
Happy Reading ๐
Sebenarnya ada apa, kenapa tiba pria itu tiba-tiba datang kesini??? batin Felicia.
Felicia masih penasaran kenapa Morgan bisa sampai datang menjenguk sang ibu. Dan apa yang telah di lakukan oleh pria tersebut sehingga ibunya sekarang benar-benar seperti orang yang sudah sehat dan sangat bersemangat.
Ketika Felicia masih sibuk dengan lamunannya, Jane melirik kotak bekal makanan di meja samping tempat tidur. Sepertinya putrinya itu baru saja memasak, karena memang sudah menjadi kebiasaan kalau Felicia baru saja gajian pasti putrinya itu akan masak besar dengan berbagai menu hidangan dan bervariasi. Sesekali menghamburkan sedikit uang untuk memanjakan lidah dan perut mereka.
"Apakah kamu masak untuk ibu, Nak?" tanya Jane menatap sang putri.
Felicia tersadar dari lamunannya tentang Morgan ketika ibunya memanggil. Gadis itu melangkah ke arah ibunya dengan senyum yang lebar.
"Feli kan hari ini gajian, bu, jadi Feli memasak beberapa makanan favorit kesukaan ibu, pasti ibu senang, kan?" jawab Felicia masih dengan senyuman di wajahnya.
Berharap bahwa ibunya bisa makan masakan yang enak dengan kepiawaiannya memasak. Felicia memasak makanan favorit Ibunya itu, walaupun hanya sebulan sekali ketika mendapatkan gaji yang lumayan besar, tapi bisa membuat hati ibunya senang adalah sebuah kebahagiaan sendiri untuk Felicia.
Jane menghela nafas. Raut wajahnya tidak berbinar seperti biasanya yang akan senang apabila Felicia memasakkan sesuatu yang spesial untuknya.
"Ibu tahu kamu pandai memasak dan makananmu selalu enak dan lezat, sayang bukan maksud ibu menolaknya ... Tapi hari ini ibu ingin sekali pergi berbelanja dan makan di luar, rasanya ibu sudah jenuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu Ibu harus berada di kamar terus, Feli mau ya? mengantarkan Ibu jalan-jalan?" tanya Jane menatap sang putri dengan tatapan memelas, memohon agar putrinya mau menerima permintaan dirinya.
"Tapi bagaimana dengan keadaan Ibu? kalau kita memutuskan untuk jalan-jalan, apakah ibu sudah cukup kuat?"
"Ibu sudah sehat kok, sudah kuat juga, makanya Ibu ingin keluar jalan-jalan sebentar," jawab Jane tersenyum lebar, bibirnya berwarna pink membuatnya terlihat semakin segar.
Sepertinya sang Ibu memang sangat ingin pergi ke luar hanya untuk sekedar menghirup udara yang berbeda dengan rumah sakit.
__ADS_1
"Baiklah, bu, kita akan jalan-jalan sesuai keinginan ibu," jawab Felicia membuat Jane berbinar.
Kemudian Jane mengambil cermin dan bedak yang ada di atas nakas. Kebiasaan Jane sejak dulu memang sangat suka berdandan, tapi setelah sakit dan harus diopname membuat Jane tidak menyentuh alat make up-nya.
Felicia diam saja melihat ibunya yang sedang membenarkan riasan di wajahnya itu.
"Kamu tahu Feli, Morgan itu ternyata sangat tampan, ya? Gagah dan menawan, dia juga sangat baik, aku tidak menyangka seorang CEO muda yang terkenal arogan itu memiliki hati yang lembut, selain tampan dan kaya dia juga sangat ramah, benar-benar pria yang sopan, apalagi saat bicara sama ibu, dia sangat menghormati ibu sebagai calon ibu mertuanya." Cerita Jane mengingat sosok Morgan. Felicia menatap sang Ibu dengan tatapan yang aneh.
"Ibu bisa melihat kalau dia itu adalah pria yang cocok untuk mu, Nak. Mudah-mudahan Morgan adalah jodohmu yang tepat, mendapatkan pria seperti Morgan itu susah loh, sangat jarang kita temui di luar sana seorang CEO terkenal, tampan dan kaya bisa sebaik ini dengan Ibu," Jane menceritakan Morgan dengan penuh semangat.
