedang sakit?" tanya Morgan khawatir.
Felicia membasuh wajahnya dengan air kemudian mengelapnya dengan handuk.
"Sepertinya kecurigaan ku benar, Pa!" ucap Felicia tersenyum.
"Curiga apa, Ma?" Morgan bingung.
"Sepertinya aku hamil!"
###
12 tahun kemudian.
Seorang remaja tampan berjalan dengan gaya cool dan angkuh melewati beberapa remaja wanita yang berteriak histeris memanggil namanya.
__ADS_1
"Zidane!! tampan sekali!"
"Aku padamu, Zidane!!"
"Lirik aku walau sebentar, donk!"
Yah, remaja tampan itu adalah Zidane, dengan gayanya yang begitu dingin dengan wajah datarnya, semakin membuat cowok itu mempesona.
Zidane tidak pernah merasa senang digilai seperti itu, dia tahu bahwa para gadis itu memujanya karena tampan dan kaya, bagaimana kalau dia hanya anak dari keluarga miskin? apakah mereka akan tetap memuja Zidane?
Hanya satu gadis yang tidak pernah tertarik padanya, tetapi bagi Zidane gadis itu benar-benar menarik hatinya.
"Valeria!" seru Zidane saat melihat Valeria yang nyelonong begitu saja tanpa menoleh ke arahnya.
Gadis cantik itu menghentikan langkahnya, menoleh mendapati Zidane yang kini berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar.
"Ada apa?" tanya Valeria tidak berminat.
"Hari ini kamu cantik, dan rasa cintaku semakin tumbuh," jawab Zidane dengan cengiran di bibirnya.
Valeria menghembuskan nafasnya perlahan. Sebenarnya dia juga menyukai Zidane, tapi Valeria tidak mau berurusan dengan para fans setia dan fanatik cowok tampan itu.
"Zidane, sebaiknya kamu berhenti mengganggu ku, aku gak mau kalau.. emm!" Zidane menutup mulut Valeria dengan telapak tangannya.
"Ikut aku, kita bisa bebas memadu kasih di sana!" Zidane menarik tangan Valeria dan mengajaknya ke sebuah ruangan khusus.
Ya, basecamp Zidane dan teman-temannya berkumpul.
"Aku tahu kalau kamu juga cinta sama aku, Vale, tapi kamu selalu mengelak perasaan mu karena para cewek di luar sana, kan?" ucap Zidane.
Valeria menghela nafasnya. "Ya, kamu benar!" sepertinya kali Valeria harus menyerah, dia juga tidak ingin menyembunyikan perasaannya lagi, Valeria ingin bahagia bersama dengan pria yang dicintainya.
Zidane melebarkan matanya ketika mendengar ucapan Valeria. "Benarkah, Vale kamu cinta sama aku?" Valeria mengangguk dan tersenyum.
"Akhirnya cintaku terbalas!!" seru Zidane langsung memeluk Valeria.
"Aku juga mencintaimu, Zidane!" jawab Valeria.
Zidane langsung mencium bibir Valeria, bibir yang selama ini hanya bisa lihat dan bayangkan saja, ternyata sekarang dia bisa merasakan bibir itu.
"Aku harap kita bisa bersama selamanya, tanpa ada halangan dan rintangan, aku ingin bisa memiliki mu, sayang!"
🥰🥰🥰🥰
Z&V
Nanti kisah Zidane sama Valeria ada di Novel othor yang judulnya Kekasih Gelapku
__ADS_1