Berbeda dengan sang ibu, Felicia malah bergidik geli saat teringat perselingkuhan Morgan dengan seorang wanita di toilet malam itu di bar. Sepertinya apa yang di ceritakan sang Ibu tidaklah benar, buktinya kelakuan Morgan benar-benar tidak bermoral. Seorang pria bermartabat tapi berani memasukkan seorang wanita di dalam kamar mandi.
'Kalau saja ibu tahu sifat asli si Morgan itu, pasti ibu akan shock, dia itu pria yang suka main dengan banyak wanita, bukan pria sejati yang ada dalam pikiran ibu! huh dasar pria hidung belang.' Batin Felicia.
Dia tidak tega menceritakan tentang sosok Morgan yang di ketahui olehnya pada sang ibu yang begitu memuja Morgan, takutnya ibunya akan shock dan penyakitnya kambuh lagi.
"Nanti sia-sia donk, Feli masakin banyak untuk ibu tapi mubazdir karena tidak di makan." Felicia terlihat sedih.
Jane yang melihat hal itu menjadi tidak tega. Seperti Jane harus memberikan solusi agar sang putri tidak sedih.
"Sudah jangan kecewa, lebih baik kamu berikan makanan itu untuk makan siang Morgan calon suami mu, jadi kita akan pergi ke kantor nya untuk memberikannya pada Morgan." Ucap Jane memberi saran.
Felicia menggeleng tidak mau. "Bu, kenapa harus memberikan pada Morgan, kalau ibu tidak mau, Feli bisa memakannya sendiri kok." Tolak Felicia.
"Ayolah sayang, hanya mengantarkan saja." Jane mulai berpura-pura menyedihkan sambil mengeluarkan jurus puppy eyes-nya.
__ADS_1
Felicia menghela nafas ketika melihat sang ibu yang memohon nya seperti itu, ia tidak akan tega kalau ibunya sudah menampilkan raut wajah yang sedih, mau tidak mau Felicia harus setuju.
"Baiklah, bu.. ayo kita pergi." Ucap Felicia menggandeng lengan sang ibu yang sudah terlihat agak sehat itu dan berjalan keluar dari dalam kamar rawat.
Felicia meninggalkan rumah sakit dengan ibunya, dan membawa kotak bekal makanan dengan wajah masam dan pahit.
'Ya Tuhan, sabar-sabar Felicia.' Batin gadis tersebut.
Sebenarnya Felicia sangat keberatan jika dia harus bertemu dengan Morgan saat ini setelah mengingat perselingkuhan Morgan waktu itu.
Tapi demi sang ibu Felicia harus menurut. Dengan berat hati Felicia menghentikan sebuah taksi di depan rumah sakit. Mereka akhirnya pergi dengan menggunakan taksi ke kantor Sky Alvares Grup.
Di tengah perjalanan, Jane memandang penampilan Felicia dan menghela nafas, putrinya itu hanya memakai kaos warna hitam dan celana jeans, benar-benar mirip dengan seorang pria.
"Feli, kenapa penampilan mu masih seperti itu, kamu itu anak perempuan seharusnya berpakaian layaknya anak gadis," ucap Jane tidak suka melihat putrinya itu sedikit tomboi dengan penampilan yang menyerupai laki-laki.
"Bu, dari dulu pakaian Feli memang sudah seperti ini, lebih nyaman." Jawab Felicia.
Jane mendengus tidak suka mendengar ucapan putrinya. Apakah Felicia akan berpenampilan seperti itu saat akan bertemu dengan calon suaminya. Jane harus melakukan sesuatu.
"Pak, nanti kita berhenti di salon, ya?" Ucap Jane menyuruh sopir taksi itu.
"Baik Nyonya."
Felicia nampak bingung dengan apa yang di lakukan oleh ibunya.
__ADS_1
Bersambung.
Mana nih kopi dan bunganya ๐คง๐น๐นโโ